Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Motor Atraksi Nyelonong dan Senggol Warga Soreang yang Tengah Menonton

Handri Handriansyah
SALAH satu penampilan dalam acara karnaval di Soreang, Kabupaten Bandung, dalam rangka memeriahkan peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-74, Minggu, 18 Agustus 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR
SALAH satu penampilan dalam acara karnaval di Soreang, Kabupaten Bandung, dalam rangka memeriahkan peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-74, Minggu, 18 Agustus 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

 

SOREANG, (PR).- Meskipun diwarnai kekecewaan akibat jadwal yang molor serta insiden kecil, gelaran Karnaval Kemerdekaan Sabilulungan di Jalan Alfathu, Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu, 18 Agustus 2019, tetap berlangsung meriah. Berbagai atraksi yang disajikan, cukup menghibur masyarakat yang datang dan menanti sejak pagi di kawasan tersebut.

Salah seorang warga asal Kecamatan Ciparay Heri (35) mengaku sudah berangkat dari rumahnya sejak pukul 05.00 WIB. "Saya buru-buru, karena informasinya pukul 06.30 acara sudah mulai dan saya bersama keluarga ingin menyaksikan dari awal," ujarnya.

Heri pun mengaku kecewa karena pada kenyataannya acara baru dimulai sekitar tiga jam dari kedatangannya di Soreang sekitar pukul 06.00 WIB. Beruntung, sejumlah atraksi termasuk tarian kolosal Ceta Cetok Kuminyar membuat Heri sekeluarga terhibur sehingga melupakan kekecewaan tersebut.

Molornya jadwal juga dikeluhkan oleh sejumlah orangtua pengisi acara yang mendampingi anak mereka sejak pukul 05.00 WIB. Mereka bahkan sempat memprotes panitia yang ditemui di sekitar lokasi karena acara tak kunjung setelah menunggu selama empat jam lebih.

Salah satu orangtua peserta sebut saja Deni (37) mengaku panitia memberi informasi bahwa anaknya harus sudah berada di lokasi sejak pukul 05.00 WIB. "Kami kecewa panitia tidak ada koordinasinya ketika dari jadwal semula pukul 07.00 WIB sampai sekarang hampir pukul 10.00 WIB anak-anak kami masih harus berpanas-panasan menunggu giliran tampil," ucapnya.

Berdasarkan pantauan "PR", peserta karnaval memang sudah bersiap di lokasi sejak pagi. Begitu pula masyarakat pengunjung yang sudah berlomba-lomba mencari posisi terbaik untuk menyaksikan gelaran spektakuler dari para peserta karnaval tersebut.

Meskipun demikian, secara resmi Karnaval Kemerdekaan Sabilulungan sendiri baru dimulai dengan kedatangan Bupati Bandung Dadang M. Naser beserta jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah sekitar pukul 09.15. Pada kesempatan itu, Bupati dan Muspida datang dengan mengendarai sejumlah traktor hias dengan mengenakan kostum Pandawa Lima dan tokoh pewayangan lain.

Seusai sambutan dari sejumlah pejabat, tarian kolosal Ceta Cetok Kuminyar Sabilulungan pun digelar. Tari tersebut dipertontonkan oleh sekitar 1.700 siswa SD hingga SMA se-Kabupaten Bandung dan beberapa daerah lain se-Jawa Barat.

Motor gede nyelonong

Setelah diikuti oleh atraksi dan pawai dari sejumlah pelaku seni dan komunitas kreatif lain, acara berikutnya yang menyedot perhatian pengunjung adalah polisi wanita bersepeda motor besar dari Polda Jabar dan Polres Bandung yang menamakan diri "Mojang Lodaya".

Tak seperti mojang-mojang lain yang berlenggak-lenggok di atas panggung, Mojang Lodaya justru beraksi di atas sepeda motor besar yang biasa mereka kendarai saat bertugas mengatur lalu lintas. Meskipun perempuan, para polwan tersebut membuat pengunjung kagum karena mampu melakukan sejumlah manuver ekstrim seperti berbelok zigzag serta berdiri di atas jok sambil memberi hormat kepada semua pengunjung.
 

Meskipun demikian, atraksi tersebut sempat diwarnai insiden kecil ketika salah seorang polwan terpeleset dan jatuh dari sepeda motornya. Beruntung, sang polwan tidak mengalami luka namun sepeda motornya melaju sendiri dan sempat menyenggol salah seorang pengunjung.

Pengunjung tersebut bernama Asri (43) asal Desa Parungserab Kecamatan Soreang itu sempat jatuh dan pingsan sesaat. Namun ia akhirnya mampu bangkit dan kembali menonton atraksi setelah diberi minum oleh rekannya.

"Tidak apa-apa, saya hanya kaget dan tidak mengalami luka serius. Saya tetap salut sama polwan-polwan pemberani yang beratraksi karena aksi mereka sangat berisiko. Sebagai sesama perempuan saya sangat bangga," tutur Asri.***

Bagikan: