Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Warga Minta Pengeboman Gunung Bohong Dihentikan Jika Tak Ada Amdal

Cecep Wijaya Sari
PROYEK Kereta Cepat Indonesia-China memunculkan polusi debu ke wilayah sekitar proyek.*/RIRIN NUR FEBRIANI/PR
PROYEK Kereta Cepat Indonesia-China memunculkan polusi debu ke wilayah sekitar proyek.*/RIRIN NUR FEBRIANI/PR

NGAMPRAH, (PR).- Warga RW 13 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, meminta pelaksana proyek kereta cepat Jakarta-Bandung melakukan kajian analisis dampak lingkungan terkait dengan pengeboman Gunung Bohong untuk pembuatan terowongan. Selama Amdal belum bisa ditunjukkan, mereka meminta agar aktivitas tersebut dihentikan karena membahayakan warga sekitar.

Hal itu teungkap dalam pertemuan perwakilan warga RW 13 dengan perwakilan PT Dahana dan Crec yang terkait dengan aktivitas peledakan di Gunung Bohong. Namun, warga menyayangkan karena tidak ada perwakilan dari PT Kereta Cepat Indonesia Cina yang datang pada pertemuan tersebut.

"Semua perwakilan yang datang dari proyek tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia, jadi kami cukup sulit juga berkomunikasi dengan mereka. Namun intinya, kami minta mereka melakukan kajian dan menunjukkan amdal," ujar Ketua RW 13 Desa Laksanamerkar Ahmad M Sutisna, Senin 21 Oktober 2019.

Menurut Ahmad, pertemuan serupa sebenarnya sudah digelar dua kali sebelumnya. Dan pertanyaan warga juga masih sama, yaitu terkait dengan kajian Amdal untuk proyek pembuatan terowongan di Gunung Bohong.

Namun, setelah tiga kali pertemuan, mereka tetap tidak bisa menunjukkan Amdal. "Kami tidak minta macam-macam, tidak minta ganti rugi atau apa. Yang kami minta, mereka melakukan kajian dan itu mereka tunjukkan pada kami," katanya.

Menurut Ahmad, kajian Amdal diperlukan untuk mengetahui dampak dari aktivitas pembuatan terowongan dengan cara pengeboman gunung yang lokasinya dekat perumahan warga. Apalagi, kabarnya aktivitas tersebut akan berlangsung selama tiga tahun dan terus mendekati permukiman warga.

"Kami khawatir jika aktivitas ini semakin dekat dengan rumah warga, itu membahayakan keselamatan kami. Sekarang saja yang baru tahap awal, dampaknya sudah dirasakan, yaitu banyak rumah warga yang retak-retak," ujarnya.

Ahmad menambahkan, meski terkendala komunikasi, pertemuan warga dengan perwakilan dari perusahaan yang terkait dengan aktivitas proyek kereta tersebut menemui kesepakatan. Yaitu, mereka menyetujui untuk menghentikan sementara aktivitas peledakan hingga kajian amdal selesai.

"Kalau pada faktanya, aktivitas pengeboman masih terjadi, berarti mereka berbohong. Itu nanti akan kami pertanyakan lagi dan kami harap nanti perwakilan dari KCIC juga hadir menemui warga," tuturnya.

Seperti diketahui, sejumlah rumah warga Kampung Tipar Silih Asih, RW 13, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat retak-retak, diduga akibat pengeboman di Gunung Bohong untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Masyarakat setempat resah dengan aktivitas pengeboman tersebut karena mengancam keselamatan mereka.***

Bagikan: