Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Keranjingan Gawai, Anak Bisa Terkena Masalah Kejiwaan

Novianti Nurulliah
Ilustrasi/DOK PR
Ilustrasi/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Penggunaan gawai yang berlebihan menjadi pemicu masalah kejiwaan pada anak. Mengingat kemungkinan risiko anak menderita masalah kejiwaan, Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat beberapa tahun terakhir mulai menerima pasien anak..

dr Elly Marliyani, Direktur RSJ Provinsi Jawa Barat mengatakan, meski pihaknya belum mengantongi data pasti jumlah pasien anak ke RSJ, namun fenomena tersebut sudah terjadi. Bahkan berpotensi meningkat jika tidak ditangani. Yang pasti menurut prevalensi yang ada satu dari sepuluh orang mengalami ODMK (orang dengan masalah kejiwaan).

"Biasanya ODGJ maupun ODMK dialami remaja yang masuk pada umur 15 tahun. Namun dengan perkembangan zaman seperti sekarang, terdapat anak kecil yang bahkan sudah dimasukan ke rumah sakit jiwa. Di kami sudah banyak orang tua yang membawa anak mereka untuk direhabilitasi. Anak-anak ini ada yang berumur lima tahun ada juga yang delapan tahun," ujar dia dalam Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis 10 Oktober 2019.

Menurut dia, potensi ini semakin besar salah satunya dipengaruhi penggunaan gawai (gadget). Para orang tua sekarang sudah banyak yang memberikan gadget kepada anak mereka. Pemberian ini dilakukan awalnya agar anak bisa bermain tanpa menganggu kegiatan orangtua. Sayangnya penggunaan ini kemudian membuat anak menjadi kecanduan.

"Kalau (gadget) dipakai berlebihan dan menjadi ketergantungan bisa menganggu jiwa anak tersebut," ujar Elly.

Contohnya, lanjut dia, ketika pemadaman listrik pada Agustus lalu, ada anak kecil yang ngamuk gara-gara gawainya mati, sementara daya listrik saat itu mati.

Elly pun menegaskan, hal itu bisa dicegah dari awal. Gawai kembalikan pada fungsinya. "Apakah anak sudah harus gunakan gadget. Berikan gadget pada anak sesuai dengan usianya. Selain itu, aktifkan bermain dengan seusianya dan permainan tradisional, "ucap dia.

Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Jabar Arief Sutedjo mengatakan, saat ini anak-anak memiliki potensi tinggi menjadi sakit jiwa dengan kondisi sosial yang berkembang di masyarakat. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, orangtua dan guru di sekolah memiliki peran penting membangun sikap anak.***

 

Bagikan: