Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Cerah, 25.6 ° C

Industri 4.0, Balai Besar Tekstil Fokus Pengembangan Tekstil Fungsional

Catur Ratna Wulandari
KEPALA Puslitbang Industri, Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat atranspoetasi, dan Elektronika Kemenperin Sony Sulaksono memaparkan materinya, saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Tekstil 2019, di Transhotel, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Rabu, 28 Agustus 2019. Seminar mengangkat tema Tantangan dan Peluang Inovasi Tekstil dan Apparel di Era Indistri 4.0.*/ADE BAYU INDRA/PR
KEPALA Puslitbang Industri, Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat atranspoetasi, dan Elektronika Kemenperin Sony Sulaksono memaparkan materinya, saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Tekstil 2019, di Transhotel, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Rabu, 28 Agustus 2019. Seminar mengangkat tema Tantangan dan Peluang Inovasi Tekstil dan Apparel di Era Indistri 4.0.*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Menghadapi era industri 4.0, Balai Besar Tekstil akan fokus kepada pengembangan tekstil fungsional dan material ramah lingkungan (green textile). Balai Besar Tekstil tengah membangun jejaring dari hulu ke hilir sehingga hasil penelitian dan pengembangan bisa diterapkan di sektor industri.

Tekstil fungsional merupakan tekstil yang mempunyai fungsi khusus, selain sebagai bahan sandang. Misalnya saja tekstil yang digunakan sebagai bahan pelapis di bagian dalam atap mobil, karpet, dan lain sebagainya.

Kepala Balai Besar Tekstil Bandung Wibowo Dwi Hartoto menjelaskan, permintaan tekstil fungsional secara global menunjukkan perkembangan pesat pada kurun waktu 2016-2017. Peningkatan permintaan dunia bisa mencapai 7-9 persen.

"Itu yang kita upayakan (manfaatkan) dengan apa yang kita lakukan. Didorong lagi dengan penerapan Making Indonesia 4.0 bisa lebih cepat," kata Wibowo di sela-sela pelaksanaan Seminar Nasional Tekstil (SNT) 2019: Tantangan dan Peluang Inovasi Tekstil dan Apparel di Era Industri 4.0 yang dilaksanakan di Trans Convention Centre, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Rabu, 28 Agustus 2019.

Ia mengatakan, di era industri 4.0 ini, tak hanya soal penerapan teknologi. Titik beratnya justru bagaimana rantai suplai dan penelitian pengembangan terkait material.

"Rencana tahun depan ada pengadaan alat melt spinning (pemintalan benang). Ini yang akan jadi roh kegiatan kelitbangan untuk menciptakan banyak functional textiles," tuturnya.

Wibowo menjelaskan, di era transformasi teknologi ini, konektivitas menjadi hal penting. Oleh karena itu perlu membangun jejaring dengan semua pelaku dan penyedia material sehingga hasil-hasil penelitian dan pengembangan bisa digunakan oleh industri. Dalam upaya itu, Balai Besar Tekstil Bandung membangun kerja sama dengan berbagai pihak dari hulu hingga hilir. 

Di SNT 2019 ini sekaligus dilaksanakan penandatanganan Surat Perjanjian Kerja Sama antara Balai Besar Tekstil dengan Fakultas Farmasi Unpad, juga dengan PT Trisulatex. Selain itu juga penandatanganan nota kesepahaman dengan PT Nano Center Indonesia, PT Nukieus Indonesia, Forum Jaga Seke Tatar Sunda, PT Enerco Inter Selaras, dan PT Rekadaya Multi Adiprima.

"Ini untuk membangun konektivitasnya. Di sektor hulu misalnya dengan jaga Seke. Lalu kami melaksanakan litbangnya, salah satunya dengan Fakultas Farmasi, dengan Trisulatex juga melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan. Sementara dengan Rekadaya untuk hilirisasinya. Jadi dari hulu sampai hilir sudah nyambung," tuturnya.

Tantangan sumber daya manusia

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Sony Sulaksono mengatakan, tantangan terbesar era revolusi industri ialah menyediakan sumber daya manusianya. "Ini juga tantangan di negara-negara maju," kata Sony usai membuka dan menjadi pembicara kunci di SNT 2019.

Kementerian Perindustrian sendiri mendorong lahirnya SDM yang bermutu lewat pembentukan Badan Pengembangan SDM Industri. Kurikulum pengajaran juga mulai diubah menjadi berbasis teknologi 4.0 dan siap mengantisipasi teknologi yang akan datang.

Dalam paparannya, Sony mengatakan, industri tekstil harus memulihkan daya saing global dengan meningkatkan kemampuan hulu dan fokus pada pakaian fungsional. "Peluangnya besar," uajrnya. Hal itu didasari pada pertumbuhan konsumsinya terbesar ASEAN. Pasar domestiknya pun besar. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri memberi kontribusi paling besar terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II 2019, yaitu sebesar 19,52 persen. Sektor industri tekstil dan pakaian jadi melejit dengan pertumbuhan sebesar 20,71 persen. 

SNT 2019 merupakan forum ilmiah yang digelar rutin dua tahun sekali. Tahun ini, SNT diikuti oleh 150 peserta dari kalangan instansi pemerintah, industri, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat umum. Selain Sony, hadir sebagai pembicara utama ialah Ketua Dewan Serat Indonesia Euis Saedah, Pakar Tekstil, Kimia dan Rancang bangun Badan Pengakjian dan Penerapan Teknologi Sudirman Habibie, serta Direktur Asia, Managing Director MPDV Asia Pte. Ltd. Sascha Graef. 

Pelaksanaan SNT ini, kata Wibowo, penting untuk membangun ekosistem inovasi melalui kolaborasi lintas lembaga, baik dari lembaga litbang pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi, juga industri sendiri. 

Tahun ini, SNT menyajikan 31 makalah yang berasal dari berbagai lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah seperti BPPT, BBT, Pusat Produksi Bersih Nasional, dan Balai Besar Kerajinan dan Batik; perguruan tinggi, diantaranya Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Polteknik ATK Yogyakarta, Universitas Jenderal Soedirman, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, dan Politeknik STT Tekstil Bandung. SNT 2019 juga menghadirkan expo yang menampilkan hasil penelitian Balai Besar Tekstil serta produk industri dari PT CS Indonesia dan PT Pratama Graha Semesta.***

Bagikan: