Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 22.8 ° C

Selama 12 Tahun Langganan Banjir, Warga Berharap Normalisasi Citarum

Tim Pikiran Rakyat
WARGA Desa Tanggulun berharap proyek normalisasi Sungai Citarum bisa berlanjut.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA
WARGA Desa Tanggulun berharap proyek normalisasi Sungai Citarum bisa berlanjut.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA

SOREANG, (PR).- Lebih dari 12 tahun kawasan Desa Tanggulun Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung dengan luas wilayah 38 hektare rawan ancaman banjir dari luapan Sungai Citarum dan anak Sungai Gandok Ciraab serta saluran irigasi Cikaro. Kondisi tersebut yang terus berulang kali terjadi di Desa Tanggulun di saat memasuki musim hujan dan dikeluhkan masyarakat. 

Pjs Kepala Desa Tanggulun, Suhud Rachman mengatakan, terkait adanya riwayat Desa Tanggulun rawan ancaman banjir, pihaknya mewakili aspirasi masyarakat berharap kepada Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) untuk melanjutkan proyek pengerjaan normalisasi Sungai Citarum ke Desa Tanggulun. 

"Saat ini, pengerjaan normalisasi Sungai Citarum yang sudah berlangsung beberapa bulan terakhir ini, baru sampai jembatan Patrol Jalan Raya Laswi Majalaya. Kami berharap, BBWSC melanjutkan proyek normalisasi Sungai Citarum sampai ke Desa Tanggulun," harap Suhud didampingi Staf Desa Tanggulun Gin Gin Ginanjar, di Desa Tanggulun, Senin 12 Agustus 2019.
 
Menurut Suhud, masyarakat sudah menantikan dan merindukan adanya lanjutan pengerjaan proyek normalisasi Sungai Citarum. Normalisasi Sungai Citarum merupakan sebuah kebutuhan dalam upaya mengantisipasi ancaman banjir di saat memasuki musim hujan. 

"Sampai saat ini, pemerintah Desa Tanggulun belum mendapatkan informasi adanya wacana normalisasi Sungai Citarum memasuki kawasan Desa Tanggulun. Selama ini warga hanya bertanya kepada aparat desa, apakah pengerjaan normalisasi Sungai Citarum dilanjutkan sampai ke Desa Tanggulun setelah saat ini ada pengerjaan di kawasan Desa Majalaya," kata Suhud. 

Tinggi banjir 2 meter

Desa Tanggulun dan Desa Majalaya merupakan batas dua kecamatan, yakni Kecamatan Majalaya dan Ibun yang dilintasi aliran Sungai Citarum. "Setiap terjadi banjir, sekitar 1.200 kepala keluarga atau lebih dari 3.800 jiwa menjadi korban banjir karena rumahnya tergenang. Saat terjadi banjir terbesar pada 2016 silam, ketinggian genangan air mencapai 1-2,8 meter. Genangan air nyaris sampai atap rumah warga," jekasnya.

Dikatakannya, Desa Tanggulun yang merupakan desa terkecil luas wilayahnya di Kabupaten Bandung, hanya RT 03/RW 06 saja yang tak terkena genangan banjir luapan Sungai Citarum. "Umumnya, kawasan Desa Tanggulun tergenang banjir," ucapnya. 

Untuk meminimalisir ancaman banjir, Suhud berharap, BBWSC melanjutkan pengerukan atau normalisasi Sungai Citarum ke Desa Tanggulun. 

"Pengerjaan normalisasi Sungai Citarum tak hanya sampai jembatan Patrol Majalaya saja. Melainkan sampai Desa Tanggulun, untuk membahagiakan masyarakat Desa Tanggulun dalam upaya penanggulangan dampak banjir" katanya.

Upaya penanggulangan rawan banjir sudah dilaksanakan berbagai unsur, di antaranya jajaran TNI dari Sektor 3 Satgas Citarum Harum melaksanakan pengerukan/penyodetan Sungai Citarum yang masuk kawasan Desa Tanggulun sepanjang 1 km lebih. 

"Dampak positifnya sangat terasa oleh masyarakat, karena dapat mengurangi ancaman banjir selain itu menurunkan genangan air. Termasuk mempepercepat aliran air saat terjari genangan," paparnya. 

Namun setelah ada pengerjaan pengerukan itu, kata Suhud, harus ada pemeliharaan lanjutan karena banyak bantaran sungai yang erosi saat terjadi luapan air sungai.

"Bahkan ada di antara bantaran sungai yang longsor. Untuk mencegah terjadi erosi dan longsor pada bantaran sungai, harus ada normalisasi dengan dibarengi pembetonan pada bantaran sungai," ucapnya.

Ia mengatakan, pembetonan pada bantaran sungai itu untuk penguatan tanggul atau bantaran sungai. Mengingat disaat terjadi air sungai dengan debit yang besar, ada pergeseran aliran sungai dan pembentukan meander. Apalagi pada saat aliran sungai besar dan menghantam bantaran, sehingga menimbulkan erosi pada bantaran tersebut.

"Ada bagian badan aliran sungai yang mengecil karena terbentuknya meander.  Itulah terjadi pergeseran aliran badan sungai. Yang jelas, jika ada pengerjaan normalisasi Sungai Citaum, masyarakat Desa Tanggulun sangat menantikannya. Meski di dekat bantaran sungai ada sekitar 13 rumah, jika sewaktu-waktu bakal terkena proyek normalisasi," katanya kepada wartawan Galamedia, Engkos Kosasih.***

Bagikan: