Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Dinsos Jabar Siapkan Panti Rehabilitasi

Ecep Sukirman
PENDERITA gangguan jiwa.*/DEDEN IMAN/PR
PENDERITA gangguan jiwa.*/DEDEN IMAN/PR

BANDUNG, (PR).- Program pembebasan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dipasung di Jawa Barat terkendala dibutuhkannya sosialisasi masif ke masyarakat. Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat Dodo Suhendar menjelaskan, program Kemensos 2019 bebas pemasungan, berada di Dinas Kesehatan Jawa Barat yang saat itu melalui RSJ Cisarua.

Pada tahun 2018, kata Dodo, menargetkan 200 . Namun hal itu terkendala, di antaranya diperlukan sosialisasi masif kepada masyarakat.

“Masyarakat masih stigmanya masih kuat. Ada yang menganggap ini (ODGJ) harus diisolasi. Sehingga dengan temuan ini juga masih belum banyak. Ke depannya kita akan mencoba memadukan dengan pendamping PKH (program keluarga harapan) yang 40 persennya menyasar keluarga miskin, khawatirnya ada ODGJ. Kalau ditemukan ada ODGJ yang dipasung, itu harus dibebaskan karena salah satu kewajiban mereka adalah untuk menyehatkan KPM (keluarga penerima manfaat),” ucap Dodo, Rabu, 9 Oktober 2019.

Dinas kesehatan, kata Dodo, lebih cenderung kepada upaya penanganan medis ODGJ sedangkan jangkauan ke masyarakat masih terbatas. Demikian juga jika ada ODGJ yang hendak dibawa untuk ditangani secara medis, belum tentu diizinkan pihak keluarga.

“Jadi ini membutuhkan strategi kolaborasi (penanganan ODGJ). Sehingga sepertinya kemarin belum sesuai harapan karena ini banyak aspek sosiologinya masyarakat yang belum begitu menyadari pentingnya penanganan ODGJ melalui medis selain direhabilitasi sosial,” kata Dodo.

Ke depannya, pihaknya mengupayakan panti rehabilitasi ODGJ pada tahun 2020 agar pendataan dan penanganan ODGJ lebih memadai. Kalau sekarang, kata dia, penderita ODGJ ini masih ada tinggal di lingkungan masyarakat dan ada juga yang masih berkeliaran.

“Kalau ada masyarakat yang menemukan ODGJ berkeliaran, tentunya harus langsung dibawa ke RSJ yang nantinya akan dilakukan tindakan lanjutan penanganan ODGJ, apakah bersifat kedaruratan atau direhabilitasi medis,” kata dia.

Adapun penderita Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ibarat fenomena gunung es, tampak sedikit namun yang tidak terlihat lebih banyak lagi. Berdasarkan data yang diperoleh pada 2017 dari kabupaten/kota di Jawa Barat, sebanyak 11.360 warga Jawa Barat menderita gangguan jiwa berat. Sedangkan pada 2018 sedikitnya terdata 16.714 penderita. Bahkan, masih ada ODGJ yang diperlakukan tidak layak dengan cara dipasung dan juga dikerangkeng.***

Bagikan: