Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Hejo Tekno Ajak Warga Cimahi Mengolah Sampah dengan Teknologi

Ririn Nur Febriani
null
null

 

CIMAHI, (PR).- Krisis penanganan sampah membutuhkan peran serta masyarakat. Perlu menumbuhkan kembali nilai-nilai sosial-budaya dalam pengelolaan sampah sejak dari sumber untuk mengantisipasi permasalahan lingkungan tersebut dibantu sentuhan teknologi. Demikian yang terungkap dalam Rapat Pembahasan Teknologi Persampahan di workshop Hejo Tekno Jalan Jenderal Amir Mahmud-Cihanjuang Kota Cimahi, Kamis, 5 September 2019.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi Jawa Barat Bambang Rianto mengatakan, setiap hari wilayah Bandung Raya memproduksi sampah hingga 6.000 ton dan jumlahnya terus bertambah seiring pertambahan penduduk dan tingkat konsumsi. TPA Sarimukti sekarang hanya muat 1.800 ton/hari, jika pindah ke TPA Legoknangka hanya muat kapasitas 2.000 ton/hari. "Sisanya mau kemana, masih sangat banyak sampah yang belum terkelola menjadi masalah luar biasa," ujarnya.

Kondisi tersebut turut terlihat di daerah aliran dan sempadan Sungai Citarum. "Memang sekarang krisis penanganan sampah, akibatnya terlihat di Citarum dan bahkan sungai yang ada di Jabar dipenuhi sampah," katanya.

Berbagai upaya dilakukan untuk menekan volume sampah yang diangkut ke TPA. Diantaranya dengan  gerakan 3R (reuse, reduce, recycle) yang dapat menjadikan sampah agar bernilai ekonomi serta pendirian bank sampah untuk menyerap sampah anorganik. "Namun, hal itu tidak  menyelesaikan sampah secara keseluruhan. "Maka butuh penerapan teknologi, sisa sampah yang tidak tertangani bisa diproses secara teknologi," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Gerakan Hejo melakukan demo pembakaran sampah menggunakan insenerator dengan sistem tungku dan treatment air (Stungta) hasil inovasi workshop Hejo Tekno. "Kami mengapresiasi dan mendorong agar segera memproses lisensi SNI. Alat seperti ini sudah ada beberapa di Indonesia namun kebanyakan gagal dan tidak berkelanjutan, karena tidak andal. Karena itu penting terstandarisasi sehingga tidak membahayakan lingkungan dan andal," katanya.

Ujung tombak permasalahan lingkungan terutama masyarakat. "Pengelolaan sampah secara komprehensif perlu melibatkan masyarakat. Makanya kami dorong pengelolaan sampah sejak dari sumber secara kawasan dibantu sentuhan teknologi. Hal ini bisa kita terapkan di Sungai Citarum sebagai pilot project bagian dari program Citarum Harum," jelasnya.

Eka Santosa selaku Ketua Umum DPP Gerakan Hejo mengatakan, sejak Bandung Raya Darurat sampah yang berlangsung 2005 lalu hingga kini pengelolaan sampah masih belum ada perubahan berarti. "Tetap kondisi darurat sampah masih terjadi," ujarnya.

Dengan problematika persampahan pihaknya berupaya mencari solusi. Tercetus ide soal program Kamisama, yaitu Kawasan Minimalisasi Sampah Mandiri, yaitu tercapainya kawasan dimana masyarakat pengelolaan sampah secara mandiri. "Secara komprehensif, masyarakat agar terbiasa mandiri mengelola sampah yang sebagai budaya hingga pemanfaatan teknologi lewat alat insinerator Stungta. Pengelolaannya pun bisa dilakukan bersama misal lewat Bumdes," ujarnya.

Pihaknya ingin merubah performa mengelola sampah konvensional yang semula angkut-buang menjadi dikelola secara bermartabat. "Pengelolaan sampah harus memiliki standar pelayanan serta upah layak bagi pekerjanya. Makanya dibuat sistem agar sampah dikelola sehingga menghasilkan nilai ekonomi," imbuhnya.

Masyarakat sebagai pelaku harus dikembalikan ke nilai-nilai dasar budaya dalam pengelolaan sampah. "Orangtua mengajarkan tidak boleh buang sampah ke sungai, pamali. Hal itu lambat-laun terkikis sehingga perlu dikembalikan ke karakter kesundaan sebagai warga Jabar dengan sikap gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan," tuturnya.

Pihaknya mengapresiasi program Citarum Harum yang digaungkan langsung Presiden RI Joko Widodo sehingga penanganan permasalahan lingkungan yang muncul bisa secara fokus digarap. "Pemerintah harus hadir sebagai fasilitator atau penyedia layanan. Namun, pada akhirnya masyarakat yang berdaya untuk menyelesaikan permasalahan sampah di lingkungan masing-masing," jelasnya.

Betha Kurniawan dari Hejo Tekno sebagai Divisi Teknologi Gerakan Hejo mengatakan, alat insinerator Stungta melalui proses pembelajaran dan uji coba cukup panjang. "Kami berusaha menerapkan sistem mengikuti standar nasional Indonesia (SNI) agar bisa diakui. Terutama agar teknologi ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat mulai dari skala terkecil permukiman hingga kawasan," katanya.

Pihaknya membuat prototipe alat dengan kapasitas 100 kg/jam dan 200 kg/jam dengan penggunaan 10 jam/hari. Dengan suhu ruang bakar 600-1000 derajat Celcius dapat memusnahkan hampir seluruh jenis sampah kering dan basah hingga tersisa 5 persen dari volume awal sampah. "Sistem Stungta membakar sampah menjadi abu, gas buang, partikulat, dan panas dengan pembakaran sempurna melalui filter dan treatmen asap sehingga tidak menimbulkan asap dan zat berbahaya," imbuhnya.

Alat serupa, diakui Betha, beberapa terdapat di Indonesia. "Alat ini sudah pernah diujicoba di bantaran Sungai Citarum dan hasilnya diakui. Kami pastikan alat ini hemat energi dengan minim bahan bakar, tanpa asap dan zat berbahaya sehingga ramah lingkungan, dan mudah diaplikasikan di lapangan untuk menunjang masyarakat mengolah sendiri sampah mereka sejak dari sumbernya," tuturnya.***

Bagikan: