Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Sedikit awan, 20.1 ° C

Hanya 15 Sekolah yang Masih Jalankan Cimahi Reading Habit

Ririn Nur Febriani
JAMBORE Reading Habit Kota Cimahi 2019 di Alam Wisata Cimahi Jalan Kolonel Masturi Kota Cimahi, Kamis, 19 September 2019.*/RIRIN N.F/PR
JAMBORE Reading Habit Kota Cimahi 2019 di Alam Wisata Cimahi Jalan Kolonel Masturi Kota Cimahi, Kamis, 19 September 2019.*/RIRIN N.F/PR

CIMAHI, (PR).- Sedikitnya hanya 15 sekolah dasar (SD) yang konsisten menjalankan program Cimahi Reading Habit (CRH). Minimnya minat baca ditambah tidak adanya pengelola perpustakaan sekolah membuat program CRH stagnan dan cenderung menurun.

Pada Kamis 19 September 2019, Dinas Komunikasi Informasi Arsip dan Perpustakaan (Diskominfoarpus) Kota Cimahi memberi apresiasi kepada siswa atas pencapaian membaca buku dalam Jambore Reading Habit Kota Cimahi 2019 di Alam Wisata Cimahi Jalan Kolonel Masturi Kota Cimahi. Siswa yang mengikuti kegiatan ini rata-rata sudah membaca buku lebih dari 30 judul buku.

Kepala Diskominfoarpus Kota Cimahi Harjono mengatakan, progam CRH sudah bergulir sejak tahun 2014, bertujuan untuk menarik minat pelajar membaca buku. "Siswa yang membaca buku sesuai target kita beri apresiasi dan program-program menarik termasuk hadiah buku," ujarnya.

Dari 140 SD di Kota Cimahi, sebanyak 90 sekolah diajak mengikuti program CRH. Setiap siswa yang membaca buku akan mendapat cap dan tandatangan guru pada kartu yang mereka dapatkan dari masing-masing sekolahnya.

"Sayangnya, tidak banyak sekolah yang bertahan. Dari 15 sekolah yang masih menggelar CRH, hanya 7 sekolah yang benar-benar aktif dan pelaporannya lengkap," katanya. Banyak sekolah di Kota Cimahi tidak memiliki tenaga profesional dalam mengelola perpustakaan. Buku-buku dalam kondisi terbengkalai akibat minim penataan, hal itu berimbas pada minimnya minat baca siswa di sekolah.

"Kendalanya ada beberapa, terutama tidak ada tenaga pengelola perpustakaan atau pustakawan sehingga aset buku tidak tertata dengan baik malah belum ada tenaga pustakawan PNS, untungnya beberapa sekolah punya tenaga harian lepas atau honorer yang bisa diberdayakan. Ada juga ya memang sekolah yang tidak cukup sarana-prasarananya," tuturnya.

Lewat program CRH, diharapkan dapat terwujud generasi anak yang gemar membaca. Hal itu ditumbuhkan di sekolah dengan mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya perpustakaan yang ada di perpustakaan sekolah, termasuk potensi guru sebagai pembimbing belajar siswa.

"Untuk mewujudkan anak yang mempunyai kegemaran membaca harus dipupuk sedini mungkin dan digiatkan secara serentak dan terpadu. Terbukti, ada anak yang bisa baca buku sampai 210 eksemplar dalam setahun. Artinya kalau lingkungan mendukung anak pun nyaman membaca buku," katanya.

Untuk memperluas cakupan program CRH, sambung Hardjono, hal yang harus dilakukan terutama pembenahan perpustakaan di sekolah. "Kita ingin sebanyak-banyaknya sekolah terlibat dalam kegiatan CRH. Perpustakaan jangan hanya pelengkap, tapi harus dibina dan dipelihara," ujarnya.

Ke depan, pihaknya akan menyiapkan reward bagi sekolah yang giat mengaktifkan CRH. "Tahun depan, mudah-mudahan giliran sekolah untuk mendapat apresiasi atas pengelolaan CRH. Sehingga mereka bisa semangat mengajak para siswa membaca," katanya.

Selain itu, untuk meningkatkan minat baca masyarakat pihaknya menduplikasi program Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) bantuan dari Gubernur Jabar. "Kotak Kolecer itu akan kami sebar di ruang publik seperti taman agar memudahkan masyarakat mengakses buku. Kolecer juga akan menjadi reward bagi wilayah yang berprestasi mewakili Kota Cimahi di berbagai ajang lomba," katanya.

Wali Kota Cimahi mengklaim, komunitas Reading Habit tinggal satu-satunya di Provinsi Jabar. "Hanya Cimahi yang punya komunitas membaca. Kita mencoba terus mengupayakan agar membaca menjadi budaya lewat pembiasaan sejak dini," ujarnya.

Keberpihakan pemerintah dalam meningkatkan minat baca diantaranya dengan berusaha memfasilitasi masyarakat diantaranya dengan Perpustakaan Kota Cimahi, mobil perpustakaan keliling, dan lainnya.

Menumbuhkan minat baca masyarakat harus diawali dengan membentuk karakter gemar membaca sejak dini, lalu menyebarkan budaya membaca dimanapun berada, terutama dilengkapi fasilitas dan koleksi buku beragam yang memberi ilmu kepada masyarakat.

Persoalan membaca menjadi tugas yang belum terselesaikan. Banyak faktor penyebab di antaranya harga buku terlalu mahal, maraknya hiburan TV, internet, dan menjamurnya tempat hiburan yang menghambat minat baca.

"Kami berharap dengan kegiatan membaca buku sejak dini akan membentuk karakter pada anak terutama menjadi seorang pemimpin," katanya.‬***

Bagikan: