Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Satelit Mendeteksi 18 Titik Api di Jawa Barat

Ecep Sukirman
PEMUKIMAN warga berada tidak jauh dari lahan gambut  yang terbakar beberapa waktu lalu di Kampung Pasir Paros, Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat 13 September 2019*/ADE MAMAD/PR
PEMUKIMAN warga berada tidak jauh dari lahan gambut yang terbakar beberapa waktu lalu di Kampung Pasir Paros, Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat 13 September 2019*/ADE MAMAD/PR

BANDUNG, (PR).- BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) mendeteksi sedikitnya terdapat 18 titik panas di 8 kabupaten di Jawa Barat.

Data sebaran titik panas itu didapat berdasarkan pantauan sensor MODIS yang diperoleh melalui pencitraan satelit sejak 12 September 2019 pukul 7.00 hingga 13 September 2019 pukul 4.00.

Kepala Stasiun Geofisika Bandung Tony Agus Wijaya, saat dikonfirmasi mengatakan, sebaran titik panas tersebut merupakan hasil citra satelit.

SISA kebakaran lahan beberapa waktu lalu yang tak jauh dari pemukiman warga di Kampung Pasir Paros, Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat 13 September 2019.*/ADE MAMAD/PR

Dari pencitraan satelit, kata dia, beberapa lokasi yang terdeteksi sebagai sebaran titik panas yakni

1. Kabupaten Bandung: Kecamatan Ibun (3 titik), Paseh (1 titik), Dayeuhkolot (1 titik), dan Pacet (1 titik)
2. Kabupaten Cianjur: Kecamatan Cibinong (1 titik), Campaka (2 titik), dan Cikalong Kulon (1 titik)
3. Kabupaten Garut: Kecamatan Cikelet (1 titik)
4. Kabupaten Indramayu: Kecamatan Terisi (1 titik)
5. Kabupaten Kawarang: Kecamatan Tegalwaru (1 titik)
6. Kabupaten Purwakarta: Kecamatan Darangdan (2 titik), Sukatani (1 titik)
7. Kabupaten Sukabumi: Kecamatan Ciemas (1 titik), Cimanggu (1 titik), Purabaya (1 titik), Simpenan (1 titik), dan Tegalbuleud (2 titik)
8. Kabupaten Subang: Kecamatan Dawuan (1 titik)

Data yang dihasilkan berdasarkan citra satelit pantauan sensor MODIS, kata dia, merupakan informasi awal mengenai adanya titik panas di masing-masing daerah. Data ini perlu diverifikasi dan ditindaklanjuti oleh pemangku kebijakan terkait di masing-masing daerah.

Tony menjelaskan, sebaran titik panas itu merupakan peta dari deteksi titik panas menggunakan sensor MODIS pada satelit Terra dan Aqua. Sehingga, memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luas 1 kilometer persegi. Di wilayah yang tertutup awan, titik panas tidak dapat terdeteksi.

Data sebaran titik panas yang tersajikan sensor MODIS pada 12 September dan 13 September, memiliki tingkat ketepatan tinggi berkisar 51 hingga 100 persen.

“Pada musim kemarau seperti saat ini ada dua potensi bencana yaitu kekeringan dan ancaman kebakaran lahan. Musim kemarau yang dirasakan saat ini lebih panjang antara 1 hingga 3 dasarian (1 dasarian = 10 hari). Dengan demikian mundur 1 hingga 2 dasarian karena suhu laut di Indonesia lebih dingin 1 hingga 2 derajat celcius sehingga menjadi uap air dan curah hujan berkurang,” ujar dia, Jumat 13 September 2019.***

Bagikan: