Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Tergiur Uang Banyak, Para Wanita asal Jabar Malah Dijual dan Dijadikan Budak di Tiongkok

Handri Handriansyah
*/PSYCHOLOGYBENEFITS.ORG
*/PSYCHOLOGYBENEFITS.ORG

 

SEMPAT bingung pada awalnya, MH (22) akhirnya sedikit banyak bisa menceritakan kisah hidupnya saat menjadi korban perdagangan manusia berkedok pernikahan pesanan dari Tiongkok pada awal 2018 lalu. Ditemui di kediaman keluarganya di Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa, 10 September 2019, MH mengaku tak pernah menyangka akan mengalami nasib seperti itu.

Menurut MH, perjalanan dirinya sampai Tiongkok berawal saat ia bekerja di Lombok pada akhir 2017 lalu. "Salah seorang teman kerja saya memperkenalkan saya kepada seseorang bernama Endah yang tinggal di Jakarta," ucapnya.

Berkomunikasi lewat media sosial, MH mengaku perkenalannya dengan Endah berujung pada tawaran pekerjaan di bidang kecantikan (bisnis kosmetik). Dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, MH pun akhirya menerima tawaran tersebut dan memberanikan diri terbang dari Lombok ke Jakarta.

"Di Jakarta saya dikenalkan oleh Endah kepada seseorang bernama Vivi. Ternyata Vivi tidak menawarkan kerja di bisnis kosmetik, tetapi menawarkan nikah kontrak dengan calon suami dari Tiongkok," kata MH.
 

MH pun akhirnya luluh karena Vivi memberi tawaran menggiurkan jika ia menerima tawaran nikah kontrak tersebut. Hanya harus menjalani pernikahan selama tiga bulan, MH dijanjikan akan diberi rumah, mobil dan uang bulanan Rp 5-6 juta.

Setelah menerima tawaran tersebut, Vivi pun kemudian mengenalkan MH dengan seorang warga Tiongkok yang akan menjadi calon suaminya. Sambil menunggu proses pembuatan paspor dan kelengkapan administrasi lain, MH pun difasilitasi tinggal di apartemen sebelum akhirnya terbang ke Tiongkok.

Meskipun demikian, MH kaget ketika tiba di Negeri Tirai Bambu ternyata ia dinikahkan secara sah dengan warga Tiongkok tersebut. Bahkan, janji bisa pulang setelah tiga bulan pun adalah kebohongan besar dari Vivi.

"Bukannya bisa pulang, saya dan beberapa teman yang juga mengalami nasib serupa justru diperlakukan semena-mena oleh para suami. Saya sendiri harus bekerja membuat gelang di tempat usaha suami dan diperlakukan seperti asisten rumah tangga, sedangkan teman-teman yang lain ada yang disiksa, disepak dan diperbudak," tutur MH.

Hal itu membuat MH dan korban lain akhirnya menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Alhasil, mereka pun akhirya menyadari telah dijual oleh Vivi seharga 400.000 yuan kepada para suami yang memperbudak mereka.

Mengetahui hal itu, MH dan beberapa temannya memutuskan untuk kabur dari rumah para suami dan meminta perlindungan dari Kedutaan Besar RI setempat. Namun mereka kembali harus menunggu sebelum akhirnya bisa pulang ke tanah air pada Agustus 2019 lalu.

"Saya tinggal di KBRI sekitar sebelas bulan karena harus menunggu proses pengurusan cerai dan paspor untuk bisa kembali ke Indonesia. Alhamdulillah semua sudah terlewati dan saya bisa berkumpul lagi dengan keluarga," kata MH.

Seperti diberitakan sebelumnya, MH merupakan satu dari enam korban perdagangan manusia berkedok pernikahan pesanan dari Tiongkok asal Jawa Barat yang. Selain MH, korban lainnya adalah DF (27) warga Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta, Yl (29) warga Kecamatan Ciseureuh Kabupaten Purwakarta, MR (18) warga Kecamatan jatiluhur Kabupaten Purwakarta, TA (23) warga Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat dan IR (26) warga Kecamatan Cidadap Kota Bandung.

Selain keenam korban tersebut, menyusul dua warga asal Kabupaten Bandung lain telah berhasil pulang ke tanah air. Mereka adalah PD (32) dan IF (24) yang sampai di Jakarta pada Sabtu, 7 September 2019.***

Bagikan: