Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 19.1 ° C

97 Persen Disabilitas Tidak Terserap Pekerjaan Formal

Novianti Nurulliah
WORKSHOP disabilitas di Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mental, Sensorik Netra, Rungu Wicara, Tubuh Dinas Sosial Jabar, Jalan Amir Machmud, Cimahi, Rabu, 9 Oktober 2019.*/NOVIANTI NURULLIAH/PR
WORKSHOP disabilitas di Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mental, Sensorik Netra, Rungu Wicara, Tubuh Dinas Sosial Jabar, Jalan Amir Machmud, Cimahi, Rabu, 9 Oktober 2019.*/NOVIANTI NURULLIAH/PR

BANDUNG.(PR).- 97 persen penyandang disabilitas usia kerja tak tertampung dalam bidang pekerjaan formal seperti pegawai negeri sipil (PNS) maupun pegawai swasta. Saat ini jumlah kuota untuk penyandang disabilitas hanya satu persen untuk bekerja di perusahaan swasta, dua persen untuk menjadi PNS dari total kuota yang tersedia.

Kepala UPTD Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mental, Sensorik Netra, Rungu Wicara, Tubuh Dinas Sosial Jawa Barat Ferrus Syamach mengatakan, dengan terbatasnya peluang kerja untuk disabilitas tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pihaknya sendiri melakukan pembinaan dan memberikan keterampilan terhadap sedikitnya 96 orang penyandang disabilitas seperti tahun 2019 ini, selama delapan bulan mendapat pelatihan keterampilan dari panti tersebut.

Harapannya mereka bisa berwirausaha kembali ke masyarakat setelah mendapatkan pelatihan di panti tersebut. Pihaknya ingin peserta didik yang usai menjalani rehabilitasi tidak lupa dengan ilmunya.

"96 disabilitas dengan segala jenis disabilitas. Keterampilan yang diberikan banyak seperti menjahit, tata rias, elektronika, bengkel motor, bengkel mobil, sablon. Ada ekskul juga seperti olah pangan itu akan kembangkan," ujar dia pada workshop disabilitas di Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mental, Sensorik Netra, Rungu Wicara, Tubuh Dinas Sosial Jabar, Jalan Amir Machmud, Cimahi, Rabu, 9 Oktober 2019.

Selain itu, pihaknya pun bercita-cita untuk mendirikan minimarket yang menampung hasil kriya para penyandang disabilitas yang telah mereka bina selama ini. Mereka pun akan membina mereka dalam meningkatkan kualitas produknya.

"Sasaran saya mereka nanti tidak usah bekerja di orang lain tapi berwirausaha, latihan di sini sesuai dengan potensi mereka. Tempatnya belum kami punya, yang pasti ada rencana membuat mini market di sini untuk menampung dan sarana pemasaran produk mereka secara off line maupun online," tutur dia.

Selain itu, mereka pun mendirikan ruang pijat sehat dan ruang facial, Cafe Dis dan Taman Bacaan yang menjadi sarana penyaluran keterampilan para penyandang disabilitas. Pada kesempatan tersebut kawasan tersebut diresmikan langsung oleh Kepala Dinas Sosial Dodo Suhendar.

"Cafe Dis ini sebenernya mimpi anak-anak ingin belajar berjualan dengan tanpa dukungan dana dari mana bersama-sama bangun ini, orang luar bisa belanja di sini," tutur dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Jabar Dodo Suhendar mengatakan, salah satu tugas pemerintah untuk memberikan layanan sosial berupa rehabilitasi sosial dan pemberdayaan merupakan suatu kebutuhan. Dari data Dinsos saat ini terdapat 210 ribuan penyandang disabilitas fisik maupun sensoris tuna rungu  wicara dan kecerdasan atau disabilitas grahita bahkan disabilitas mental, termasuk gangguan jiwa. Dan hal itu merupakan tantangan.

"Dengan berbagai alasan masyarakat banyak yang menyembunyikan anggota keluarga, ada stigma. Tapi kalau kita saksikan di panti ini sungguh menggembirakan, anak-anak bisa berlatih dan saya salut pada instruktur dengan kesabarannya, dedikasi memberikan suati motivasi dan kemampuan sehingga disabilitas bisa berkarya," ujar dia.

Menurut dia, untuk menangani penyandang disabilitas agar memiliki kemapuan waktunya cukup panjang butuh pendekatan khsusus terutama motivasi emosi, dan kemudian keterampilan.

"Ini tantangan dan harapan ke depan institusi pemerintah, perguruan tinggi, dinas, badan, UPT dan perusahaan swasta bisa mengikutsertakan difabel ini jadi pegawai di tempat kerja sesuai dengan kemampuan. Kami berikan kesempatan dan fasilitasi supaya mereka mampu melakukan kerjaan sesuai kemampuan dan kita salurkan ke institusi yang pas. Dengan demikian masyarakat dan keluarga tidak pesimistis tapi optimistis berupaya untuk bisa melatih dan membimbing mereka," kata dia.***

Bagikan: