Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Hujan petir singkat, 22 ° C

Warga Keluhkan Semrawutnya Dampak Proyek Perbaikan Infrastruktur Jalan

Handri Handriansyah
PENGENDARA epeda motor melintas di ruas Jalan Soreang-Cipatik di Desa Parungserab, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Senin, 14 Oktober 2019. Bekas galian proyek perbaikan drainase belum dirapihkan oleh kontraktor sehingga ditutup secara swadaya oleh warga sehingga tidak rapi.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
PENGENDARA epeda motor melintas di ruas Jalan Soreang-Cipatik di Desa Parungserab, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Senin, 14 Oktober 2019. Bekas galian proyek perbaikan drainase belum dirapihkan oleh kontraktor sehingga ditutup secara swadaya oleh warga sehingga tidak rapi.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

 

SOREANG, (PR).- Warga dan pengguna jalan di sekitar Soreang, Kabupaten Bandung, mengeluhkan semrawutnya kondisi trotoar dan bahu jalan akibat proyek perbaikan. Terlebih, sebagian besar proyek tidak dilengkapi sarana keamanan seperti garis polisi, rambu dan papan proyek.

Salah seorang warga Desa Parungserab, Kecamatan Soreang, Rustandi (43), mengatakan, tidak adanya rambu atau sarana keamanan terasa membahayakan bagi pengguna jalan. "Kebetulan di dekat rumah saya di ruas Jalan Soreang-Cipatik ada perbaikan drainase, galian di pinggir jalan tidak dilengkapi rambu," ujarnya saat ditemui pada Senin, 14 Oktober 2019. 

Menurut Rustandi, tidak sedikit pengguna jalan terutama pengedara sepeda motor yang tak menyadari adanya proyek perbaikan saat akan menyalip dari bahu jalan. Selain itu, tanah bekas galian pun ditumpuk di bahu jalan sehingga menyebabkan penyempitan.

"Sekarang galian sudah beres tetapi belum dirapihkan kembali. Penutupan galian dilakukan oleh warga secara swadaya sehingga masih terlihat tidak rata," kata Rustandi.

Selain itu, posisi penutup saluran drainase juga lebih tinggi dari badan jalan, sehingga mengganggu kenyamanan pengguna jalan. "Jadi seperti polisi tidur, saat melewati penutup drainase ada kendaraan mengalami goncangan," ucapnya.

Hal itu, kata Rustandi, juga dikhawatirkan akan berpengaruh di musim hujan. Soalnya posisi penutup saluran yang lebih tinggi, membuat air hujan akan menggenangi jalan dan perbaikan drainase terkesan akan sia-sia.

Di titik lain

Sementara itu berdasarkan pengamatan Pikiran Rakyat, kondisi serupa juga terjadi pada proyek perbaikan trotoar di sekitar Soreang. Tanpa rambu-rambu peringatan, keberadaan proyek tersebut mengganggu kenyamanan dan keamanan pejalan kaki.

"Ya mau bagaimana, saya tidak bisa jalan di trotoar karena belum selesai diperbaiki. Apalagi kalau malam dalam kondisi gelap, tak sedikit teman saya yang terjatuh karena tidak tahu sedang berjalan di atas trotoar yang belum rampung. Kalau saya sendiri sekarang sudah tahu, jadi terpaksa kalau jalan bergeser ke bahu jalan meskipun harus lebih berhati-hati terhadap kendaraan yang berlalu-lalang,"  kata warga Soreang lainnya, Awan (45).

Mengomentari masalah ini, Kepala Unit Pelaksana Teknis Sarana dan Prasarana wilayah Soreang pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Bandung Dede Sukarsa menegaskan, pihakya pun sudah menyampaikan keluhan tersebut kepada kontraktor yang mengerjakan proyek drainase dan trotoar di wilayah kerjanya. Bahkan ada salah satu kontraktor yang diberi surat teguran secara resmi karena pekerjaannya dinilai semrawut.

"Secara lisan sudah sering kami tegur sampai akhirnya pekan lalu kami mengeluarkan surat teguran resmi. Kami harap segera ada perbaikan dan kontraktor melengkapi pekerjaan proyek mereka dengan sarana penunjang sesuai ketentuan," kata Dede.

Surat yang dimaksud oleh Dede adalah surat Nomor 615/UPT-SRG/10/2019 yang dilayangkan kepada PT RUM yang mengerjakan proyek perbaikan trotoar. Surat tersebut berisi evaluasi pihak UPT Sarpras PU Soreang terhadap kinerja PT RUM.

Dede menilai metode kegiatan PT RUM tidak mengindahkan ketertiban sehingga terlihat semrawut. Tak hanya menggangu pemandangan, kondisi tersebut juga mengancam keselamatan pengguna jalan dan pejalan kaki.

Masih di surat yang sama, UPT Sarpras PU Soreang mengimbau PT RUM untuk segera melengkapi rambu-rambu pengaman di lokasi proyek mereka seperti rambu peringatan, patok pembatas zebra dan garis polisi Selain itu, bekas galian diminta untuk segera ditutup dengan box culvert dan udit sehingga tidak dibiarkan menganga dan membahayakan pejalan kaki.

Begitu pula dengan sisa bekas galian segera dibereskan, jangan sampai terus dibiarkan menumpuk di permukaan jalan utama. "Segera diangkut dan dibuang jauh-jauh," ucap Dede.***

Bagikan:

TERPOPULER