Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 32 ° C

Menangkal Perdagangan Manusia Lewat Kampung KB

Handri Handriansyah
PETUGAS Pokja Kampung KB  dari UPTD Kecamatan Kutawaringin pada DP2KBP3A Kabupaten Bandung, tengah memberikan penyuluhan kepada warga  RW 09, Kampung Gunung Tikukur, Desa Cilame, kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. Usia rata-rata pernikahan di kampung tersebut kini naik dari 16 tahun sebelum dijadikan sasaran kampung KB pada awal 2017, menjadi 19 tahun saat ini.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
PETUGAS Pokja Kampung KB dari UPTD Kecamatan Kutawaringin pada DP2KBP3A Kabupaten Bandung, tengah memberikan penyuluhan kepada warga RW 09, Kampung Gunung Tikukur, Desa Cilame, kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. Usia rata-rata pernikahan di kampung tersebut kini naik dari 16 tahun sebelum dijadikan sasaran kampung KB pada awal 2017, menjadi 19 tahun saat ini.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

MASIH belum lepas ingatan tentang sejumlah kasus perdagangan manusia yang (human trafficking) menimpa warga Kabupaten Bandung beberapa waktu terakhir. Setelah 10 dari 12 korban di Situbondo teridentifikasi sebagai warga Kabupaten Bandung pada Juli 2019 lalu, menyusul sekitar 3 perempuan muda Kabupaten Bandung menjadi korban trafficking bermodus pengantin pesanan dari Tiongkok.

Tak bisa dipungkiri, jatuhnya korban tak lepas dari iming-iming para pelaku yang menggiurkan bagi mereka. Terlebih di kalangan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah dengan budaya untuk menikahkan anak di usia dini.

Budaya seperti itu juga sempat tertanam di benak warga RW 09, Kampung Gunung Tikukur, Desa Cilame, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Di kampung tersebut, sebagian besar penduduknya sempat hanya didominasi oleh tingkat pendidikan yang hanya sampai tingkat sekolah dasar.

Pun begitu dengan budaya sosial yang berlaku umum secara turun temurun. Para orangtua di kampung tersebut cenderung resah ketika anak perempuan mereka menginjak usia 16 tahun dan belum menikah.

Hal itulah yang mendorong Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung untuk menjadikan kampung tersebut sebagai salah satu percontohan program Kampung KB. Meskipun demikian, program itu tak hanya mendorong peningkatan peserta Keluarga Berencana (KB), melain berbagai permasalahan lain seperti pendidikan hingga perlindungan perempuan dan anak.

PETUGAS Pokja Kampung KB  dari UPTD Kecamatan Kutawaringin pada DP2KBP3A Kabupaten Bandung, tengah memberikan penyuluhan kepada warga  RW 09, Kampung Gunung Tikukur, Desa Cilame, kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. Usia rata-rata pernikahan di kampung tersebut kini naik dari 16 tahun sebelum dijadikan sasaran kampung KB pada awal 2017, menjadi 19 tahun saat ini.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Kutawaringin pada DP2KBP3A Kabupaten Bandung, Zaenabiah mengatakan, saat ini Kampung Gunung Tikukur memiliki jumlah penduduk sekitar 306 jiwa dengan sekitar 63 orang (20,1 persen) usia remaja 15-24 tahun.

Sebelumnya pada 2017, kata Zaenabiah, warga yang mengenyam pendidikan sampai tingkat SMP di kampung tersebut masih di bawah 50 persen. "Sekarang sudah lebih dari 70 warga mau meneruskan pendidikan ke SMP," ujarnya.

Yang menarik, Zaenabiah melansir rata-rata usia pernikahan warga kampung tersebut sebelumnya adalah 16 tahun. Artinya masih banyak remaja yang menikah sebelum cukup umur.
 

Perubahan pola pikir

Namun setelah dijadikan salah satu sasaran program Kampung KB, sedikit demi sedikit pola pikir masyarakat di kampung itu berubah. Mereka tak lagi berpikir bahwa anak perempuan harus segera menikah karena pada akhirnya akan "kembali ke dapur".

"Sekarang, usia rata-rata pernikahan sudah naik menjadi 19 tahun. Hal itu sudah merupakan kemajuan signifikan meskipun belum sesuai dengan usia pernikahan ideal dari BKKBN di mana perempuan minimal 21 tahun dan laki-laki 25 tahun," ujar Zaenabiah.

Hal itu tak lepas dari Pusat Informasi Konseling (PIK) remaja yang dibuat oleh para petugas Kelompok Kerja (Pokja) Kampung KB. Di program tersebut, petugas secara persuasif menanamkan kesadaran bahwa pernikahan dan kehamilan di usia dini memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pada usia subur ideal.

Di samping itu, para remaja di kampung tersebut juga diberi pemahaman tentang dampak negatif media sosial yang seringkali menjadi sarana bagi para pelaku perdagangan manusia dalam menjalankan aksinya. Dengan begitu mereka terjaga dari iming-iming materi yang justru bisa menjerat mereka ke dalam permasalahan yang lebih kompleks.

PETUGAS Pokja Kampung KB  dari UPTD Kecamatan Kutawaringin pada DP2KBP3A Kabupaten Bandung, tengah memberikan penyuluhan kepada warga  RW 09, Kampung Gunung Tikukur, Desa Cilame, kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. Usia rata-rata pernikahan di kampung tersebut kini naik dari 16 tahun sebelum dijadikan sasaran kampung KB pada awal 2017, menjadi 19 tahun saat ini.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

Sementara itu salah seorang petugas Pokja Kampung KB Kampung Gunung Tikukur, Sani (25) mengatakan, penyadaran masyarakat di lingkungan yang memiliki budaya turun temurun bukanlah hal yang mudah. Petugas harus memiliki kesabaran tinggi agar masyarakat bisa memahami hal-hal penting yang disampaikan kepada mereka.

"Kita tidak bisa berlaku keras kepada mereka, harus secara halus dan melibatkan tokoh setempat. Soal budaya menikah muda misalnya, tak jarang beberapa rekan saya justru ditawari untuk menjadi menantu oleh warga saat menyampaikan bahwa anak seharusnya baru dinikahkan pada usia ideal," kata Sani sambil tertawa.***

Bagikan: