Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 29.4 ° C

Pengangguran di Jabar 7,43 Persen, Disnaker Antisipasi Lonjakan Pengangguran

Ecep Sukirman
PENCARI kerja.*/DOK. PR
PENCARI kerja.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Meski saat ini angka pengangguran di Jawa Barat cenderung menurun, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat tetap mengantisipasi terjadinya lonjakan angka pengangguran. Hal itu didasari bertambahnya angka lulusan pendidikan di Jawa Barat dengan ketersediaan lapangan pekerjaan dan kondisi ekonomi saat ini yang mengalami perlambatan.

Kepala Disnakertrans Jawa Barat M. Ade Afriandi mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan angka pengangguran ini pihaknya menyiapkan mekanisme tertentu.

“Berdasarkan rilis dari BPS (Badan Pusat Statistik) Jawa Barat pada Agustus 2019, tingkat pengangguran di Jawa Barat ini pada posisi 7,43 persen dari semula 8,16 persen pada Februari 2019 dari jumlah angkatan kerja. Terjadi serapan angka tenaga kerja pada interval Februari hingga Agustus 2019,” ungkap Ade saat ditemui, Rabu, 16 Oktober 2019. 

Ade mengklaim, padahal Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan penurunan angka pengangguran pada Desember 2019 berada pada persentase 7,9 persen dari 8,16 persen dari total pengangguran di Jawa Barat mencapai 1,85 juta. Dengan penurunan angka pengangguran itu, lanjut Ade, Disnaker Jawa Barat tetap mengantisipasi terjadinya lonjakan angka pengangguran.

Antisipasi lonjakan tahun depan

Untuk mengantisipasi lonjakan pengangguran di tahun depan, Ade menjelaskan, pihaknya akan melakukan penguatan dari pemerintah daerah dalam hal menyiapkan calon tenaga kerja yang memiliki daya saing. Untuk membentuk calon tenaga kerja berdaya saing itu, pihaknya sejak beberapa waktu lalu melakukan penataan pelatihan yang diawali dari pra-rekrutmen.

“Tahun depan kita ada bonus demografi. Artinya bertambahnya usia produktif yang memerlukan lapangan pekerjaan. Artinya, meskipun sekarang ada penurunan pengangguran yang cukup menggembirakan, tetapi kita tidak bisa lengah karena jumlah yang akan masuk angkatan kerja sekarang juga akan bertambah,” ujar dia.

Pada tahap pra-rekrutmen itu, pihaknya membuka informasi kepada calon tenaga kerja beberapa peluang untuk mengikuti pelatihan ketenagakerjaan. Ke depannya, penyedia lapangan pekerjaan ini tidak terpaku pada ijazah, melainkan pada sertifikasi keahlian yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah dengan pihak swasta, baik berskala regional, nasional, maupun internasional.

“Para calon tenaga kerja yang sudah mengikuti pelatihan ini akan kami berikan sertifikat keahlian yang menyatakan bahwa calon tenaga kerja itu telah siap dengan kompetensinya. Sertifikasi keahlian ini yang harus kita dorong lebih besar ke depannya,” tutur dia.

Pelatihan konvensional yang saat ini masih dilakukan, dikatakan Ade, pada tahun 2020 mendatang harus dilakukan perubahan paradigma sesuai dengan lapangan pekerjaan yang dihadapi pada era industri 4.0. Dengan angka bonus demografi Jawa Barat saat ini, tentunya para pencari kerja ini tidak bisa ditampung sepenuhnya di Jawa Barat.

Tentunya para pencari kerja ini akan menyebar ke daerah lain yang membuka kesempatan kerja. Bahkan pihaknya juga mendorong para pencari kerja ke depannya ini memiliki kepercayaan diri untuk mencari kerja di negara lain berbekal kompetensi yang dimiliki.***

Bagikan: