Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Festival Batukarut Gaungkan Potensi Goong Renteng

Handri Handriansyah
SEJUMLAH penari unjuk kebolehannya  di depan sejumlah pengunjung saat gelaran Bathurifest Wigena Taruka di lapangan Desa Batukarut, Arjasari, Kabupaten Bandung, Rabu, 21 Agustus 2019. Selain menampilkan sejumlah kesenian daerah, acara tersebut juga menggelar sejumlah produk UMKM warga yang bertujuan untuk mengangkat potensi masyarakat sekitar.*/ADE MAMAD/PR
SEJUMLAH penari unjuk kebolehannya di depan sejumlah pengunjung saat gelaran Bathurifest Wigena Taruka di lapangan Desa Batukarut, Arjasari, Kabupaten Bandung, Rabu, 21 Agustus 2019. Selain menampilkan sejumlah kesenian daerah, acara tersebut juga menggelar sejumlah produk UMKM warga yang bertujuan untuk mengangkat potensi masyarakat sekitar.*/ADE MAMAD/PR

SOREANG, (PR).- Berbagai kesenian khas seperti kuda renggong, dan goong renteng mewarnai gelaran Batukarut HUT RI Festival (Bathurifest) di Desa Batukarut, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Rabu, 21 Agustus 2019. Dalam helatan tersebut juga dipamerkan sejumlah serta produk inovatif Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan khas.

Camat Arjasari Joko Mardianto mengatakan, wilayahnya selama ini menyimpan sejumlah potensi yang bisa menjadi daya tarik wisata. "Oleh karena itu, tujuan dari acara ini adalah untuk memperkenalkan potensi yang ada di Kecamatan Arjasari," ucapnya.

Selain seni budaya, Joko melansir bahwa UMKM Kecamatan Arjasari juga memiliki banyak produk inovatif dengan keunggulan dan ciri khas tersendiri. Sayang selama ini potensi tersebut belum banyak dilihat dan dikenal oleh dunia luar.

"Dengan adanya festival ini kami harap masyarakat di daerah lain bisa melihat bahwa di Batukarut khususnya dan Arjasari umumnya, banyak menyimpan potensi berdaya tarik," kata Joko. 

Dari sisi kuliner misalnya, Joko mencontohkan bahwa Desa Batukarut memiliki produk burayot, ali agrem dan ladu. Sedangkan Desa Patrolsari memiliki peuyeum (tape) khas yang berbeda dengan daerah lain, begitu pula Desa Pinggirsari memiliki produk unggulan tepung ubi ungu.

Menurut Joko, rencananya pekan depan, Desa Mangunjaya juga akan menggelar festival serupa. Ke depan, ia pun berharap kegiatan seperti itu juga bisa digelar di desa-desa lain.

Joko berharap, Festival Batukarut dan Mangunjaya bisa menjadi titik awal program yang lebih besar dalam memperkenalkan potensi daerah. Apalagi saat ini Pemkab Bandung sendiri memang tengah menggenjot pembentukan desa-desa wisata.

PENARI menampilkan tari sisingaan di depan sejumlah pengunjung saat gelaran Bathurifest Wigena Taruka di lapangan Desa Batukarut, Arjasari, Kabupaten Bandung, Rabu, 21 Agustus 2019. Selain menampilkan sejumlah kesenian daerah, acara tersebut juga menggelar sejumlah produk UMKM warga yang bertujuan untuk mengangkat potensi masyarakat sekitar.*/ADE MAMAD/PR

Sementara itu Pjs Kepala Desa Batukarut Ade Satia mengatakan, ide awal dari festival tersebut adalah memperkenalkan potensi seni budaya Batukarut yang tidak dimiliki daerah lain. Terutama Goong Renteng yang di desa tersebut sudah ada sejak abad ke-16.

"Goong renteng di sini memiliki nilai historis dan sakral. Biasanya hanya diperdengarkan setahun sekali dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Sayang hal ini tidak diketahui oleh banyak orang dari luar Kabupaten Bandung," tutur Ade.

Ade mengakui jika dirinya memang tidak begitu paham soal sejarah pasti goong renteng tersebut. "Yang jelas ini diciptakan oleh salah seorang tokoh Batukarut, Embah Bandong, namun detil sejarahnya saya juga belum terlalu hafal," ujarnya.

Sementara itu berdasarkan penelusuran literasi yang "PR" lakukan, goong renteng memang merupakan jenis gamelan Sunda paling tua. Namun goong jenis itu hanya ada di beberapa daerah saja di Jawa Barat.

Selain Desa Batukarut, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Wikipedia melansir bahwa goong renteng juga dapat ditemukan di di Kabupaten Sumedang, Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Namun goong renteng Batukarut memang memiliki keunikan tersendiri berkat lagu-lagu yang diciptakan oleh Embah Bandong dan tercatat dalam sejarah pernah ditabuh pada acara Congres Java Instituut (17 Juni 1921) di Bandung.***

Bagikan: