Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Risiko Kematian Mengintai Petugas Kebersihan, Pilah Sampah Solusi Mutlak

Siska Nirmala
PETUGAS menyortir sampah yang baru dinaikan keatas bak truk sampah di Jalan Gunung Batu, Kota Bandung, Minggu, beberapa waktu lalu.*/DOK PR
PETUGAS menyortir sampah yang baru dinaikan keatas bak truk sampah di Jalan Gunung Batu, Kota Bandung, Minggu, beberapa waktu lalu.*/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Risiko berbahaya mengintai para petugas kebersihan atau petugas pengelola sampah. Di balik tumpukan sampah yang selama ini menjadi beban pekerjaan para petugas pengelolaan sampah, terdapat risiko penyakit yang bahkan berpotensi mematikan.

Bijaksana Junerosano dari komunitas Greeneration Indonesia menjelaskan, hal ini terjadi pada seorang petugas kebersihan di Kota Bandung belum lama ini. Tanggal 24 Juli 2019, Wawan Hermawan seorang petugas kebersihan meninggal akibat bakteri tetanus yang masuk ke dalam tubuhnya karena tusuk sate yang tak sengaja terinjak saat ia tengah menjalankan tugasnya mengangkut sampah. Wawan meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih sekolah.

Risiko pekerjaan petugas kebersihan seperti Wawan, seringkali diabaikan oleh masyarakat. Selama ini, masyarakat hanya mengetahui bahwa sampah mereka sudah diurus oleh para petugas  pengelola sampah, tanpa menghiraukan risiko pekerjaan yang dihadapi para petugas. 

Bijaksana menuturkan, banyak hal yang bisa dilakukan untuk bisa membantu mengurangi risiko pekerjaan para petugas pengelolaan sampah. Di antaranya mulai dari teknologi, tata kelola penegakkan peraturan atau kebijakan, kelembagaan dan kemitraan, partisipasi masyarakat, dan yang paling krusial yakni pembiayaan.

“Pembiayaan menjadi aspek yang sangat krusial karena inilah yang menjadi 'bahan bakar' atau penggerak roda operasional pengelolaan sampah yang optimal. Jika mekanisme pembiayaan pengelolaan sampahnya sesuai standar (layak) maka, korban nyawa tentu bisa diminimalisir” ujar Bijaksana Junerosano, dalam siaran pers yang diterima "PR".

WARGA melintasi tumpukan sampah yang menunggu diangkut, di TPS Jalan Ancol, Kota Bandung, Rabu, 27 Maret 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

Solusi lainnya untuk membantu mengurangi risiko pekerjaan para petugas kebersihan adalah dengan pemilahan sampah sejak di level rumah tangga. Pendiri Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi David Sutasurya menuturkan, sampah yang tidak terpilah merupakan sumber dari segala risiko berbahaya.

“Pemilahan sampah di sumber menjadi syarat mutlak untuk memuliakan dan menjaga kesehatan serta keselamatan kerja petugas persampahan. Kalau kita mencampur sampah kita sebenarnya kita sedang membahayakan dan menghinakan petugas persampahan," ujar David Sutasurya.

Dengan memilah sampah, kita bisa memudahkan pekerjaan para petugas kebersihan. Selain itu juga menjauhkan mereka dari risiko kesehatan, bahkan risiko kematian seperti yang dihadapi Wawan.

Memilah sampah bisa dimulai dengan memisahkan sampah organik dan non organik. Sampah organik kemudian dapat diolah menjadi kompos dengan membuat komposter di masing-masing rumah, maupun dengan membuat komposter komunal yang dapat digunakan bersama-sama oleh warga.

Sementara sampah non-organik yang telah dipilah dapat diteruskan ke tukang loak, pengepul barang bekas, maupun bank-bank sampah yang saat ini sudah banyak tersebar di berbagai daerah, termasuk Kota Bandung.

Dengan proses ini, sampah residu yang diangkut petugas kebersihan ke tempat pembuangan sementara maupun akhir, jumlahnya berkurang drastis. Lebih dari itu, juga meminimalisir risiko berbahaya yang mereka hadapi.

Sementara itu Direktur Umum PD Kebersihan Kota Bandung Gun Gun Saptari mengakui, perlu dilakukan pendataan ulang terkait petugas kebersihan. “Pemerintah perlu memiliki data atau melakukan pendataan ulang terkait semua pelaku pengelolaan sampah agar bisa membuat perencanaan dan penganggaran yang lebih baik dan lebih tepat demi kesejahteraan dan keselamatan kerja petugas persampahan," ujarnya.

AKTIVITAS petugas kebersihan di Jalan Pasirkoja, Kota Bandung, Jumat, 11 Januari 2019 lalu. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan dan PD Kebersihan Bandung dalam satu tahun biaya pengelolaan sampah  mencapai Rp 170 miliar, angka tersebut melingkupi biaya angkut dari TPS ke TPA,  pembiayaan petugas dan lainnya.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Penggalangan dana

Kejadian meninggalnya Wawan Hermawan, seorang petugas kebersihan di Kota Bandung memunculkan kegelisahan di kalangan komunitas peduli persampahan dan sosial. Mereka tergerak untuk menggalang dana, demi membantu keluarga Wawan yang ditinggalkan yakni seorang istri dan tiga anak yang masih sekolah.

Terkumpul dana donasi 39 juta rupiah (dari target 15 juta rupiah) dari ribuan donatur untuk keluarga almarhum Pak Hermawan melalui https://kitabisa.com/campaign/janganterulang. Aksi ini didukung hampir 50-an komunitas/organisasi peduli lingkungan yang bergotong royong menyebarkan informasinya dan bahu membahu mengumpulkan donasi melalui jejaring masing-masing. Dana yang terkumpul tersebut diberikan pada keluarga korban, Sabtu, 14 September 2019.

Bijaksana Junerosano dari komunitas Greeneration Indonesia menjelaskan, melihat respon masyarakat serta komunitas yang peduli pada petugas pengolahan sampah, kini diluncurkan program galang dana melalui laman https://kitabisa.com/campaign/pejuangpersampahan. Hal ini dilakukan, sebagai salah satu solusi untuk membantu petugas kebersihan atau petugas pengelolaan sampah yang terkena musibah saat bertugas. 

“Kami sebagai situs penggalangan dana online mendukung kegiatan yang diinisiasi oleh organisasi untuk kepentingan kemanusiaan. Selain mendukung penggalangan dana, kitabisa juga akan membantu dalam strategi komunikasi untuk menyebarkan kesadaran publik akan persoalan ini,” ujar Iqbal Hariadi, Head of PR & Partnership Kitabisa.com.

Sementara itu Kepala Dinas LH Kota Bandung Kamalia Purbani mengapresiasi gerakan galang dana untuk petugas kebersihan. Dia mengungkapkan, APBD pemerintah tidak mampu untuk membiayai semua kebutuhan pengelolaan sampah.

"Jadi bantuan dan pemahaman semua pihak bahwa retribusi adalah kewajiban warga dan pengelolaan sampah membutuhkan biaya yanh tidak murah. Kita perlu mereformasi mekanisme pembiayaan pengelolaan sampah," ujar Kamalia Purbani.***

Bagikan: