Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20 ° C

Sempat Dicibir, Kopi Kabupaten Bandung Kini Diterima di Pasar Internasional

Handri Handriansyah
Konferensi pers acara 3rd Bandung Coffee Festival 2019 di Soreang, Kabupaten Bandung, Senin, 19 Agustus 2019. Acara ini akan berlangsung 24-25 Agustus 2019 di Festival Citylink, Kota Bandung.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
Konferensi pers acara 3rd Bandung Coffee Festival 2019 di Soreang, Kabupaten Bandung, Senin, 19 Agustus 2019. Acara ini akan berlangsung 24-25 Agustus 2019 di Festival Citylink, Kota Bandung.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

SOREANG, (PR).- Gelaran 3rd Bandung Coffee Festival 2019 diharapkan bisa semakin mengangkat popularitas kopi Kabupaten Bandung ke tingkat internasional. Selain itu, event tersebut juga harus dijadikan momen oleh para petani Kabupaten Bandung untuk meningkatkan wawasan dalam menguji cita rasa produk mereka.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan, pertanian kopi di Kabupaten Bandung dimulai sejak masa rintisan pada 2003-2006. "Saat itu kami gencar memperkenalkan kopi sebagai komoditas unggulan pengganti tanaman hortikultura yang banyak merambah hutan dan kebun," ujarnya saat konferensi pers 3rd Bandung Coffee Festival 2019 di Soreang, Senin, 19 Agustus 2019.

Awalnya, kata Tisna, Distan sering mendapat cibiran dan tertawaan dari berbagai kalangan, terutama petani. Soalnya, kopi diragukan bisa mengganti hortikultura yang lebih cepat dipanen dan mendatangkan pendapatan bagi petani.

Seiring waktu, program tersebut akhirnya berbuah hasil manis hingga kopi Kabupaten Bandung masuk golongan spesialti dengan ciri khas rasa lemonnya. "Dalam tiga tahun terakhir, luas tanam kopi pun semakin luas hingga mencapai 1.000 hektar," ucapnya.

Menurut Tisna, kopi Kabupaten Bandung saat ini sudah diterima pasar lokal dan internasional. Harganya pun terbilang tinggi dengan tren yang terus meningkat.

Meskipun dmeikian, Tisna mengaku masih minimnya pengetahuan petani soal uji cita rasa kopi. Hal itu membuat masih ada petani yang tertipu oleh eksportir atau pedagang, sehingga kopi mereka diterima dengan harga rendah.

"Kalau sudah menguasai uji cita rasa, petani bisa memiliki posisi tawar yang lebih tinggi. Ketika kopi mereka dinyatakan kualitas rendah, mereka bisa berargumen melalui uji cita rasa," tutur Tisna.

Meningkatkan kemampuan petani

Sejak beberapa waktu lalu, Tisna mengaku bahwa pihaknya pun terus meningkatkan kemampuan petani dalam uji cita rasa. Selain sejumlah workshop, gelaran 3rd  Bandung Coffee Festival 2019 pun menjadi salah satu sarana yang diharapkan bisa mendongkrak kemampuan petani dalam uji cita rasa.

Selain itu, event tersebut juga diharapkan membuka komunikasi yang lebih intens di masa depan antara petani dan pedagang. Dengan begitu, petani pun mengetahui kondisi pasar kopi dunia dan bisa beradaptasi sehingga tidak mematok harga terlalu tinggi ketika harga pasaran dunia turun.

Menurut Tisna, kualitas memang menentukan harga jual kopi di suatu negara. Ia mencontohkan di Australia, kopi Kabupaten Bandung dihargai 10-15 dolar AS per kilogram. Harga itu lebih tinggi dari kopi asal Amerika yang hanya dipatok 5 dolar AS per kilogram.

"Namun kalau terlalu mahal dan tidak menyesuaikan dengan kondisi pasar, kopi kita juga akan sulit bersaing, karena 90 persen peminat kopi di Australia adalah peminat kopi campuran (blended) bukan single origin, sehingga mereka tidak terlalu memerlukan kopi dengan kualitas tinggi," kata Tisna.

Selain itu, Tisna menegaskan bahwa pola perilaku konsumen akan tetap sama, di mana mereka menginginkan kualitas tinggi dengan harga serendah mungkin. Oleh karena itu, harga tinggi pun harus tetap bisa menyesuaikan dengan kondisi pasar jika tidak ingin tergerus.

"Sekarang di Bengkulu sudah masuk kopi asal Vietnam dengan harga rendah. Tidak tertutup kemungkinan kopi Vietnam itu masuk ke Kabupaten Bandung dan menyaingi kopi lokal karena kualitasnya tidak terlalu jauh di bawah, tetapi harganya jauh lebih rendah," tutur Tisna.

Sementara itu, Project Manager 3rd Bandung Coffee Festival dan Indonesian Coffee Master 2019 Henry Darmawan mengatakan, puncak acara tersebut digelar pada 24-25 Agustus 2019 di Festival Citylink.

"Selain memamerkan produk kopi unggulan asal Kabupaten Bandung dan Jabar, ada juga gelaran Kompetisi Indonesian Coffee Master," ujarnya.

Kompetisi tersebut, kata Henry, diikuti oleh 16 dari total sekitar 40 peserta yang sudah disaring sejak Februari lalu. Mereka akan bertanding dalam enam disiplin lomba untuk memperebutkan tiket sebagai Duta Kopi Jawa Barat dan dikirim ke London untuk mengikuti kompetisi serupa tingkat internasional.***

Bagikan: