Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Cerah berawan, 26.6 ° C

Dampak Disrupsi Membuat Orang Gampang Saling Mencaci

Sarnapi
KEPALA Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) Jabar dan Banten, Uman Suherman, saat menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional "Peran dan Tantangan Bimbingan dan Konseling di Era Disrupsi" di aula Universitas Ma'soem, Jumat 18 Oktober 2019.*/SARNAPI/PR
KEPALA Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) Jabar dan Banten, Uman Suherman, saat menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional "Peran dan Tantangan Bimbingan dan Konseling di Era Disrupsi" di aula Universitas Ma'soem, Jumat 18 Oktober 2019.*/SARNAPI/PR

BANDUNG,(PR).- Adanya era disrupsi dengan kemudahan teknologi informasi ternyata berdampak juga kepada etika yang makin luntur. Perkataan kasar, saling mencaci maupun meriksak (bully) kini sangat marak.

"Era disrupsi berdampak sangat luas seperti fenomena PHK yang meningkat drastis," kata Kepala Lembaga Layanan Pendidikan dan Tinggi (LL-Dikti) Jabar dan Banten, Uman Suherman, dalam seminar internasional "Peran dan Tantangan Bimbingan dan Konseling di era Industri 4.0" di aula Universitas Ma'soem, Jumat 18 Oktober 2019.

Uman yang juga guru besar UPI Bandung menambahkan, dampak lainnya adalah masyarakat berpikir instan sebab adanya teknologi mempermudah semua urusan. "Dampak lainnya dengan kepakaran yang lemah. Kini semua orang termasuk anak kecil berani bicara layaknya seorang guru besar sebab mengambil pernyataan dari internet," ucapnya.

Hal yang mengkhawatirkan, kata Uman, era disrupsi juga ditandai dengan makin lunturnya etika kepada sesama. "Coba lihat di media sosial begitu banyak ucapan mencaci maki, merasa paling benar maupun melakukan perisakan (bully)," ujarnya.

Mengenai kehadiran guru bimbingan dan konseling (BK) di era disrupsi, Uman menyatakan, guru BK harus berubah sehingga tak lagi menjadi "polisi sekolah". "Guru BK juga harus melek teknologi sebab sekolah harus punya basis data lengkap mengenai siswa maupun guru. Kalau ada siswa yang memiliki masalah tinggal buka data," katanya.

Seminar internasional bekerja sama dengan Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia dibuka Pelaksana harian Universitas Ma'soem Tonton Ma'soem. Acara dihadiri pengurus Aptisi Jabar Ali Abdurrahman dan ratusan dosen serta mahasiswa.***
 

Bagikan: