Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Arah Kiblat di Masjid Rata-rata Melenceng, Perlu Dilakukan Kalibrasi

Sarnapi
SEORANG jamaah melaksanakan shalat sunnah di bulan ramadan, di Masjid Fathul Ummah Metro, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.*/ADE BAYU INDRA/PR
SEORANG jamaah melaksanakan shalat sunnah di bulan ramadan, di Masjid Fathul Ummah Metro, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.*/ADE BAYU INDRA/PR

SOREANG, (PR).- Sebagian besar masjid di Kota dan Kabupaten Bandung memiliki arah Kiblat yang kurang benar. Di lain pihak Badan Hisab dan Rukyat (BHR) memiliki keterbatasan anggaran sehingga kalibrasi arah Kiblat masjid setahun hanya puluhan masjid.

"Jarak antara wilayah Kabupaten Bandung dengan Mekkah sekitar 8.000 km lebih sehingga kalau melenceng satu derajat saja bisa melenceng arahnya sampai 110 km dari Kota Mekkah," kata Kepala Bimbingan Syariah Kemenag Kabupaten Bandung, Ruli Mulyana, saat pelatihan kalibrasi arah Kiblat masjid dan tempat pemakaman umum (TPU) di aula Kemenag Kabupaten Bandung, Selasa, 10 September 2019.

Lebih jauh Ruly mengatakan, jumlah masjid di Kabupaten Bandung lebih dari 10.000 buah yang rata-rata kurang benar arah kiblatnya. "Karena masyarakat membangun masjid tidak memakai alat kalibrasi arah Kiblat. Alat yang dipakai hanya kompas, padahal Kompas sangat sensitif kalau ada di sekitarnya ada ponsel atau besi," katanya. Adapun ia menambahkan, pelatihan bekerja sama dengan Baznas Kabupaten Bandung.

Sedangkan Ketua BHR Kota Bandung, KH. Maftuh Khalil menyatakan, pihaknya hanya mendapatkan anggaran untuk kalibrasi arah Kiblat untuk 40 masjid per tahunnya. "Sedangkan jumlah masjid di Kota Bandung sampai 4.000 masjid sehingga perlu ratusan tahun kalau mau dikalibrasi. Akhirnya kita menyebarkan alat mizwalah untuk kalibrasi masjid ke tiap kecamatan," katanya.

KEPALA Kemenag Kabupaten Bandung, Asep Ismail (dua kiri) saat membuka pelatihan kalibrasi arah Kiblat masjid dan TPU di aula Kemenag Kabupaten Bandung, Selasa, 10 September 2019. Pelatihan dilaksanakan karena banyaknya masjid salah dalam penentuan arah Kiblat.*/SARNAPI/PR

Alat mizwalah berbentuk bulat dengan di tengahnya ada tiang untuk penentuan bayangan matahari. "Akurasinya cukup baik, namun banyak pengurus masjid yang belum mampu memakai alat tersebut sehingga baru-baru ini kami mengadakan pelatihan," katanya.

Kiai Maftuh mengatakan, pengetahuan masalah Kiblat belum mendalam dan hanya mengandalkan alat kompas. "Padahal Kompas hanya tunjukkan arah mata angin Utara, timur barat dan selatan secara magnetis. Bukan arah barat sejati. Untuk penentuan arah Kiblat yang benar, maka hitung dulu GPS lokasi masjid dan lokasi Kota Mekkah dari garis lintang dan bujur. Misalnya, untuk Kota Bandung lokasi Kota Mekkah berada  295 derajat 9 menit atau dibulatkan jadi 10 menit," katanya.***

Bagikan: