Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Kars Rajamandala Menuju Geopark Nasional

Cecep Wijaya Sari
Para pengunjung beraktivitas di objek wisata Stone Garden, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat./CECEP WIJAYA SARI/PR
Para pengunjung beraktivitas di objek wisata Stone Garden, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat./CECEP WIJAYA SARI/PR

LATAR belakang pemandangan alam selalu menarik untuk menjadi spot swafoto. Beberapa tahun terakhir, objek wisata Stone Garden di Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat kian populer seiring dengan banyaknya pengunjung yang membagikan foto mereka di media sosial. Namun, taman batu alam tersebut bukan sekadar objek swafoto, tetapi juga menjadi sisa sejarah kawasan Bandung di masa lalu.

Berada di kawasan Kars Rajamandala, Stone Garden kini ramai dikunjungi tak hanya oleh wisatawan lokal, tetapi juga nasional bahkan mancanegara. Mereka datang tak hanya untuk berfoto-foto, tetapi juga untuk melakukan penelitian dan menggali informasi mengenai terbentuknya sejumlah batukapur yang menakjubkan itu.

Keberadaan kawasan wisata tersebut tak lepas dari peran masyarakat setempat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata Pasir Pawon. Sejak 2014, mereka terlibat untuk mengelola objek wisata bebatuan alam tersebut. Bahkan, sebagian di antara masyarakat juga sudah beralih dari pekerjaan sebelumnya, yakni menambang menjadi fokus mengelolaobjek wisata.

"Sebagian besar masyarakat di Cipatat memang penambang, namun setelah ada Pokdarwis ini, mereka bisa beralih profesi mengelola objek wisata," kata Ketua Pokdarwis Pasir Pawon, Sukmayadi Suwerna, Selasa 10 September 2019.

Meski demikian, tingkat kunjungan ke objek wisata ini mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. Pada 2015, tercatat 139.000 kunjungan, lalu menurun drastis menjadi 77.000 kunjungan pada 2016. Tahun 2017 kembali meningkat menjadi 120.000 kunjungan dan tahun 2018 sebanyak 126.000 kunjungan. Sementara tahun ini, ditargetkan tercapai 200.000 kunjungan wisatawan.

Menurut Sukmayadi, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk membenahi kawasan wisata yang satu areal dengan Guha Pawon tersebut. Mulai dari perbaikan jalan memasuki areal wisata yang kini hanya berupa jalan tanah berbatu, penyediaan air bersih, hingga penanaman pohon yang rindang.

Saat ini, kawasan wisata ini tengah dipersiapkan menjadi geopark nasional pada 2020 dengan nama Geopark Rajamandala. Berbagai upaya terus dilakukan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, di antaranya dengan menambah berbagai fasiltias untuk pengunjung, seperti musala, MCK, dan penyediaan air bersih.

“Selain itu, kami juga rutin menggelar atraksi budaya setiap akhir bulan untuk menarik banyak wisatawan. Pada 15 September 2019 nanti, kami juga akan menggelar atraksi seni dan budaya dalam rangka milangkala ke-5,” tuturnya. 

Para pengunjung beraktivitas di objek wisata Stone Garden, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat./CECEP WIJAYA SARI/PR

Jutaan tahun

Sementara itu, menurut T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia, Stone Garden merupakan salah satu bagian dari kawasan Kars Rajamandala yang terbentang dari Padalarang hingga Rajamandala di Cipatat. Dia mengungkapkan, pembentukan kawasan tersebut menjadi geopark nasional bergantung pada kesiapan pemerintah daerah dan pengelola objek wisata tersebut.

“Kawasan Rajamandala terdiri atas bentangan bukit kapur, mulai dari Pasir Pabeasan, Karangpanganten, Karanghawu, GunungMasigit, beberapa tempat di Citarum di kawasan Saguling. Jika ingin menjadi geopark nasional, penataan semua kawasan ini harus dilakukan, mengacu pada kriteria yang ditentukan Komite Geopark Nasional Indonesia,” ujarnya.

Dia menuturkan, Kars Rajamandala terbentuk sejak 27 juta-23 juta tahun lalu yang merupakan bentukan binatang koral. Bukti ini menunjukkan bahwa kawasan Jawa Barat di sekitar daerah ini dulunya adalah laut dangkal yang kemudian mengendap setelah mengalami berbagai fase dari Olisogenakhir hingga Miosen awal.

“Bila Kars Rajamandala ini dikelola secara berkelanjutan dan berbasis masyarakat, keberadaannya akan menjadi tempat belajar bagi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa, serta bisa menjadi pendapatan daerah langsung bagi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat,” tuturnya.***

Bagikan: