Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Cerah berawan, 31.2 ° C

Tarif TMB Rp 1 untuk Penumpang Tertentu

Muhammad Fikry Mauludy
ILUSTRASI selter bus./ DOK.PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI selter bus./ DOK.PIKIRAN RAKYAT

BANDUNG, (PR).- Dinas Perhubungan Kota Bandung menerapkan tarif Rp 1 bagi veteran, disabilitas, buruh, dan guru honorer yang menggunakan bus Trans Metro Bandung (TMB). Tarif khusus ini menjadi salah satu upaya mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Tarif khusus bagi veteran, buruh, dan disabilitas itu berlaku setiap hari pada pukul 5.00-8.00 dan pukul 15.00-19.00 WIB. Di luar waktu tersebut tarif berlaku normal Rp 3.000. Veteran mendapat keistimewaan karena mendapat tarif Rp 1 selama 24 jam.

Tarif khusus juga diberlakukan untuk pelajar SD dan SMP di Kota Bandung senilai Rp 1.000. Tarif khusus untuk pelajar dan guru honorer berlaku pada pukul 5.00-7.00 WIB, 10.00-12.00 WIB, dan 15.00-18.00 WIB. Sementara di luar jam tersebut berlaku tarif normal sebesar Rp 3.000.

Penerapan tarif khusus itu berlaku permanen di seluruh koridor TMB, yakni koridor 1 jurusan Cibiru-Cibeureum, koridor 2 Cicaheum-Cibeureum, koridor 3 Cicaheum-Sarijadi, dan koridor 4 Leuwipanjang-Antapani. Untuk mendapatkan layanan itu, mereka harus mendaftar ke Kantor Dishub Kota Bandung Jalan SOR Gedebage.

Adapun publik yang berada di luar kelompok yang dikhususkan itu hanya mendapat potongan saat membayar menggunakan nontunai. Warga yang membayar tunai akan dikenakan tarif Rp 4.000, sementara pengguna nontunai diberi tarif Rp 3 ribu.

Selain tarif khusus itu juga dimulai penerapan sistem bayar nontunai untuk bus Bandung Tour on Bus (Bandros). Tarif Bandros tiada beda, tetap Rp 20 ribu. Hanya ada perubahan cara bayar menjadi nontunai.

Sistem nontunai pada TMB dan Bandros itu baru bisa menggunakan kartu bayar elektronik Brizzi yang disediakan Bank BRI. Dishub Kota Bandung membuka kemungkinan kerja sama dengan bank lain di masa mendatang.

Plh. Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengatakan, Pemkot Bandung tengah berupaya mengalihkan pengguna kendaraan pribadi agar memanfaatkan angkutan umum.

“Setidaknya dengan transaksi nontunai ini memudahkan publik, karena kalau harus kembalian juga sulit. Mudah-mudahan membuat orang terbiasa. Mudah-mudahan warga, pertama terbantu, dan mudah-mudahan beralih ke transportasi umum,” ujar Yana, seusai peluncuran tarif khusus tersebut, di Taman Dewi Sartika, Bandung, Kamis 8 Agustus 2019.

Meskipun terus menggencarkan penggunaan kendaraan umum, Pemkot Bandung belum akan menerapkan pembatasan kendaraan pribadi di jalanan Kota Bandung. Yana menjelaskan, penerapan ganjil-genap memerlukan koridor yang cukup panjang.

 “Karena Bandung kalau pasti diberlakukan, misalkan, Jalan Asia Afrika, kan itu pendek. Transportasi umumnya belum baik, kan belum bisa. Malah nanti jalan tikusnya yang beralih macet. Belum (akan diterapkan). Itu harus dikaji benar ya, ganjil-genap,” ujar Yana.

Kepala Dishub Kota Bandung Ricky Gustiadi berharap ke depan tidak ada lagi transaksi tunai. Target 5 tahun ke depan warga akan beralih menggunakan kendaraan umum sebesar 25%, sesuai harapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2018-2023.

Saat ini terdapat 40 bus TMB untuk kebutuhan 10 bus per koridor. Dishub mencatat rata-rata pengguna TMB mencapai 300 penumpang per hari, per 1 bus. Dishub menargetkan pendapatan Rp 5.5 miliar dari TMB, Bandros, dan bikesharing.

“Tahun kemarin Rp 2.5 miliar. Target dua kali lipat. (shelter) Nanti kita perbaiki sesuai dengan harapan masyarakat. Sambil berjalan, sampai akhir tahun ini ya,” ujar Ricky. ***

Bagikan: