Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

57 Perupa Jawa Barat Unjuk Kabisa di BIJABA #1 Mosaic of Difference

Retno Heriyanto
KEPALA UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat  Erick Henriana, secara simbolis menyerahkan piagam kepada perupa Setiyoko Hadi Susanto dan Acep Zamzam Noor pada pembukaan BIJABA #1 : “Mosaic of Difference”, Senin 21 Oktober 2019 malam,  di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat.*/ RETNO HERIYANTO/PR
KEPALA UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat  Erick Henriana, secara simbolis menyerahkan piagam kepada perupa Setiyoko Hadi Susanto dan Acep Zamzam Noor pada pembukaan BIJABA #1 : “Mosaic of Difference”, Senin 21 Oktober 2019 malam,  di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat.*/ RETNO HERIYANTO/PR

BANDUNG,(PR).- Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat bersama 57 perupa Jawa Barat menggelar pameran karya seni rupa dan instalasi seni BIJABA# 1. Pameran digelar sebagai upaya memperoleh gambaran serta pemahaman praktik seni rupa Indonesia di wilayah Jawa Barat.

“Potensi perupa di Jawa Barat selama ini sudah demikian dikenal tidak hanya di daerahnya saja, tetapi juga ditingkat nasional, bahkan internasional. Karenanya untuk memancing peta pergerakan dari para pelaku seni rupa di Jawa Barat, kami Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat untuk pertama kalinya memberanikan diri menggelar Biennale Seni Rupa Jawa Barat untuk pertamakalinya atau disingkat BIJABA #1,” ujar Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat  Erick Henriana, dalam sambutannya mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Dedi Taufik yang berhalangan menghadiri pembukaan BIJABA #1 bertajuk Mosaic of Difference, Senin 21 Oktober 2019 malam,  di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat.

Dinamika seni rupa di wilayah Jawa Barat dan tanah air, dikatakan Erick sebagai andil dan kontribusi para perupa Jawa Barat. Melalui BIJABA #1 diharapkan keragaman dari kecenderungan ungkapan yang dipilih oleh para perupa di Jawa Barat dapat memberikan gambaran bagi peta pergerakan para seniman seni rupa.

“Semoga cita-cita para perupa di Jawa Barat untuk menyelenggarakan ajang pameran seni rupa dalam bentuk Biennale Seni Rupa seperti halnya Jakarta, Yogyakarta dan kota besar lainnya dapat dilakukan secara rutin dan berkesinambungan setiap dua tahun sekali. Lebih jauh, melalui BIJABA yang diselenggarakan untuk pertama kalinya ini pergerakan kekaryaan para perupa Jawa Barat dapat sejajar dengan para perupa nasional lainnya,” ujar Erick.

Sementara Diyanto, yang dipercaya untuk mengurasi dan menetapkan 57 seniman seni rupa dari ratusan perupa di Jawa Barat, mengaku mendapat tantangan serta tekanan psikolog sangat berat. “Pameran (BIJABA #1) ini merupakan artikulasi terhadap ruang dan daya hidup seniman, sekaligus dimensi yang melampaui ragam batasan fisik yang tidak lagi memerhatikan kepentingan berada di pusat atau pinggiran, di desa atau perkotaan. Yang penting di sini bagaimana seniman ada, praktik dan berkarya,” ujar Diyanto yang juga dipercaya sebagai kurator tetap seni rupa di UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat.

Diungkapkan Diyanto, BIJABA #1 merupakan perhelatan seni rupa yang berupaya merekam dan menyajikan karya serta praktik seni dalam perkembangan serta dinamika dalam lingkup terbatas Jawa Barat. Istilah BIJABA merupakan aktualisasi dari ZONA yang dipergunakan dalam perhelatan seni rupa Jawa Barat pada Agustus tahun 2016 yang diikuti 87 seniman dan dikunjungi 2.700 orang apresiator.

Melalui BIJABA #1 bertajuk “Mosaic of Difference” yang melibatkan 57 perupa dari kabupaten dan kota di Jawa Barat yang akan berlangsung dari tanggal 21 Oktober hingga 31 Oktober mendatang di Galeri Teh Taman Budaya Jawa Barat, menjadi langkah perintisan menuju pelaksanaan Biennale Seni Rupa Jawa Barat.

“Suatu peristiwa seni rupa yang sangat diimpikan dan dicita-citakan oleh para perupa Jawa Barat, dimana selama ini Jawa Barat masih tergolong tertinggal dibandingkan provinsi lain di Indonesia yang sudah memiliki perhelatan seni rupa secara berkala,” harap Diyanto, yang diamini sejumlah tokoh seni rupa lainnya.***

Bagikan: