Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Teknologi Printer 3D Belum Bisa Menggantikan Pengecoran

Dewiyatini
ILUSTRASI.*/XTREEE
ILUSTRASI.*/XTREEE

BANDUNG, (PR).- Adanya printer 3 dimensi (3D) menjadi tantangan tersendiri di bidang pengecoran. Akan tetapi, kemudahan mencetak tidak dapat menggantikan kebutuhan akan industri pengecoran (foundry).

Menurut akademisi Universitas Indonesia, Deni Ferdian, printer 3D ini bisa jadi merupakan musuh dari pengecoran. Namun, ia menyebutkan saat ini yang menjadi tantangannya, printer 3D ini belum mampu memproduksi dalam skala banyak.

Deni juga mengatakan harganya tidak murah. Ia mencontohkan untuk printer 3D plastik saja di awal-awal harganya bisa mencapai ratusan juta. Kendati sekarang sudah jauh lebih murah.

“Sekarang ini, harganya sudah ada di kisaran Rp 5 jutaan. Sementara printer 3D untuk logam belum ada. Dan kalau ada, pastinya harganya mahal,” ucapnya dalam seminar teknologi Pengecoran Logam dan Kongres Hapli Menuju Foundry 4.0. di Hotel Grand Aquila Jalan Dr. Djundjunan, Rabu, 9 Oktober 2019.

Kendati demikian, Deni menyebutkan produk pengecoran masih tetap dipakai. Keberadaan printer 3D ini, dinilai Deni, belum bisa mengungguli teknologi pengecoran yang mampu memproduksi massal dan harga yang murah.

Akan tetapi ia menyebut, masih ada kendala terutama di sumber daya manusia yang diharapkan mampu menghadapi revolusi indsutri 4.0. Saat ini, kata Deni, ketertarikan mahasiswa untuk bekerja di bidang manufaktur masih rendah. “Dari 120 mahasiswa, tidak semuanya berniat bekerja di manufaktur. Padahal kita membutuhkan sumber daya manusia yang bisa sesuai kebutuhan,” ucapnya.

SEMINAR teknologi Pengecoran Logam dan Kongres Hapli Menuju Foundry 4.0. di Hotel Grand Aquila Jalan Dr. Djundjunan, Rabu, 9 Oktober 2019.*/DOK PR

Sebagai perguruan tinggi, lanjut Deni, sudah tugasnya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten. Salah satunya dengan menggabungkan kebutuhan industri dan kampus. 

Setali dengan Deni, akademisi dari Politeknik Manufaktur Bandung, Beny Bandanadjaja menyebutkan untuk menuju foundry 4.0, perguruan tinggi harus mampu mempersiapkan orang-orang yang mampu menghadapi robotisasi. Hal itu mengingat revolusi industri akan diisi dengan kerja yang lebih sederhana tapi dengan mengurangi pekerja.

Untuk itu, perguruan tinggi, kata Beny, sudah sejatinya mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki keterampilan. Selain itu, perguruan tinggi juga harus menyediakan model laboratorium yang disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Hal lainnya, dengan membekali mahasiswa digital learning. Bahkan sudah waktunya dapat menjalankan program e-learning.

“Selain itu, perguruan tinggi juga perlu mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri,” katanya. 

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Industri Logam Bukan Besi Kementrian Perindustrian, Sri Bimo Pratomo mengatakan masih banyak peluang yang dapat dimasuki di industri pengecoran. Bahkan pemerintah juga telah menyiapkan berbagai insentif bagi industri yang mau membuka program vokasi magang industri. 

“Industri/badan wajib pajak yang ingin laksanakan kegiatan vokasi akan dapatkan insentif termasuk industri yang akan adakan kegiatan litbang,” ujarnya.***

Bagikan: