Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Tangkuban Parahu Kembali Normal

Dewiyatini
Suasana Gunung Tangkubanparahu, Kamis, 1 Agustus 2019.  Sempat tutup selama hampir sepekan setelah terjadi erupsi, aktivitas pariwisata di Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu mulai menggeliat kembali.*/HENDRO HUSODO/PR
Suasana Gunung Tangkubanparahu, Kamis, 1 Agustus 2019. Sempat tutup selama hampir sepekan setelah terjadi erupsi, aktivitas pariwisata di Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu mulai menggeliat kembali.*/HENDRO HUSODO/PR

BANDUNG, (PR).- Setelah lebih dari dua bulan dinyatakan berada pada level II atau status waspada, status Gunung Tangkuban Parahu dinyatakan kembali nomal atau level I pada Senin, 21 Oktober 2019.

Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kasbani menyebutkan berdasarkan pengamatan visual, erupsi freatik berupa letusan abu dan lumpur sudah tidak teramati dalam satu bulan terakhir. Aktivitas visual berupa hembusan gas/uap air dari dasar kawah aktif saat ini (Kawah Ratu) berwarna putih tipis.

"Pengamatan visual dan instrumental menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu berada pada pola penurunan," ujar Kasbani.

Kendati erupsi freatik sudah tidak teramati, tetapi perlu diwaspadai ancaman peningkatan konsentrasi gas-gas yang dapat membahayakan keselamatan jiwa yang masih mungkin terjadi di sekitar lubang kawah aktif saat ini.

Sedangkan, untuk pengamatan instrumental, kegempaan sejak 1 Oktober 2019 didominasi oleh gempa hembusan. Gempa-gempa vulkanik (low frequency, vulkanik dalam dan vulkanik dangkal, tremor) masih terekam dengan kecenderungan energi gempa terus menurun.

"Pengamatan deformasi melalui pengukuran jarak miring dengan EDM menunjukkan pola deflasi (pengempisan) pada tubuh Gunung Tangkuban Parahu, mengindikasikan saat ini tidak ada pergerakan magma ke permukaan," ujarnya.

Pengukuran konsentrasi gas vulkanik S02 dan H2S menunjukkan nilai di bawah ambang batas yang membahayakan. Pengukuran rasio gas H2S/S02 menunjukkan bahwa saat ini aktivitas lebih dominan berasal dari hidrothermal pada kedalaman dangkal.

Selain itu, Kasbani mengatakan dalam Level I (Normal) ini masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki direkomendasikan agar tidak turun ke dasar Kawah Ratu dan turun/mendekat ke kawah-kawah aktif lain Gunung Tangkuban Parahu.***

Bagikan: