Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.3 ° C

Ini Asal-usul Penyematan Kata Gajah dalam Leuwigajah

Ririn Nur Febriani
FESTIVAL gajah di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Sabtu, 24 Agustus 2019.*/RIRIN NUR FEBRIANI/PR
FESTIVAL gajah di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Sabtu, 24 Agustus 2019.*/RIRIN NUR FEBRIANI/PR

GAJAH diidentikkan dengan Kelurahan Leuwigajah di Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Akan tetapi, tak semua masyarakat mengetahui asal usul sejarah nama daerah atau toponimi Leuwigajah.

Untuk itu, latar belakang penyematan nama Leuwigajah dihidupkan lewat Festival Gajah yang berlangsung pada Sabtu, 24 Agustus 2019.

Ratusan warga dengan atribut kepala aneka gajah turun ke jalan di kawasan Kelurahan Leuwigajah. Mereka turut membawa nampana atau tandu berisi hasil bumi yang didesain berbentuk gajah, demi meramaikan Festival Gajah II.

Mereka mengarak jampana tersebut dari Kantor Kecamatan Cimahi Selatan di Baros, dan finish di Lapangan Poral Leuwigajah. Kreasi gajah yang dibuat sangat beragam, ada yang membuat kepala gajah mamoth, gajah pelangi hingga gajah bersayap seperti dalam dongeng. Sambil mengarak jampana, masyarakat menampilkan beragam kesenian meramaikan iring-iringan karnaval.

Kegiatan diikuti perwakilan dari 20 RW se-Kelurahan Leuwigajah. Tahun ini memasuki pelaksanaan kedua. Kegiatan berlangsung semarak.

Wali Kota Cimahi Ajay M. Priatna mengatakan, pihaknya mengapresiasi antusiasme masyarakat meramaikan Festival Gajah II. "Antusias dari warga sangat tinggi, setiap RW berpartisipasi dan mengirimkan hampir 200 warganya," ujarnya, Minggu, 25 Agustus 2019.

FESTIVAL gajah di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Sabtu, 24 Agustus 2019.*/RIRIN NUR FEBRIANI/PR

Pemandian gajah

Soal pengambilan tema gajah, lanjutnya, wilayah Leuwigajah sangat lekat dengan sejarah pemandian gajah di Cimahi Selatan. Dalam buku sejarah Kota Cimahi, berdasarkan cerita sejarah Babad Batulayang, ketika Dalem Batulayang yaitu Dalem Abdul Rahman ditugaskan membantu VOC di Palembang, jabatan Dalem Batulayang lalu diserahkan kepada adiknya. Tahun 1770, Abdul Rahman kembali pulang ke Batulayang, sambil membawa oleh-oleh berupa seekor gajah.

Dalem Batulayang Abdul Rahman atau dikenal sebagai Dalem Gajah, tinggal di daerah Kampung Bojong Laja, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Selama hidupnya, gajah itu selalu dimandikan di sebuah leuwi atau lubuk di daerah Cimahi Selatan.

Lama-lama, tempat itu dikenal dengan sebutan Leuwigajah. "Sehingga, nama Leuwigajah melekat dipakai hingga kini dan menjadi nama kelurahan. Untuk mempertegas keterkaitan, patung gajah dan aksesoris daerah digunakan sebagai ikon daerah tersebut," katanya.

Menurut Ajay, yang digelar Warga Leuwigajah tersebut sebagai wujud pelestarian sejarah dan menjaga makna nama Leuwigajah. "Asal usul nama daerah yang merupakan warisan dari leluhur sudah semestinya kita perkenalkan sejarahnya kepada masyarakat sehingga tetap lestari sampai generasi mendatang," ucapnya menjelaskan.

Warga antusias

Sementara itu, Ketua RW 13 Momon Suparlan yang juga menjadi salah seorang peserta mengatakan, kegiatan ini juga sekaligus rangkaian acara memeringati HUT ke-74 Republik Indonesia.

"Warga sangat antusias, mulai dari pemilihan tema pembuatan atribut, sampai pelaksanaan karnaval," katanya.

Pihaknya membuat gajah berwarna hitam bertema gajah mamoth. "Alhamdulillah kita berhasil jadi juara ketiga. Persembahan buat warga RW 13. Semoga nanti bisa semakin solid lagi," tuturnya.***

Bagikan: