Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 24.7 ° C

Jurig Runtah, Sulap Sampah Jadi Pot Bunga Unik

Handri Handriansyah
WISNU Suardaya (40), warga Kampung Sukarame, Desa Parungserab, Kecamatan Soreang menyulap sampah anorganik terpilah menjadi barang bernilai ekonomis lebih tinggi berupa pot bunga.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
WISNU Suardaya (40), warga Kampung Sukarame, Desa Parungserab, Kecamatan Soreang menyulap sampah anorganik terpilah menjadi barang bernilai ekonomis lebih tinggi berupa pot bunga.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

PERMASALAHAN sampah di Kabupaten Bandung hingga kini belum juga tuntas. Di sejumlah wilayah, tempat pembuangan sampah sementara (TPS) ilegal masih sering bermunculan meskipun berkali-kali Dinas Lingkungan Hidup melakukan operasi bersih.

Padahal, Pemkab Bandung sejak lama sudah menargetkan wilayahnya bebas dari sampah pada 2020 mendatang. Namun hingga kini, pola pikir dan kebiasaan buruk oknum masyarakat lah yang masih menjadi kendala terbesar.

Meskipun demikian, ternyata masih banyak warga Kabupaten Bandung juga peduli terhadap lingkungan terutama masalah persampahan. Salah seorang di antaranya adalah Wisnu Suardaya (40), warga Kampung Sukarame, Desa Parungserab, Kecamatan Soreang.

Di kalangan warga sekitar Parungserab dan Soreang, Wisnu lebih dikenal dengan panggilan akrab "Jurig Runtah" (hantu sampah). Hal itu tak lepas dari upaya tanpa pamrihnya dalam mengurangi sampah lingkungan sekitar.

Meski berawal dari kekesalan, ide kreatif pun muncul dari benak Wisnu ketika ia melihat tumpukan sampah di beberapa titik di wilayah Soreang. "Saya berpikir bagaimana mengurangi tumpukan sampah yang dikeluhkan oleh warga dan pemerintah," ucapnya Senin, 12 Agustus 2019.

Wisnu pun akhirnya memulai tekadnya itu dengan melakukan pemilahan sampah di sejumlah titik tumpukan. Namun tak sebatas menjual dalam bentuk mentah, kreatifitasnya membuat sampah anorganik terpilah disulap menjadi barang bernilai ekonomis lebih tinggi berupa pot bunga.

Tak sampai di situ, ide kreatif itu juga kini sudah ditularkan oleh Wisnu ke pegiat lingkungan di kecamatan lain. "Alhamdulillah sekarang pot bunga dari sampah ini sudah tersebar di banyak kecamatan di Kabupaten Bandung," ujarnya.

Wisnu menambahkan, sosialisasi ide kreatif itu tidak sulit diterima karena memang proses pembuatan pot bunga itu sendiri cukup mudah. Sampah anorganik yang bisa dijadikan bahan utama antara lain kardus, kain, baju, handuk, karung goni dan popok bekas.

"Awalnya saya mencampurkan kain bekas dengan adonan semen. Kemudian barulah modelnya dibentuk dan saya sengaja membuat yang berbeda dari pot bunga yang umum," kata Wisnu.

Ya, pot bunga dari sampah yang dibuat Wisnu memang tidak berbentuk simetris seperti pot bunga yang sudah banyak beredar di pasaran. Ia lebih memilih bentuk abstrak yang terlihat menyerupai rumpun, semak-semak atau tanaman hijau.

Bentuk itu ternyata membuat pot bunga buatan Wisnu justru menarik minat banyak pihak. "Alhamdulillah sejak awal banyak yang akhirnya terus memesan pot bunga ini," ucapnya.

Selain bentuknya yang unik, Wisnu pun melansir bahwa pot bunga buatannya lebih tahan terhadap kerusakan seperti patah atau retak. Namun hingga kini ia sama sekali tak pernah mematok harga bagi mereka yang meminati pot tersebut.

"Saya tidak menargetkan keuntungan dalam hal ini. Saya lebih ingin mengampanyekan bagaimana mengatasi masalah sampah sehingga justru menghasilkan nilai ekonomis," kata Wisnu.***

Bagikan: