Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Cerah berawan, 31 ° C

FKPL Curigai Proyek Normalisasi Sungai Citarum Makin Sempit

Tim Pikiran Rakyat
PROYEK normalisasi Sungai Citarum mulai dari Desa Rancakasumba Kecamatan Solokanjeruk sampai Desa Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, dipertanyakan pegiat lingkungan.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA
PROYEK normalisasi Sungai Citarum mulai dari Desa Rancakasumba Kecamatan Solokanjeruk sampai Desa Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, dipertanyakan pegiat lingkungan.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA

SOREANG, (PR).- Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FKPL) Kabupaten Bandung mempertanyakan proyek pengerjaan normalisasi Sungai Citarum sepanjang 5,5 km mulai dari Desa Rancakasumba Kecamatan Solokanjeruk sampai Desa Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. 

FKPL pun berharap, Pemkab Bandung proaktif menyikapi proyek normalisasi Sungai Citarum tersebut. 

"Kami melihat pengerjaan normalisasi Sungai Citarum sepertinya sempit dari kondisi sebelumnya. Ada informasi, penampang bagian bawah Sungai Citarum selebar 12,5 meter dan penampang atas sungai 16,5 meter. Itu yang kami pertanyakan," kata perwakilan FMPL Kabupaten Bandung Juarsa Juandi  di Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung, Senin 2 September 2019. 

Juarsa berharap pelebaran penampang Sungai Citarum bagian bawah selebar 16,5 meter, dan penampang atasnya 18 meter sejajar dengan batas tembok jembatan Patrol Jalan Raya Laswi, di atas aliran Sungai Citarum tersebut. 

"Soalnya, yang kami perhatian pengerjaan normalisasi Sungai Citarum sempit. Kami berharap, pengerjaan normalisasi Sungai Citarum lebih lebar dari kondisi sungai sebelumnya dalam upaya penanggulangan ancaman banjir disaat memasuki musim hujan di kawasan Majalaya dan sekitarnya," papar Juarsa. 

Antisipasi banjir

Ia berharap adanya proyek normalisasi itu dapat menanggulangi ancaman banjir. Selain itu dapat mempercepat genangan air disaat memasuki musim hujan. 

"Namun jika dalam pengerjaan normalisasi Sungai Citarum itu semakin menyempit dari kondisi sebelumnya, kami khawatir akan menambah ancaman banjir di kawasan Majalaya dan sekitarnya," katanya. 

Terkait pengerjaan normalisasi Sungai Citarum itu, imbuh Juarsa, perwakilan FMPL berencana untuk melakukan audensi ke BBWSC untuk mempertanyakan proyek pengerjaan normalisasi Sungai Citarum. 

"Kami berharap, BBWSC dapat memberikan informasi terang benderang terkait pengerjaan normalisasi tersebut. Kami berharap ada kajian ulang, terkait pengerjaan normalisasi Sungai Citarum," ucapnya. 

Setelah melakukan audensi itu, kata Juarsa, FMPL akan mendorong BBWSC untuk turun ke lapangan untuk sama-sama melakukan kajian ulang. "Niat baik kami ini, semata-mata hanya untuk menyelamatkan kawasan Majalaya dari ancaman banjir. Kami khawatir, mulai Desember 2019 mendatang, aliran air Sungai Citarum sudah mulai besar," ujarnya kepada wartawan Galamedia, Engkos Kosasih. 

Tebang pilih

Ia pun mempertanyakan kenapa pabrik yang ada di bantaran Sungai Citarum tak ditertibkan? Sementara lahan milik masyarakat dibebaskan dalam upaya mendukung pemerintah dalam upaya pengerjaan proyek normalisasi Sungai Citarum. 

Juarsa menduga, pembebasan lahan untuk proyek normalisasi Sungai Citarum ada tebang pilih. Sehingga ia menuntut ada keadilan dalam pembebasan lahan proyek pengerjaan normalisasi Sungai Citarum. Dengan harapan, pengerjaan normalisasi Sungai Citarum lebih lebar dan dalam penampang sungainya. 

"Kalau Sungai Citarum sempit, ini sama dengan menunggu bencana datang. Itu yang kami khawatirkan saat ini, setelah memantau pengerjaan proyek normalisasi Sungai Citarum," tandasnya. 

Terkait kekhawatiran itu, kata Juarsa, FMPL akan mengajak pihak BBWSC untuk menjadwalkan dan sama-sama turun ke lapangan melihat pengerjaan Sungai Citarum. 

"Dengan harapan bisa melakukan kajian ulang. Kami minta proyek normalisasi distop dulu, jangan dikerjakan dulu, sebelum ada kajian ulang," katanya.

Pembetonan

Di tempat sama, Pegiat Lingkungan lainnya, Iwan Bacek mengatakan, dalam hukum sungai, aliran air itu dari hulunya sempit dan mengalir ke bagian hilir dengan penampang sungai lebih lebar. 

"Ini yang saya perhatikan, lebar Sungai Citarum di kawaaan Gandok Ciraab cukup lebar, namun memasuki jembatan Patrol Jalan Raya Laswi menjadi sempit," katanya.

Iwan juga mendukung proyek normalisasi Sungai Citarum itu, dengan cara dibeton untuk melindungi bangunan lainnya. "Pembetonan itu untuk memudahkan pemeliharaan di saat mengeruk sedimentasi," katanya. 

Sama halnya yang dikatakan Camat Majalaya Drs. Ika Nugraha. Ia mempertanyakan proyek normalisasi Sungai Citarum. 

"Apakah lebar pengerjaannya Sungai Citarum itu menjadi sempit atau karena saat ini masih dalam pengerjaan, lebarnya menjadi cukup lebar dari sebelumnya? Itu yang kita pertanyakan," katanya. 

Ika mengatakan, jika proyek normalisasi Sungai Citarum menjadi sempit dari sebelumnya, dikhawatirkan akan menimbulkan ancaman banjir dari luapan Sungai Citarum di saat memasuki musim hujan. 

"Apalagi saat ini sudah ada pengerjaan pengecoran normalisasi sungai. Jangan sampai aliran Sungai Citarum di kawasan Majalaya lebih sempit, sedang di bagian hulunya lebih lebar yang masuk Desa Tanggulun Kecamatan Ibun, itu akan menimbulkan ancaman banjir di Majalaya karena terjadi luapan air lebih besar ke kawasan Majalaya," pungkasnya.***

Bagikan: