Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 21.5 ° C

Pembangunan Dam Dekat Kota Bandung Sangat Mendesak Dikerjakan

Tri Joko Her Riadi
ILUSTRASI air bersih.*/DOK PR
ILUSTRASI air bersih.*/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Pembangunan dam penampung air baru di dekat Kota Bandung sudah sangat medesak dikerjakan. Dibutuhkan kemauan politik yang kuat untuk mengeksekusi proyek yang sudah dikaji sejak lama ini.

Pakar Hidrologi Universitas Padjadajaran Bandung Chay Asdak menyatakan, krisis air bersih yang diderita warga Kota Bandung setiap kali musim kemarau tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Selain program jangka panjang berupa penghijauan kawasan hulu, pembangunan dam baru di lokasi dekat kota sudah sangat mendesak dilakukan.

“Mahalnya investasi tidak boleh jadi alasan. Pembangunan dam baru yang bisa menampung air hujan dalam jumlah cukup banyak ini harus direalisasikan. Semakin ditunda, semakin mahal biayanya,” tutur Chay, Selasa, 22 Oktober 2019 siang.

Menurut Chay, keberanian mengeksekusi proyek oleh pemerintah provinsi dan kota/kabupaten amat menentukan. Tanpa keberanian politik, ratusan ribu atau bahkan jutaan warga kota bakal terus tersandera oleh krisis air bersih di musim kemarau.

“Keberanian politik itulah yang akan membawa pemerintah pada solusi pembiayaan. Toh kajian sudah lama dibuat, tinggal dieksekusi,” ucapnya.

Sebelumnya Direktur Utama PDAM Tirta Wening Sonny Salimi mengonfirmasi gangguan pasokan air bersih yang berlangsung sejak September 2019 lalu. Gangguan serupa juga terjadi pada puncak kemarau tahun-tahun sebelumnya. Penyebab utama adalah anjloknya pasokan air baku dari situ Cileunca dan Cipanunjang yang berada di Kabupaten Bandung.

Sonny juga menyebut adanya kajian pembuatan dam penahan air baru di dekat Kota Bandung. Salah satu wilayah yang sudah dikaji adalah Baleendah. Untuk kawasan Gedebage, pemerintah dan PDAM belum melakukan kajian mendalam.

“Salah satu kendala utama pembangunan dam baru adalah besarnya investasi yang dibutuhkan,” tutur Sonny.

Selama ganggugan pasokan berlangsung, PDAM memberikan layanan bantuan air bersih. Warga dapat secara kolektif menghubungi PDAM dan meminta pasokan air bersih yang dikirimkan dengan truk tangki.

Perubahan Iklim

Chay Asdak menyatakan, bencana krisis air bersih masih akan menjadi ancaman utama warga, termasuk dunia, di tahun-tahun mendatang. Salah satu dampak yang terlihat adalah berubahnya siklus kemarau yang tidak mudah ditebak. Kemarau panjang membuat pemerintah kesulitan melakukan tindakan antisipatif.

“Jangan sampai Bandung menjadi kota yang rentan dengan bencana. Di musim hujan, air melimpah sampai banjir. Di musim kemarau, kekeringan. Ini kan bukti buruknya manajemen air kita,” tuturnya.

Riset tentang krisis air di Indonesia sudah dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam beberapa tahun terakhir. Proporsi luas wilayah krisi air di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan meningkat dari 6,0 persen pada 2000 menjadi 9.6 persen pada 2045. Kelangkaan ketersediaan air dibarengi dengan turunnnya mutu air secara signifikan.

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Heru Santosa menyebut perubahan iklim sebagai salah satu penyebab utama krisis air bersih. Peningkatan temperatur membuat lebih banyak air yang menguap ke udara. Salah satu wilayah yang diperkirakan bakal menjadi yang paling terdampak adalah pantai Utara Jawa dari Banten hingga Surabaya.***

Bagikan: