Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 25 ° C

Kongres Sunda Akan Bahas Pergantian Nama Provinsi Jawa Barat

Mochammad Iqbal Maulud
FOTO udara pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 5 September 2019.*/ANTARA
FOTO udara pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 5 September 2019.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Pergantian nama Provinsi Jawa Barat akan menjadi salah satu agenda acara 'Kongres Sunda' yang akan berlangsung pada 13 Desember 2019 mendatang. Seperti diketahui pada tanggal tersebut adalah hari perjuangan dari Ir H Djuanda dalam memperjuangkan Nusantara sebagai Negara kepulauan.

Tokoh masyarakat Jawa Barat, Ganjar Kurnia menyatakan agenda pergantian nama provinsi harus memiliki tujuan yang jelas. Semisal implikasi apa yang bisa didapatkan jika mengganti nama provinsi Jabar, menjadi Provinsi Sunda atau Pasundan.

"Jadi jangan sampai jika sudah diganti nama, tidak memiliki dampak yang signifikan. Itu harus menjadi catatan khusus bagi para tokoh Sunda, apakah ada implikasi pada bidang ekonomi, politik atau yang lainnya," kata Ganjar di sela-sela silaturahmi para tokoh Sunda di Gedung Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatra, Kota Bandung pada Jumat, 11 Oktober 2019.

Di tempat yang sama tokoh politik Sunda, Tjetje Hidayat Padmadinata menyampaikan perlu ada revolusi Budaya Sunda. Hal ini adalah demi menunjang perkembangan zaman yang terus berubah.

Meski demikian Tjetje amat menghargai ‎dengan pergerakan dari warga Sunda yang kini akhirnya mau bersatu. "Sebelumnya Orang Sunda itu sulit diajak untuk berkumpul dan kompromi. Namun kali ini orang Sunda berkumpul demi tujuan yang sama. Karenanya kelompok kerja harus segera dibentuk setelah acara ini," katanya.

Tjetje pun berharap dengan pembentukan Provinsi Sunda ini akan banyak Tokoh Sunda yang tampil di Indonesia. Meski seperti diketahui lanjut dia, orang Sunda itu terlalu baik jika untuk berpolitik. "Orang Jawa sejak dulu adalah turunan politisi sehingga banyak yang tampil. Tapi kami orang Sunda adalah kaum moralis," katanya.

Aji Syahputra Tokoh Sunda lainnya‎ mengingatkan perjuangan pada Kongres Sunda mendatang adalah adanya 'privilege' bagi warga Sunda itu sendiri. "Jangan sampai Bangsa Sunda tersisihkan di tempat tinggalnya sendiri," ucapnya.

Menurut Aji pada urusan tanah pun, di Jawa Barat itu sendiri kebanyakan telah dikuasai oleh para etnis Tionghoa. Sehingga seharusnya ada perlindungan khusus bagi tanah-tanah milik orang Sunda itu sendiri.

Hal senada disampaikan oleh Agung Suryamal. Menurut dia, investasi dari asing khususnya ‎dari Tionghoa harus mulai dibatasi. "Bisa diganti lah misalnya investasinya dari Korea," katanya.

Tokoh lainnya Avi Taufik Hidayat menyampaikan Kongres Sunda ini akan diadakan di Jalan Braga, Kota Bandung. Nantinya di sana akan ada pagelaran seni dan budaya Sunda. Termasuk juga ada kios-kios kuliner masakan khas Sunda.

Panitia Kongres Sunda ini yaitu Andri Perkasa Kartaprawira,‎ menyatakan Kongres Sunda ini sebagai bentuk penghargaan tokoh Sunda Ir H Djuanda Kartawijaya. Tanpa Ir H Djuanda menurutnya Indonesia tak akan seluas ini.

Sementara itu Adang Darojatun sebagai sesepuh Orang Sunda di Jabar merasa bangga akan ada pergerakan dari Orang Sunda untuk menatap masa depan lebih maju lagi. "Saya sebagai sesepuh berharap Sunda akan menjadi kekuatan global yang diperhitungkan," katanya.***

Bagikan: