Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

PVMBG Beri Penjelasan Bau Belerang Menyengat di Cimahi dan Bandung Barat Terkait Aktivitas Gunung Tangkubanparahu

Yusuf Wijanarko
LANSKAP Kawah Ratu pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu, 28 Juli 2019. Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu PVMBG mecatat pada Minggu pagi (28/7) amplitudo getaran berkisar di angka 0,5 mm dibandingkan saat erupsi pada Jumat, 26 Juli 2019 yang mencapai lebih dari 50 mm.*/ANTARA
LANSKAP Kawah Ratu pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu, 28 Juli 2019. Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu PVMBG mecatat pada Minggu pagi (28/7) amplitudo getaran berkisar di angka 0,5 mm dibandingkan saat erupsi pada Jumat, 26 Juli 2019 yang mencapai lebih dari 50 mm.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Berkenaan dengan informasi terciumnya bau belerang yang diduga berasal dari aktivitas Gunung Tangkubanparahu pada Rabu 11 September 2019 sore, Tim Pusat Vulkanologi san Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) segera melakukan pengecekan lapangan. Pengecekan yang dilakukan berupa pengukuran gas di sekitar Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Bau belerang pada Rabu 11 September 2019 sore dilaporkan tercium di beberapa wilayah yang cukup jauh dari Gunung Tangkubanparahu yaitu di Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat

Hasil pengukuran menunjukkan belum adanya indikasi peningkatan konsentrasi gas CO2 dan SO2 yang signifikan.

Dalam laporan pengamatan di bibir Kawag Ratu Gunung Tangkubanparahu pada Rabu 11 September 2019 pukul 21.30, teramati asap dengan konsentrasi sedang hingga tebal setinggi sekitar 180 m eterdi atas permukaan kawah.

Kolom erupsi tidak teramati tetapu tercium bau belerang yang menyengat disertai suara gemuruh dengan intensitas sedang. Pernyataan itu tertuang dalam laporan di laman situs https://magma.vsi.esdm.go.id.

Hasil pengamatan gas menunjukkan kobsentrasi CO2: 0,020 vol persen dan SO2: 4,6 ppm. Konsentrasi gas-gas tersebut masih relatif lebih kecil dari hasi pengukuran sebelumnya yaitu pada 1 Agustus 2019.

Pemantauan suhu kawah juga belum menunjukkan adanya peningkatan suhu. Amplitudo tremor yang terekam saat ini dominan sekira 25 mm.

Berdasarkan hasil analisis data-data pemantauan tersebut, dapat disimpulkan bahwa terciumnya gas dari jarak yang relatif jauh dimungkinkan karena tiupan angin yang cukup kencang dominan ke arah selatan dan barat daya yaitu ke Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.

Status Gunung Tangkubanparahu saat ini masih berada di Level II (Waspada) dengan rekomendasi jarak bahaya dalam radius 1,5 km dari kawah.***

Bagikan: