Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 32 ° C

Peradaban Sunda Lampau bisa Selamatkan Citarum

Mochammad Iqbal Maulud
ANAK-anak bermain di bantaran aliran Sungai Citarum di Kampung Balero, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa 25 Juni 2019. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah pusat maupun daerah melalui usulan dan perencanaan untuk mewujudkan program Citarum Harum dengan kucuran dana yang tidak sedikit.*/ADE MAMAD/PR
ANAK-anak bermain di bantaran aliran Sungai Citarum di Kampung Balero, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa 25 Juni 2019. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah pusat maupun daerah melalui usulan dan perencanaan untuk mewujudkan program Citarum Harum dengan kucuran dana yang tidak sedikit.*/ADE MAMAD/PR

BANDUNG, (PR).- Masyarakat Sunda pada masa lampau memiliki sistem pengetahuan yang khas disertai kepercayaan yang mendalam tentang tatanan permukiman mereka. Oleh karena itu, interaksi masyarakat dengan alam yang dijadikan tempat tinggalnya dilandasi oleh nilai-nilai kearifan.

"Maka dari itu dengan sistem Kesundaan pada masa lampau tersebut, bisa dijadikan contoh untuk kemajuan Sungai Citarum pada masa mendatang," ‎kata Kepala Bidang Budaya LPPM Maranatha, Gai Suhardja PhD saat diwawancarai pada Minggu 15 September 2019 di Kampus Universitas Kristen Maranatha, Jalan Surya Sumantri, Kota Bandung.

Menurut Gai, hasil interaksi dari kearifan tersebut bisa membentuk proses kreatif.‎ Sebagaimana tampak dari istilah metaforis menyebut topografi lahan tertentu. Citarum berasal kata Cai yang artinya air dan Tarum yang merupakan nama pohon yang tumbuh banyak di bantaran sungai. 

"Pada masyarakat Sunda yang lampau, hamparan wilayah yang disediakan oleh Tuhan diterima apa adanya tanpa diganggu dan dirusak. Tetapi jika‎ lahan atau wilayah tersebut menurut kepercayaannya dianggap dapat membawa bencana, mereka mengadakan upacara penyucian. Upacara ini disertai sarana dan doa agar bencana tersebut dapat dihindari," kata Gai.

Kearifan lokal lainnya pada masyarakat Sunda kuno tampak pada penataan lahan permukiman. Permukiman tersebut harus tidak mengundang bencana dan dibuat hanya sesuai kebutuhan yang ada, tanpa harus berlebih-lebihan‎.

"‎Berbeda dengan saat ini, banyak kerusakan yang terjadi akibat rusaknya alam. Akibatnya selain bencana alam itu sendiri seperti longsor dan banjir, juga akibatkan berubahnya iklim. Ini menjadi luar biasa karena ini juga disebabkan oleh kurangnya pengawasan tata laksana pola hunian yang tak ramah lingkungan," kata dia.

Padahal lanjut Gai‎, peradaban Sunda kuno memiliki apa yang disebut Warugan Lemah yang artinya pola permukiman Sunda Kuno. Warugan Lemah ini mirip dengan orang Tionghoa yang memiliki Feng Shui sebagai pola pada permukiman orang Tionghoa itu sendiri.

"Pola permukiman orang Sunda masa lampau inii‎ tertera dalam tiga lempir daun lontar berukuran 28,5 x 2,8 cm., yang mengandung 4 baris tulisan tiap lampirnya. Naskah 'Warugan Lemah' tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan nomor koleksi L 622 Peti 88," katanya.

Naskah kuno

Pada naskah tersebut, lanjut Gai, tertulis, Gunung teu beunang dilebur, lebak teu beunang diruksak, larangan teu meunang dirempak, buyut teu meunang dirobah, lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, nu lain kudu dilainkeun

Isi naskah lama ini pun hingga kini masih menjadi pegangan orang Badui dalam karena dianggap tabu untuk melanggar budaya peradaban kuno tersebut. "D‎alam konteks kemauan bebas (free will), manusia seakan-akan dapat melakukan apa saja sekehendak dirinya, padahal zaman manusia purba, pemahaman manusia akan dirinya sendiri dan dalam komunitasnya semakin kompleks sejalan dengan evolusi peradaban," ucapnya.

Oleh karenanya lanjut Gai ketika kebijaksanaan kepemimpinan semakin jelas membawa warga pada situasi dan kondisi faktual terkini segalanya akan lebih baik. Apalagi jika juga dibarengi dengan kepekaan terhadap arus global, era perubahan, disrupsi dan revolusi industri 4.0.

"Peradaban air di Sungai Citarum membutuhkan kajian pakar arkeologi dan sejarah manusia Jawa (Homo Javanicus), Jawa Barat yang dikenal sebagai leluhur tanah Sunda masih menjadi ruang yang patut jadi pusat kajian nilai-nilai luhur budaya Sunda," ucapnya.

Selain itu, lanjut Gai, Kemerdekaan Indonesia 74 tahun layak dirayakan oleh generasi millenial yang mampu melihat masa depan, tapi tak pernah lekang akan sejarah peradaban air tanah Sunda yang subur oleh karena berlimpahnya sumber air danau Bandung purba.

"Kita harus juga bekerjasama dan sinergis sebangsa setanah air. Tanpa lupa untuk juga bekeerjasama multikultural antar bangsa, niscaya kemerdekaan kita akan memperoleh kembali anugerah terbaiknya. Terutama peradaban air bagi masa depan Nusantara," ucapnya.‎***

Bagikan: