Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Sedikit awan, 20.1 ° C

Eco Camp Bandung , Menyemai Benih Kesadaran Ekologis

Tri Joko Her Riadi
SEJUMLAH warga membersihkan gulma sayuran di kebun Eco Camp yang bernaung di bawah Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup  di Jalan Pakar Kulon, Kota Bandung, Rabu, 18 September 2019. Kegiatan tersebut merupakan salah satu misi yayasan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup lalui edukasi, reservasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.*/ARIF HIDAYAH/PR
SEJUMLAH warga membersihkan gulma sayuran di kebun Eco Camp yang bernaung di bawah Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup di Jalan Pakar Kulon, Kota Bandung, Rabu, 18 September 2019. Kegiatan tersebut merupakan salah satu misi yayasan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup lalui edukasi, reservasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.*/ARIF HIDAYAH/PR

“BANYAK perspektif baru yang saya peroleh. Cara saya melihat air, tanah, udara berubah. Bahkan cara saya memahami makanan dan nafas saya sendiri berubah. Sekarang jadi lebih sadar saja”.

Begitu kata Mikhailla Karina (21) ketika ditemui di kompleks Eco Camp, Jalan Dago Pakar Barat, Bandung, Rabu, 18 September 2019 sore. Mikha merupakan mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang menjadi salah satu peserta Green Leader, program 10 hari pelatihan yang dimulai sejak awal September 2019 lalu.

Green Leader merupakan kegiatan tahunan di Eco Camp. Pesertanya adalah para guru, kepala sekolah, dan tokoh . Jangan bayangkan kurikulumnya penuh dengan teori lingkungan hidup. Kepada para peserta pelatihan, konsep pelestarian lingkungan secara berkelanjutan disajikan sebagai bagian dari hidup keseharian.

Mikha bercerita, dia dan para peserta lain dibuat syok di hari-hari pertama karena banyak sekali kegiatan yang tidak biasa. Kegiatan pagi, misalnya, diawali dengan meditasi selama sekitar 15 menit. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Green Leader juga mengajak para peserta untuk melambat. Tidak terburu-buru mengerjakan aktivitas keseharian. Cara mempraktikkan nilai ini dilakukan secara harafiah. Mereka dipaksa untuk betul-betul berjalan kaki secara sangat lambat.

“Ada juga kegiatan yang dinamai Membumi. Saya membayangkan diri saya sebagai benih pohon. Awalnya terlihat aneh, apalagi untuk anak muda seperti saya, tapi pada akhirnya saya bisa memetik pelajaran baiknya,” kata perempuan berkaca mata kelahiran Kabupaten Subang tersebut.

SEJUMLAH warga membersihkan gulma sayuran di kebun Eco Camp yang bernaung di bawah Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup  di Jalan Pakar Kulon, Kota Bandung, Rabu, 18 September 2019. Kegiatan tersebut merupakan salah satu misi yayasan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup lalui edukasi, nesrvasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.*/ARIF HIDAYAH/PR

Beroperasi sejak 2014, Eco Camp dibangun di lahan seluas 7 hektare. Selain tempat menginap dan ruang-ruang beraktivitas, kompleks ini juga dilengkapi dengan kebun sayur, kandang hewan, serta rumah pengomposan. Berkebun secara organik merupakan salah satu aktivitas andalan di setiap pelatihan.

Beragam jenis sayur yang ditanam, mulai dari mentimun hingga pakcoy, tumbuh baik berkat pupuk kompos. Selain kotoran hewan kambing piaraan, para pengelola Eco Camp juga memanfaatkan sampah daun yang berserakan sekitar lokasi serta sampah Pasar Simpang Dago.

“Dari pelatihan kemarin, saya disadarkan betapa banyak praktik hidup kita selama ini yang berdampak buruk pada lingkungan. Tapi saya juga disadarkan, ternyata ada banyak hal baik yang bisa dilakukan,” kata Mikha.

Kesadaran untuk Berbuat

Berada di bawah pengelolaan Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, Eco Camp didirikan oleh para tokoh dari beragam latar belakang. Perbedaan agama, suku, dan golongan tidak dibahas, tapi dihidupi lewat interaksi dinamis antara pengelola dan para peserta pelatihan yang datang silih-berganti sepanjang tahun.

Selain Green Leader yang diikuti oleh orang-orang dewasa, Eco Camp memiliki dua pelatihan rutin lain, yakni Anak Bumi dan Anak Alam. Anak Alam merupakan program pelatihan selama lima hari bagi murid SD dan SMP. Memiliki donatur tetap, Eco Camp biasanya membebaskan beban biaya bagi sebagian peserta pelatihan yang datang dari kalangan menengah ke bawah.

Tercatat rata-rata 6 ribu orang datang ke Eco Camp setiap tahunnya. Bukan hanya dari Bandung dan Jawa Barat, mereka berasal dari berbagai provinsi dan pulau di Indonesia. Ada yang mengikuti pelatihan selama beberapa hari, ada yang berkunjung selama beberapa jam. Ada yang berkelompok, ada yang sendirian atau dengan keluarga.

“Misi kami adalah seluas mungkin menyebarkan kesadaran baru tentang lingkungan. Mereka yang pernah mengikuti pelatihan di sini diharapkan meneruskannya dengan berbuat nyata di lingkungan masing-masing, entah keluarga, sekolah, perusahaan, atau masyarakat,” tutur Stanislaus Ferry Sutrisna Widjaja, salah satu pendiri Eco Camp.

SEJUMLAH warga membersihkan gulma sayuran di kebun Eco Camp yang bernaung di bawah Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup  di Jalan Pakar Kulon, Kota Bandung, Rabu, 18 September 2019. Kegiatan tersebut merupakan salah satu misi yayasan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup lalui edukasi, nesrvasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.*/ARIF HIDAYAH/PR

Ferry membagikan beberapa kisah menginspirasi yang datang dari alumni pelatihan Eco Camp. Ada seorang kepala sekolah di Medan yang setelah menyelesaikan pelatihan memutuskan untuk memasang panel surya di sekolahnya. Ada juga seorang bocah yang berubah menyukai sayur, lalu membuat ibunya yang pengusaha catering menambah porsi sayur dalam menu yang dia buat.

“Kisah-kisah seperti ini memperteguh keyakinan kami kalau sebenarnya ada yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan yang saat ini semakin mengancam kita,” ucap Ferry yang juga seorang pastor Katolik di Keuskupan Bandung.

Tumbuhnya kesadaran ekologis baru bukan hanya menjadi milik peserta pelatihan. Para relawan di Eco Camp juga bersaksi. Mereka membawa perspektif baru dalam hidup keseharian, termasuk ketika mereka sudah tuntas menghibahkan waktu dan tenaga sebagai relawan di Eco Camp.  

“Saya sekarang merasa cukup. Dalam hal makan atau berpakaian, ternyata lebih baik kita seperlunya saja,” kata Narni (60), yang bergabung sebagai relawan sejak Maret 2019 lalu.***

Bagikan: