Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 21.3 ° C

Lima Kecamatan di KBB Rawan Bencana Alam

Cecep Wijaya Sari
ILUSTRASI bencana alam.*/DOK. PR
ILUSTRASI bencana alam.*/DOK. PR

NGAMPRAH, (PR).- Lima kecamatan di Kabupaten Bandung Barat dinilai rawan terjadi bencana alam seperti longsor dan pergerakan tanah. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi tersebut terutama memasuki musim hujan ini.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat menunjukkan, lima kecamatan tersebut, yaitu Sindangkerta, Cipongkor, Cililin, Parongpong, dan Lembang. Lokasi daerah-daerah tersebut berada di kawasan perbukitan baik di wilayah selatan maupun utara Bandung Barat.

Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan pada BPBD Kabupaten Bandung Barat, Agus Rudianto mengatakan, kelima kecamatan tersebut memiliki potensi longsor yang tinggi, tetapi tak menutup kemungkinan longsor juga terjadi di 11 kecamatan lainnya. "Kalau melihat kondisi geografisnya, semua wilayah di Kabupaten Bandung Barat ini memang rawan longsor ketika musim hujan, kecuali wilayah Batujajar yang relatif landai," ujarnya, Minggu (20/10/2019).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kata Agus, BPBD Kabupaten Bandung Barat akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna meminimalisasi dampak terhadap masyarakat. Biasanya, saat musim hujan, petugas BPBD dan unsur kewilayahan disiagakan di lokasi yang rawan bencana dengan mendirikan posko siaga bencana.

Seperti diketahui, Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu daerah paling rawan bencana di Jawa Barat. Zona rawan bencana di antaranya terdapat di daerah utara, yakni Lembang, Cisarua, dan Parongpong yang berupa kawasan perbukitan yang rawan longsor. Di sekitarnya juga terdapat gunung api Tangkubanparahu dan Patahan Lembang yang berpotensi menyebabkan gempa.

Sementara di daerah selatan, seperti Cililn, Cipongkor, Gununghalu, dan Rongga juga berpotensi longsor karena daerahnya memiliki tingkat bahaya erosi tinggi. Di daerah ini juga terdapat patahan yang menyebabkan gempa.

Sebelumnya, BPBD Kabupaten Bandung Barat telah memasang alat intensity meter di sejumlah titik, sebagai upaya mengantisipasi jatuhnya korban akibat gempa Sesar Lembang. Alat pendeteksi dari Jepang itu dipasang di lima titik yang dilintasi Sesar Lembang sepanjang 29 kilometer, mulai dari Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung Barat di Kecamatan Ngamprah, Padalarang, Cisarua, Parongpong hingga Lembang.

"Alat itu merupakan pencatat getaran gempa, khususnya di titik yang paling dekat dengan lokasi Sesar Lembang. Nanti getaran gempa akan dicatat dalam satuan Modified Mercalli Intensity (MMI). Alat ini memiliki ukuran yang kecil dan menjadi alternatif kalau tak ada seismometer," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat Duddy Prabowo.***

Bagikan: