Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya berawan, 29 ° C

Menilik Pondok Pesantren yang Didirikan Gus Dur di Dago Bandung

Mochammad Iqbal Maulud
SUASANA di Pesantren Miftahul Khoir di Jalan Tubagus Ismail VIII, Kota Bandung beberapa waktu lalu. Pesantren yang didirikan Gusdur ini masih bertahan dengan metode lama.*/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR
SUASANA di Pesantren Miftahul Khoir di Jalan Tubagus Ismail VIII, Kota Bandung beberapa waktu lalu. Pesantren yang didirikan Gusdur ini masih bertahan dengan metode lama.*/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR

MENGUSUNG konsep Salafiyah Syafiiyah, pesantren yang berada di Puncak Dago ini melahirkan banyak pesantren baru. Bahkan menjadi role model bagi pesantren-pesantren baru di sekitarnya semisal Daarut Tauhid, Pesantren Salman Al Farisi, Baabus Salaam dan lainnya. Inilah Pondok Pesantren Miftahul Khoir yang salah satu pendirinya adalah Gus Dur.

"Kami berdiri sejak tahun 1985, salah satu pendirinya adalah KH Abdurrahman Wahid, KH Choer Affandi dari Miftahul Huda Tasikmalaya, termasuk kakek saya ‎KH Ahmad Umar," kata pengurus pesantren Miftahul Khoir, Ajengan Ahmad Husni Mubarak, di Jalan Tubagus Ismail VIII, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Minggu 8 September 2019.

Menurut Husni, pesantren Miftahul Khoir ini dikhususkan bagi para mahasiswa. Terutama yang ingin mempelajari Agama Islam secara kaffah dan sesuai dengan tuntutan Ahlus Sunnah Wal Jamaah dengan bermadzhabkan Syafi'i dan beraqidah Asyariyah.

"Mulanya pesantren ini hanya berisikan 40-50 orang, dan semuanya mahasiswa. Sementara sekarang jumlah totalnya mencapai 150 orang, namun kini tidak semuanya mahasiswa, ada juga yang ‎pelajar SMA dan warga sekitar," katanya.

Secara umum kata Husni metode pembelajaran dari pesantren ini masih menggunakan metode pesantren-pesantren lama. Tetapi tentunya dengan pendalaman-pendalaman dalam bidang tasawuf, adab, aqidah dan fiqih secara global.

"Namun kami juga kadang memberikan spesialisasi bagi para santri kami. Semisal ada yang baik dalam tahsin Alquran maka diperdalam pada bagian tahsin, yang pandai fiqih kami berikan pelajaran tambahan pada bidang tersebut," katanya.

SUASANA di Pesantren Miftahul Khoir di Jalan Tubagus Ismail VIII, Kota Bandung beberapa waktu lalu. Pesantren yang didirikan Gusdur ini masih bertahan dengan metode lama.*/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR

Produsen penceramah

Husni pun menyatakan, KH Abdullah Gymnastiar pernah pesantren di Miftahul Khoir ini. Selain itu ada juga KH Muchtar Adam dan KH Jalaludin Syatibhi, KH Ahmad Rifa'i dan legenda penceramah berbahasa Sunda, Abdul Fatah Ghazali. "Kyai Ghazali itu selain ngaji juga mendirikan pesantren ini bersama Abah Anom. Sementara untuk yang zaman sekarang yang sudah berkunjung di antaranya Buya Yahya, Uu Ruzhanul Ulum dan lainnya," katanya.

Pesantren ini pun mempelajari kitab-kitab kuning klasik yang secara umum dipakai pesantren-pesantren lama. Semisal pelajaran safinah, jurumiyah, kailani, qurrotul uyyun dan lain-lainnya.

"Yang menarik di sini adalah selama dari awal dibangun sampai sekarang, tidak menerima bantuan dari pemerintah sedikit pun. Tetapi jika wakaf memang ada beberapa orang yang melakukan wakaf yah, tapi kalau dari pemerintah tidak ada bantuan," ucapnya.

Promosi pun kata Husni belum dilakukan oleh pesantren yang sudah lebih dari 30 tahun ini berdiri. Meski demikian banyak peminat yang datang untuk pesantren di tempat tersebut. "Mungkin dari mulut ke mulut yah, hingga ada banyak santri yang datang dari pulau-pulau lain selain pulau Jawa," katanya.

Secara umum di pesantren yang didirikan Gus Dur ini lebih menekankan pada adab dan akhlak. "Kami juga memberikan pelajaran tentang kebangsaan, bagaimana mengaplikasikan tentang Islam yang Rahmatan Lil Alamin ini," ucapnya.

SUASANA di Pesantren Miftahul Khoir di Jalan Tubagus Ismail VIII, Kota Bandung beberapa waktu lalu. Pesantren yang didirikan Gusdur ini masih bertahan dengan metode lama.*/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR

Keberagaman

Selain itu kata dia, santri yang menuntut ilmu di pesantren ini berasal dari Sabang sampai Merauke. Tak terkecuali Papua, namun semua saling mengayomi satu sama lain, tidak dibeda-bedakan. "Semua berada dalam satu bingkai ukhuwah islamiyah, insaniyah dan  wathoniyah (persaudaraan dalam Agama Islam, kemanusiaan dan kenegaraan)," ujarnya.

Salah satu santri yang berasal dari Sorong Papua, Rangga (16) mengaku senang berada di pesantren ini. Hal ini dikarenakan ilmu-ilmu yang diberikan merupakan ilmu-ilmu kelas tinggi yang jarang dipelajari di pesantren-pesantren modern.

"Meski saya ini masih SMA saya akan terus tinggal hingga kuliah di pesantren ini. Jadi semacam ngekos gitu lah, tapi waktu luangnya saya pakai untuk mempelajari Agama Islam dengan ilmu-ilmu spesifik yang sulit didapat di pesantren lainnya," katanya.

Oleh karenanya Rangga berharap pesantren ini akan bisa dicontoh oleh berbagai pesantren di sekitarnya. "‎Jangan mempelajari agama secara setengah-setengah, pelajari secara utuh. Di pesantren ini itu ada semuanya," katanya.***

Bagikan: