Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Sedikit awan, 20.1 ° C

Atalia: Katering Harus Kantongi Sertifikasi Halal

Ai Rika Rachmawati
ILUSTRASI produk halal.*/DOK PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI produk halal.*/DOK PIKIRAN RAKYAT

BANDUNG, (PR).- Seluruh pelaku usaha katering harus melengkapi diri dengan sertifikat halal dan perizinan lainnya. Pelaku usaha katering juga mutlak harus menjaga keamanan pangan.

Demikian diungkalan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat (Jabar) Atalia Praratya Kamil saat membuka Pameran Akbar Catering se-Jawa Barat 2019 di Gedung Bale Asri Pusdai, Jln. Diponegoro, Bandung, akhir pekan lalu. Menurut dia, hal itu penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi konsumen.

"Kreativitas harus diteruskan, tapi saya titip agar keamanan bahan pangan dan kesehatan harus dijaga dengan baik. Sertifikat halal dan perizinan juga harus dilengkapi," tuturnya.

Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI) Kota Bandung, Disa Sandhi Ardyansyah, mengatakan, bukan hal mudah bagi pelaku usaha katering untuk mengurus dan mengantongi sertifikat halal. Pasalnya, untuk memiliki sertifikat tersebut semua vendor juga harus sudah mengantongi sertifikat halal.

"Sertifikat halal agak susah. Kalau satu vendor saja gagal, sertifikat halal tidak bisa terbit," tuturnya.

Namun, menurut dia, pihaknya juga berharap ke depan semua pelaku usaha katering bisa mengantongi sertifikat halal, seperti yang diharapkan Atalia. Akan tetapi, hal itu membutuhkan proses.

Dua kali

Disa mengatakan, bisnis katering, khususnya katering pernikahan, memiliki prospek positif. Menurut dia, selama masih ada pernikahan, permintaan katering pernikahan akan tetap ada.

"Setiap tahunnya pertumbuhan bisnis katering pernikahan bisa lebih dari dua kali lipat. Untuk wilayah Bandung, katering pernikahan ini yang paling prospektif," tuturnya.

Selain itu, menurut Disa, katering pernikahan tidak terpengaruh kondisi ekonomi. Dalam kondisi ekonomi terpuruk pun, selama ada pernikahan, permintaan katering akan tetap tumbuh.

"Industri katering pernikahan tidak sensitif dengan perubahan kondisi perekonomian. Pertumbuhan permintaannya terus menanjak, apalagi di wilayah suburban," ujarnya.

Terus tumbuhnya permintaan katering pernikahan, menurut dia, juga tidak terlepas dari kian banyaknya pilihan katering. Konsumen saat ini, menurut dia, semakin mudah untuk memilih katering sesuai budget. 

Ia memperkirakan, untuk tahun ini puncak permintaan katering pernikahan akan terjadi pada periode September-November. Menurut Disa, pada periode tersebut permintaan katering pernikahan bisa tumbuh empat sampat lima kali lipat hari normal.

"Kalau dulu pernikahan itu ada musimnya. Kalau saat ini di luar periode puncak pernikahan tetap ada dan permintaan katering pernikahan juga tetap ada. Pada periode puncak, satu perusahaan katering bisa mendapatkan 15-20 event per bulan, sesuai dengan kapasitas produksi mereka," tutur Disa.***
 

Bagikan: