Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Awal Musim Hujan Mundur hingga November 2019

Dewiyatini
ILUSTRASI.*/DOK. PR
ILUSTRASI.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Awal musim hujan di wilayah Jawa Barat umumnya terjadi pada November 2019. Atau mundur dari rata-rata tahunan sepanjang 30 hari. Kendati demikian, sudah ada beberapa wilayah di Jawa Barat yang memulai masa hujannya pada Oktober 2019.

Kepala BMKG Jabar Tony Agus Wijaya menyebutkan kondisi iklim di Indonesia dipengaruhi oleh keadaan suhu muka air laut, sehingga kondisi cuaca di satu daerah dengan daerah lainnya berbeda. Sehingga, awal musim hujan di pulau Jawa termasuk Jabar dan Jakarta, tidak merata.

"Untuk awal musim hujan diperkirakan mundur antara 10 hingga 30 hari dari normalnya bersamaan dengan sebagian daerah di pulau Sumatera, NTB, NTT, Kalteng, Kalsel, sebagian Kaltim, sebagian kecil Sulteng, Sulsel dan Maluku," kata Tony pada Selasa, 20 Agustus 2019.

Tony mengatakan, BMKG telah memprediksi mulai Oktober 2018 jika wilayah Indonesia akan terjadi El Nino lemah. Pada Agustus 2019, hasil pemantauan dan analisa bahwa El Nino lemah telah berakhir, sehingga anomali di Samudra Pasifik kembali menjadi netral.

"Kondisi netral ini diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2019," ujarnya.

Akan tetapi, suhu muka air laut perairan Indonesia di bagian selatan ekuator dan Samudra Hindia sebelah barat Sumatera lebih dingin dari suhu normal. Ini berakibat pada proses penguapan air laut yang lebih sulit terjadi.

Dengan kata lain, lanjut Tony, hal itu berdampak pada kurangnya pembentukan awan-awan hujan. "Sehingga, curah hujan masih rendah sampai dengan Oktober 2019," ucapnya.

Selanjutnya, Tony mengatakan puncak musim hujan diprediksi pada Januari-Februari 2020. Tony juga mengingatkan saat puncak musim hujan, sejumlah wilayah di Jabar rentan terhadap bencana seperti banjir dan tanah longsor.

Kondisi kemarau panjang pada 2019, menimbulkan kekhawatiran pada petani sayuran di wilayah Bandung Utara. Diakui salah satu petani, Popi (50), sudah sebulan lahannya tidak diguyur hujan. Padahal ia tengah menanam tanaman dengan varietas baru.

"Memang masih bisa bertahan meskipun tidak diguyur hujan. Tetapi saya tidak yakin di bulan-bulan berikutnya. Apalagi harus menunggu sampai November 2019," ungkapnya.

Popi menyebutkan ia akan berupaya mencari sumber air untuk menjaga keberlangsungan hidup tanamannya. Kendati hal tersebut, ujara Popi, akan menambah biaya operasional tanam.

Diberitakan sebelumnya, sebagian besar wilayah di Jawa Barat berstatus waspada hingga awas disebabkan rendahnya curah hujan. BMKG Jawa Barat menyatakan kondisi tersebut berpotensi bahaya kekeringan.

Bahaya kekeringan terjadi karena semakin berkurangnya ketersediaan di sumber-sumber air seperti sungai, danau, dan waduk.  Menurut Kepala BMKG Jabar, Tony Agus Wijaya, hal itu akan mengakibatkan terjadinya krisis air bersih, meningkatnya potensi gagal panen, dan kenaikan harga komoditas pertanian. 

Berdasarkan peta Monitoring Hari Tanpa Hujan Provinsi Jawa Barat yang diperbarui pada  31 Juli 2019 dan Peta Analisis Curah Hujan Dasarian III Juli 2019 serta peta prakiraan peluang curah hujan dasarian I Agustus 2019 Provinsi Jawa Barat, daerah yang berkategori awas adalah yang tidak hujan berturut-turut lebih dari 60 hari.***

Bagikan: