Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Umumnya berawan, 20 ° C

Budaya Sunda di Tengah Modernisasi

Hendro Susilo Husodo
TALKSHOW "Sundalineals" yang digelar oleh komunitas anak muda bentukan Partai Golkar, Praja Muda Beringin (PMB). Talkshow bertema "Melestarikan Budaya Sunda di tengah Modernisasi" itu digelar di Kopi Armor, Jalan Bukit Pakar Utara, Kota Bandung, Selasa, 20 Agustus 2019.*/HENDRO HUSODO/PR
TALKSHOW "Sundalineals" yang digelar oleh komunitas anak muda bentukan Partai Golkar, Praja Muda Beringin (PMB). Talkshow bertema "Melestarikan Budaya Sunda di tengah Modernisasi" itu digelar di Kopi Armor, Jalan Bukit Pakar Utara, Kota Bandung, Selasa, 20 Agustus 2019.*/HENDRO HUSODO/PR

BANDUNG, (PR).- Di era modernisasi saat ini, penting bagi masyarakat untuk menghormati budaya daerah lain tanpa meninggalkan budaya daerah sendiri. Pasalnya, kebudayaan di suatu daerah mencerminkan identitas masyarakat di daerah tersebut. 

Demikian mengemuka dalam talkshow "Sundalineals" yang digelar oleh komunitas anak muda bentukan Partai Golkar, Praja Muda Beringin (PMB). Talkshow bertema "Melestarikan Budaya Sunda di tengah Modernisasi" itu digelar di Kopi Armor, Jalan Bukit Pakar Utara, Kota Bandung, Selasa (20/8/2019).

Dalam talkshow tersebut, hadir sebagai pembicara Ketua DPD I Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi, budayawan Sunda Budi Dalton, anggota DPR RI terpilih Nurul Arifin, dan musisi Purwacaraka. Talkshow diikuti oleh puluhan anak muda.

Panglima PMB Dedy Arianto mengatakan, budaya merupakan identitas sebuah bangsa. Menurut dia, saat ini kebudayaan di Indonesia mulai tersisihkan oleh pengaruh barat yang masuk dalam sendi kehidupan masyarakat hari ini. Oleh karena itu, budaya mesti dijaga sebagai persatuan bangsa.

"Di era hari ini budaya sangat penting, jangan sampai hilang. Meskipun budaya kita berbeda-beda, kita tetap satu. Kami berharap di seluruh daerah, baik Sunda, Jawa, atau Papua, bisa terus menjaga dan menyosialisasikan budayanya masing-masing, dan tetap menjaga persaudaraan," kata Dedy.

Dia menilai, budaya bangsa yang mencerminkan kearifan lokal, seperti kerja bakti atau gotong royong, juga semakin tersisihkan seiring dengan pengaruh budaya barat yang cenderung individualis. 

Ketua DPD Golkar Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, budaya hadir dalam diri setiap masyarakat. Dengan demikian, budaya menjadi identitas dari masyarakat. "Kita tidak akan pernah ada perbedaan, dan orang akan saling menjaga," tegasnya.

Sementara itu, budayawan Budi Dalton mengatakan, jargon yang selalu menjadi aksesoris politik dalam budaya, yaitu "urang kudu ngamumule budaya" atau kita harus melestarikan budaya sudah tidak relevan lagi. Menurut dia, yang harus dilakukan saat ini ialah gerakan nyata untuk terus menjadikan budaya sebagai identitas.

"Jargon kita harus melestarikan budaya, saya pikir sudah tidak relevan, tapi lebih kepada teknis atau gerakan. Hal yang seperti ini (diskusi kebudayaan) jauh lebih bermanfaat, karena minimal kita menghasilkan satu konsep yang bisa dilaksanakan. Itu menjadi sebuah aplikasi pekerjaan, jadi bukan hanya dalam jargon saja," katanya.***

Bagikan: