Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Orang dengan Gangguan Jiwa Ibarat Fenomena Gunung Es

Ecep Sukirman
PETUGAS memotong kuku pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) korban pasung, beberapa waktu lalu.*/ANTARA
PETUGAS memotong kuku pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) korban pasung, beberapa waktu lalu.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Penderita Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ibarat fenomena gunung es. Jumlahnya tampak sedikit namun yang tidak terlihat lebih banyak lagi.

Berdasarkan data yang diperoleh pada 2017 dari kabupaten/kota di Jawa Barat, sebanyak 11.360 warga Jawa Barat menderita gangguan jiwa berat. Sedangkan pada 2018 sedikitnya terdata 16.714 penderita. Bahkan, masih ada ODGJ yang diperlakukan tidak layak dengan cara dipasung dan juga dikerangkeng.

Pemasungan ODGJ, masih segar dalam ingatan ada seorang penderita gangguan jiwa di Kampung Celak, Desa Mekarmulya, Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, berinisial AS (17), dibebaskan dari pemasungan. AS terpaksa dipasung keluarganya dengan alasan untuk keamanan, baik untuk masyarakat maupun penderita ODGJ itu sendiri. AS telah dipasung di dalam bangunan bambu di belakang rumah keluarganya sejak dua tahun yang lalu.

Hingga akhirnya, pada Juli 2019 Pemerintah Kabupaten Cianjur membebaskan AS dan langsung dibawa ke RSUD Pagelaran untuk mendapatkan perawatan intensif. Pembebasan ODGJ yang dipasung itu dipimpin langsung Plt. Bupati Cianjur Herman Suherman bersama para tokoh masyarakat setempat. Herman saat itu mengungkapkan, berdasarkan keterangan warga, AS sering mengamuk ketika kumat dan dikhawatirkan dapat melukai orang di sekitarnya.

Menanggapi fenomena pemasungan ODGJ di Jawa Barat ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Berli Hamdani membenarkan bahwa Jawa Barat belum terwujud bebas pemasungan di 2019. Padahal sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berdasarkan road map-nya telah mencanangkan pada 2018 tidak ada lagi pemasungan terhadap ODGJ di Jawa Barat. Namun akibat prevalensinya meningkat, lanjut Berli, akhirnya Yanbangsos Provinsi Jawa Barat diperbaharui menjadi 2020.

“Artinya, Jawa Barat belum terwujud bebas pemasungan di 2019. Padahal, road map awalnya Jawa Barat mencanangkan bebas pemasungan di 2018. Namun karena prevalensinya meningkat, maka diperbaharui menjadi 2020,” ujar Berli, Rabu, 9 Oktober 2019.

Selain akurasi data prevalensi ODGJ yang dipasung terus meningkat, dia menjelaskan, juga ada persoalan lain yang menjadi hambatan bebas pemasungan ini. Persoalan itu di antaranya keterbatasan petugas puskesmas yang bisa mengunjungi dari rumah ke rumah, juga jejaring rujukan RSUD yang bisa sebagai tempat rawat inap ODGJ di Jawa Barat.

“Hambatan lainnya di antaranya keterbatasan jumlah psikiater yang bertugas di luar rumah sakit jiwa, kemampuan RSJ Cisarua Jawa Barat yang menargetkan bebas pasung dalam satu tahun baru mencapai 80% dari target sebanyak 100 orang. Tentunya, kesadaran masyarakat terkait dengan gangguan jiwa masih stigma. Itu yang menjadi hambatan kami selama ini,” ungkap dia.

Untuk mereduksi tingkat prevalensi pemasungan ODGJ di Jawa Barat ini, pihaknya berupaya terus meningkatkan kapasitas pengelola di dinas kabupaten/kota dan puskesmas. Selain itu, program kesehatan jiwa berbasis masyarakat seperti pelatihan komunitas mental health nursing, pembentukan desa siaga sehat jiwa, dan adanya dana desa untuk menunjang pelayanan kesehatan jiwa terus ditingkatkan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.

Ditanya mengenai laporan data kasus pemasungan ODGJ di Jawa Barat yang diperoleh Dinkes Jawa Barat, Berli menjelaskan 10 daerah terbanyak kasus pemasungan ODGJ ini yakni di Kota bandung (26 kasus), Cianjur (26 kasus), Ciamis (22 kasus), Kabupaten Bandung (16 kasus), Indramayu (14 kasus), Kota Bogor (10 kasus), Purwakarta (8 kasus), Kabupaten Bekasi (5 kasus), Bandung Barat (3 kasus), dan Karawang (2 kasus).

“Untuk ODGJ yang dinyatakan sembuh oleh dokter setelah menjalani perawatan medis, kami selalu melakukan pemantauan kepada yang bersangkutan melalui sistem pemantauan atau surveilans ODGJ pasca rawat, baik oleh dokter maupun petugas. Ke depan, akan dilibatkan lebih banyak pihak untuk perawatan ODGJ selain psikiater, psikolog, fasilitas kesehatan, pembiayaan, sosial, dan lain-lain. Karena ada beberapa kasus ODGJ yang cenderung melakukan upaya bunuh diri,” tutur Berli.***

Bagikan: