Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Nelayan Tersertifikasi di Jawa Barat Masih Minim

Novianti Nurulliah
PEKERJA mengumpulkan ikan dari kapal nelayan di tempat pelelangan ikan Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu, 7 September 2019 lalu.*/ANTARA
PEKERJA mengumpulkan ikan dari kapal nelayan di tempat pelelangan ikan Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu, 7 September 2019 lalu.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat menargetkan 200 nelayan mengantongi sertifikat Basic Safety Training Fisheries (BST-F) pada 2019 ini. Sertifikasi tersebut dikeluarkan oleh kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat Jafar Ismail menuturkan, hal itu guna mewujudkan nelayan Jabar Juara. Dengan sertifikat tersebut di antaranya bisa dijadikan persyaratan bagi nelayan yang akan bekerja di perusahaan asing. Pasalnya sertifikat tersebut berlaku di seluruh dunia, bahkan di Indonesia sendiri.

Selain itu, dengan mengantongi sertifikat menandakan nelayan tersebut memiliki keterampilan ketika berada di laut untuk terhindar dari kecelakaan. Termasuk memahami SOP ketika menangkap ikan. 

"Untuk mendapatkannya para nelayan tersebut harus mengikuti pelatihan selama sebulan pada Unit Pelayanan Teknis (UPT) KKP yang berada di Tegal, Jawa Tengah. Saat ini ada 156 nelayan asal Jabar yang sedang digodok untuk mengantongi sertifikat, " kata dia dalam Jabar Punya Informasi (Japri), Kamis, 12 September 2019. 

Diakui Jafar, target 200 nelayan bersertifikat tidak sebanding dengan jumlah nelayan di Jabar. Adapun jumlah nelayan di Jabar sebanyak 123.041 orang. Itu terdiri dari nelayan penuh 81.720 orang, nelayan sambilan utama 38.577 orang dan nelayan sambilan tambahan 7.744. 

Jumlah tersebut tersebar di Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Kota Cirebon, Cirebon, Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, Ciamis, Kuningan, Majalengka, Kota Banjar, Kota Tasik, Kota Sukabumi, Sumedang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Purwakarta, Kota Bekasi, Kota Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bogor. 

"Untuk mendapatkan sertifikat memerlukan biaya yang cukup besar. Kita harus mengirim ke Tegal dengan biaya yang cukup mahal. Satu orang itu hampir Rp 30-40 juta," katanya.

Meski demikian, kata dia, bukan berarti pihaknya tidak ada upaya untuk meningkatkan kualitas nelayan. Pihaknya akan bekerjasama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Mundu Kabupaten Cirebon yang memiliki jurusan Perikanan dan Kelautan. 

"Yang ada itu di Mundu sudah mengeluarkan BST-F lulusanya sudah otomatis tersertifikasi," kata dia. 

Dia menambahkan, akan ada SMK Kelautan dan Perikanan di Jabar di Cianjur namun saat ini masih dikaji guna mempersiapkan segala sesuatunya agar matang.***

Bagikan: