Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Anugerah Bale Seni Barli dalam Sebelas Kategori

Muhammad Fikry Mauludy
GUBERNUR Jawa Barat M. Ridwan Kamil melakukan goresan pertama di atas kanvas menandai pembukaan Anugerah Barli “Daur Ulang “ di Aula Barat Gedung Sate Bandung disaksikan Nakis Barli (dua kanan) serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Dedi Taufik, Senin, 19 Agustus 2019./RETNO HERIYANTO/PR
GUBERNUR Jawa Barat M. Ridwan Kamil melakukan goresan pertama di atas kanvas menandai pembukaan Anugerah Barli “Daur Ulang “ di Aula Barat Gedung Sate Bandung disaksikan Nakis Barli (dua kanan) serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Dedi Taufik, Senin, 19 Agustus 2019./RETNO HERIYANTO/PR

BANDUNG, (PR).- Bale Seni Barli memberikan Anugerah Barli kepada 11 kategori, di Gedung Sate, Bandung, Senin, 19 Agustus 2019. Penghargaan itu dipersembahkan untuk mengenang kiprah sang maestro lukis mendiang Barli Sasmitawinata.

Pimpinan Bale Seni Barli Nakis Barli menuturkan, Anugerah Barli merupakan representasi dari spirit yang dimiliki almarhum Barli semasa hidup hingga akhir hayat. Bale Seni Barli memberikan penghargaan bagi tokoh dan insan yang memiliki andil penting dalam gerak langkah kehidupan Barli serta kemajuan Bale Seni Barli.

Ada 11 penerima Anugerah Barli 2019 untuk kategori umum, yakni John Mamesah, kolektor lukisan terbesar, Solihin Gautama Purwanegara, Gubernur Jawa Barat periode 1970-1975 yang merupakan inisiator pemakaman Alm. Barli di Taman Makan Pahlawan, Cikutra, Kota Bandung, serta Buna Wijaya, generasi penerus dan pemerhati Balai Seni Barli.

Salah satu Dewan Pendiri Viatikara, Tanaka Hardhy, juga mendapat anugerah itu. Juga pendakwah keliling dari kaki Gunung Galunggung sampai Amerika Serikat, Fatimah Avalpo Suprayogi, pemerhati kegiatan Balai Seni Barli, Sabana Prawirawidjaja, dan perempuan berprestasi, pemerhati lingkungan hidup, dan pemerhati Balai Seni Barli, Heni Smith.

Empat lainnya diberikan kepada murid berprestasi Barli yang telah menggelar pameran di mancanegara, Chusin Setiadikara, penyiar pertama TVRI Jawa Barat Anna Anggraeni, Direktur Utama Kota Baru Parahyangan (lokasi Balai Seni Barli) Ryan Brasali, serta media publikasi Balai Seni Barli, Pikiran Rakyat.

“Anugerah ini merupakan satu prestasi dari seniman muda untuk maju melangkah lebih terarah. Anugerah juga diberikan bagi tokoh juga pihak yang terus berupaya meningkatkan pendidikan untuk memajukan seni,” tutur Nakis.

Selain 11 kategori umum, Anugerah Barli juga diberikan bagi tiga kategori khusus hasil kompetisi drawing terbaik dari 150 lukisan yang dipamerkan yakni Tetep Yadi Hermawan dari Kabupaten Cianjur, Cucu Hadis dari Kabupaten Tasikmalaya, dan Rizki Lutfi Wiguna dari Kabupaten Garut.

Pameran

Kurator pameran karya lukis Anugerah Barli 2019, Rizki A. Zaelani menuturkan, ada 91 karya yang dipamerkan di Gedung Sate. Pameran ini diisi seniman muda dari generasi murid Barli. Penyebaran inspirasi dari Barli telah berkembang hingga ke daerah pelosok.

“Mereka tidak menyebut lukisan itu realis. Seni itu menggambarkan keindahan alam, keindahan manusia. Jadi Pak Barli tidak pernah mengajarkan bahwa seni itu berkutat di dalam problem-problem yang rumit. Dia seperti pandangan kebanyakan orang, yaitu kesempatan orang untuk beristirahat, untuk mendapatkan momen untuk melakukan refleksi. Seni itu dinilai sebagai keindahan,” ujarnya.

Berbeda dengan seni yang berkembang di kalangan anak muda dengan bertaburan kritik, Barli menebar seni bagian dari ajaran yang dicontohkan oleh alam. Termasuk pada penggambaran figur-figur manusia.

Rizki menuturkan, semasa hidupnya Barli senang melukis sosok orang biasa yang memiliki karakter. Ada ajaran moral dalam arti melebur menjadi biasa, seniman itu bagian dari kehidupan biasa.

“Hidup itu sebenarnya prinsip dari falsafah Barli yang melihat karya seni adalah bagian dari peristiwa hidup. Jadi bukan sebuah intervensi atau kritik, tetapi sebuah refleksi tentang keberlangsungan hidup. Dia selalu menyatakan harmoni,” kata Rizki.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, meskipun sosok tokohnya telah tiada bukan berarti karya dan inspirasinya sirna. Terus berkembangnya Bale Seni Barli membuktikan jika inspirasi Barli terus menerus ditransfer kepada generasi seterusnya.

“Jadi saya mendukung lahirnya pendidikan-pendidikan seni rupa, sehingga dunia kita tidak melulu sifatnya hal-hal yang keras, tetapi juga hal estetika. Sehingga ini memperkuat konsep pengembangan sumber daya manusia yang serba bisa, ada estetikanya, ada akhlaknya, ada kecerdasannya,” tuturnya.***

Bagikan: