Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 27.8 ° C

Jelang Pilkades Serentak, Posek Ibun Buat Film Pendek tentang Hindari Politik Uang

Handri Handriansyah
null
null

MENGENAKAN peci dalam posisi miring, kaus singlet dan kain sarung dan sambil menggendong ayam kesayangannya, Eyang Arwah keluar dari rumah menuju warung kecil di halaman. Bukan untuk bekerja, namun ia justru meminta bantal kepada sang istri untuk kembali melanjutkan tidur di kursi kayu di depan warung.

Dalam tidurnya itu, Eyang Arwah bermimpi dirinya menjadi sosok yang tampan, gagah dan memiliki banyak uang. Semua itu, ia jadikan modal untuk mencalonkan diri menjadi seorang kepala desa.

Berkat uang yang ia hamburkan untuk meraih suara masyarakat, Eyang Arwah pun akhirnya terpilih menjadi kepala desa. Namun sayang, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat ia balas dengan korupsi dana desa.

Eyang Arwah pun kemudian diciduk oleh aparat Polsek Ibun untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun sebelum polisi menjebloskannya ke balik jeruji besi, Eyang Arwah keburu terbangun karena diciprati air oleh sang istri yang menyuruhnya untuk segera memberi makan ayam peliharaannya.

Cerita tersebut merupakan ringkasan dari sebuah film pendek dengan judul "Bermimpi Menjadi Kepala Desa", yang dibuat oleh jajaran Polsek Ibun yang masuk dalam wilayah Polres Bandung bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Ibun . Tak tanggung-tanggung, film itu disutradarai langsung oleh sang Kapolsek Inspektur Satu Carsono.

Dia mengaku, ide pembuatan film pendek berdurasi 10 menit 13 detik itu berawal dari deklarasi damai para calon kepala desa se-Kecamatan Ibun beberapa waktu lalu. "Intinya kami ingin suasana menjelang Pilkades Serentak di Kecamatan Ibun tetap kondusif, aman dan damai," ujarnya saat dihubungi Senin, 7 Oktober 2019.

Menurut Carsono, film tersebut dibuat dengan genre komedi agar bisa menghibur siapapun yang menontonnya. Namun di balik itu, ada sejumlah pesan moral terutama terkait budaya politik uang dan korupsi.

Politik uang, kata Carsono, bukan tidak mungkin terjadi di dunia nyata dalam berbagai ajang pemilihan. "Di Ibun sendiri politik uang jelang pilkades itu bagaikan kentut, ada suaranya tetapi tidak ada bentuknya," ujar Carsono.

Meskipun demikian, ia meyakini masyarakat sudah sangat pintar. Sekalipun mereka menerima rezeki yang datang tiba-tiba dari para calon, masyarakat tetap akan memilih sesuai dengan hati nurani.

Pada Intinya, Carsono menegaskan, film itu dibuat untuk menghindari jangan sampai para calon kepala desa se-Kabupaten Bandung dan bahkan di manapun, untuk tidak meniru apa yang dilakukan oleh Eyang Arwah. Soalnya jabatan apapun, termasuk kepala desa adalah amanah yang wajib ditunaikan sepenuhnya sebagai pengabdian.

Terkait proses pembuatan film itu sendiri, Carsono melansir ia dan sejumlah pihak lain hanya membutuhkan waktu satu hari untuk syuting. "Pemeran utama dan kru nya hanya sekitar empat orang, dibantu oleh masyarakat yang menjadi figuran. Semua tidak dibayar, hanya diberi makan saja," ucapnya.

Mengomentari film tersebut, anggota Komisi A DPRD Kabupaten Bandung Riki Ganesha mengaku tak bisa berhenti tertawa sepanjang durasi. Namun ia pun menangkap pesan moral yang tersirat di dalamnya.

"Setidaknya pesan yang saya tangkap adalah menjadi seorang pemimpin membutuhkan modal kapasitas, kapabilitas dan modal dasar sosial dan moral, tidak cukup hanya mimpi. Namun karakteristik calon pemimpin yang mengandalkan politik uang dan sosoknya gagah seperti dalam film itu sekarang memang diterima oleh masyarakat," kata Riki sambil tertawa.

Meskipun demikian, kata Riki, satu hal yang harus diingat oleh para calon pemimpin adalah menjalankan amanah dari masyarakat dengan sebaik mungkin. Biaya politik tidak boleh menjadi alasan bagi seorang pemimpin untuk lebih memikirkan caranya mengembalikan modal, soalnya memimpin masyarakat adalah pengabdian.***

Bagikan: