Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Waspadai Tantangan Pangan Masa Depan

Satira Yudatama
PETANI memanen padi varietas unggul Mira 2 di Kampung Cibungur, Lebak, Banten, Selasa, 29 Januari 2019.*/ANTARA
PETANI memanen padi varietas unggul Mira 2 di Kampung Cibungur, Lebak, Banten, Selasa, 29 Januari 2019.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Penggunaan pupuk dengan bahan baku gas alam tak bisa selama-lamanya. Kadar gas alam yang tersedia terus berkurang seiring penggunaan pupuk. Terdapat prakiraan, pupuk menjadi barang langka, bahkan hilang pada 2040.

Kelangkaan pupuk berisiko menimbulkan persoalan perihal pemenuhan kebutuhan pangan. Tanpa pupuk, produktivitas tanaman menurun drastis. Sementara itu, tren pertumbuhan populasi penduduk dunia kian bertambah.

Demikian kata Guru Besar Teknologi Pengolahan Biomassa dan Pangan Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung, Profesor Yazid Bindar saat menjadi pembicara pada diskusi panel dengan tema Peran Masjid Dalam Mempersiapkan Bangsa Menghadapi Tantangan ke Depan. Diskusi panel tersebut bagian dari rangkaian Seminar Ilmiah Masjid Meneguhkan Jatidiri Masjid Sebagai Pusat Peradaban, berlangsung di GSG dan GSS kompleks Masjid Salman ITB, Jalan Ganesa, Kota Bandung, Sabtu, 12 Oktober 2019. 

Yazid mencotohkan pengaruh keberadaan pupuk akan tingkat produktivitas padi. Saat menjumpai situasi tanpa pupuk, produktivitas padi yang semula 6 ton per hektare, menjadi 1,5 ton (per hektare). Pengaruh pupuk juga berlaku pada varian tanaman pangan lain.

"Tanpa penggunaan pupuk, produktivitas tanaman pangan tinggal sekitar sepertiga, atau seperempat daripadi biasanya (dengan penggunaan pupuk)," tutur Yazid. 

Pengaplikasian hasil penemuan fiksasi nitrogen Haber-Bosch dalam pembuatan pupuk, ucap Yazid, membuat produksi pangan meningkat. Terdapat kesan manusia berfoya-foya dalam menyikapi hal itu, berasumsi ketersediaan pangan dapat terus memenuhi tingkat kebutuhan. 

Yazid menyebutkan, andaikan masih terjumpa pada 2040,  pupuk bakal berharga sangat mahal. "Saat ini, subsidi untuk pupuk mencapai Rp 30 triliun. Bayangkan, berapa besar anggaran pemerintah untuk menyubsidi pupuk pada 2040?" ujar Yazid. 

Yazid mengingatkan berbagai pihak, terutama pemerintah segera menyiapkan langkah menghadapi kemungkinan pada masa mendatang. Menurut dia, berbagai pihak perlu segera mengambil langkah persiapan guna menanggulangi kemungkinan keberadaan pupuk langka, bahkan hilang. Persiapan memerlukan waktu panjang, mencapai 30 tahun. 

Beberapa bentuk langkah persiapan menanggulangi prakiraan persoalan mendatang, ucap Yazid,  di antaranya dengan diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi, serta mengubah kebiasaan beserta anggapan masyarakat yang terlalu memfavoritkan jenis pangan tertentu. Ekstensifikasi, dan mengubah kebiasaan masyarakat merupakan tantangan paling berat. 

Ekstensifikasi sulit, mengingatkan ketersediaan lahan kian terbatas. Upaya mengubah kebiasaan beserta anggapan masyarakat pun rumit, juga memerlukan waktu paling lama. Masyarakat menganggap beroleh asupan karbohidrat hanya dengan memakan nasi. Padahal, kandungan karbohidrat nasi terdapat pada sejumlah varian pangan, di antaranya, ubi jalar, singkong, sukun. 

"Perihal keberadaan pupuk nanti masih berupa perkiraan ilmuan. Seumpama betul-betul terjadi, generasi masa kini telah berupaya mencari solusi menanggulangi persoalan tersebut, bentuk pertanggungjawaban kepada (generasi) penerus. Gagasan perihal solusi belum tentu yang tebaik, tapi paling tidak sudah ada upaya penanggulangan," Yazid.
 
Pertemuan di masjid-masjid, menurut Yazid, turut termasuk dalam upaya membangun pemahaman masyarakat akan kandungan pangan. Selain itu, dia berpesan kepada masyarakat, beserta pemerintah mulai menghilangkan penilaian atas pihak yang tak memakan nasi sebagai kalangan miskin. 

Terdapat dua pembicara pada diskusi panel tersebut, yakni Vice President of Organization Development and Human Capital Strategy Kalla Group Syamril, dan Ketua Yayasan Odesa Indonesia Faiz Manshur. Syamril memaparkan tentang daya saing manusia di tengah kemunculan teknologi kecerdasaan buatan (artificial intelligence). Sementara itu, Faiz menyampaikan perihal peran civic Islam yang turut membangun peradaban di lingkungan masyarakat. 

Acara terselenggara atas kerja sama YPM Salman ITB dengan Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI). Badan Wakaf Salman ITB, Keluarga Mahasiswa Islam Pascarsarjana ITB, dan Studia Humanika turut mendukung penyelenggaraan acara. 

Sebelum diskusi panel, Ketua AMKI sekaligus Ketua Senat Akademik ITB Profesor Hermawan K Dipojono memaparkan perihal maksud, dan tujuan penyelenggaraan seminar. Dia berharap, seminar dapat menggugah semangat hadirin guna memiliki cita-cita tinggi, cara mencapai berbagai tujuan di dunia. 

Masyarakat, ucap Hermanwan, perlu mengantarkan Indonesia menjadi penjaga perdama dunia, sebagaimana amanah konstitusi, dan Alquran. "Sebelum sampai ke posisi penjaga perdamaian dunia, Indonesia perlu lebih dulu memiliki daya. Sumber kekuatan Indonesia terdapat pada masyarakat cerdas, dan sejahtera. Hal itu berawal dari cita-cita tinggi ," ucap Hermawan.***

Bagikan: