Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Mau Hidup Mandiri, 2 Peserta PKH Ini Mengundurkan Diri 

Tim Pikiran Rakyat
PESERTA program keluarga harapan (PKH) yang sudah mandiri menyatakan mengundurkan diri.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA
PESERTA program keluarga harapan (PKH) yang sudah mandiri menyatakan mengundurkan diri.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA

SOREANG, (PR).- Ucu dan Ina Farlina, patut menjadi contoh. Ucu yang merupakan keluarga penerima manfaat program keluarga harapan (KPM PKH) Kohor 2009 mengundurkan diri dari kepesertaan PKH, Kamis 8 Agustus 2019.

Begitu juga dengan Ina Farlina KPM PKH Kohor 2018, dengan sukarela mengundurkan diri dari kepesertaan PKH. Kedua peserta PKH asal Kampung Neglasari RT 01/RW 05 Desa Mekarsari Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung ini sudah mampu hidup mandiri, setelah masing-masing memiliki usaha secara mandiri sehingga mereka mampu bersaing dalam perekonomian. 

Apa yang dilakukan Ucu maupun Ina Farlina ini bisa menjadi inspirasi bagi peserta PKH lainnya, setelah mampu hidup mandiri bisa mencontoh kedua KPM tersebut. Pasalnya, masih banyak warga lainnya yang perlu mendapatkan bantuan untuk perbaikan ekonominya sehari-hari. 

Kedua peserta KPM PKH itu dibawah Pendamping PKH Ida Hartini, S.Pdi. Sebelumnya, Ida telah melewati kegiatan  pendampingan praktik belajar lapangan (PBL) luar jaringan (Luring) pendidikan dan latihan (Diklat) pertemuan penguatan kemampuan keluarga (P2KP). Didampingi Ida, bahkan Pekerja Sosial (Peksos) Supervisor Kabupaten Bandung Irmawati sempat melakukan kunjungan ke lapangan untuk melihat usaha mandiri Ucu maupun Ina setelah menyatakan diri secara sukarela mundur dari KPM PKH. Langkah yang dilakukan Ucu dan Ina itu disambut positif oleh banyak pihak. 

Ucu mengaku, mengundurkan diri dari kepesertaan PKH karena sudah mampu dan hidup mandiri dengan memiliki usaha kain gorden dan wallpaper. 

"Usaha ini sudah lama dirintis oleh keluarga kami. Mulai dari pemasaran dengan cara keliling ke perkampungan, dipasarkan di pasar nonggeng yang lebih dikenal dengan pasar tumpah. Kemudian dipasarkan di pasar murah di berbagai tempat," aku Ucu dengan raut wajah yang ceria. 

Atas keberhasilan memiliki usaha barunya itu, Ucu mengaku sudah mampu menyewa toko sendiri untuk tempat usaha memasarkan gorden dan wallpaper. 

"Alhamdulillah dari usaha kami yang saat ini sedang dilaksanakan, bisa meraih penghasilan Rp 6 juta per bulan. Pendapatan itu sangat menguntungkan secara ekonomi  karena bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan tanpa harus menjadi peserta PKH. Makanya, saya keluar dari peserta PKH atas dasar keinginan sendiri," tuturnya. 

Bicara keberhasilan Ucu, demikian pula yang dialami Ina Farlina. Ina mengutarakan keberhasilan usahanya yang dimulai dari nol, setelah menjadi peserta PKH dan akhirnya menyatakan diri mundur dari kepesertaan tersebut.

"Keluarga kami hidup dari usaha menjadi pedagang keliling gorden. Mulai dari memasarkan gorden ke Kota Lampung, Jakarta, Bandung, dan kota-kota lainnya, setelah usaha itu kami tekuni bertahun-tahun," ucapnya kepada wartawan Galamedia, Engkos Kosasih.

Dengan berbekal ketekunan dan kerja keras, Ina mampu menyewa toko di Kota Depok untuk tempat usaha sehari-hari. "Hasil dari usaha berdagang, kami mampu membeli sebidang tanah dengan nilai aset Rp 200 juta. Sebagai bentuk rasa syukur kami, bisa membeli perabotan atau perkakas rumah tangga secara lengkap," jelasnya.
Atas keberhasilannya itu, Ina pun mengaku bersyukur. "Alhamdullilah sekarang kami bisa hidup mandiri. Semoga tetangga saya yang lain dapat mencontoh kemandirian saya," ujarnya dengan nada semangat. 

Contoh sukses yang dialami Ucu maupun Ina tersebut, menjadi motivasi bagi peserta PKH lainnya untuk hidup mandiri setelah menjadi KPM PKH. 
Di akhir pembicaraan, baik Ucu maupun Ina sama-sama mengucapkan terimakasih kepada pemerintah, di antaranya  Kementrian Sosial RI, Dinas Sosial, Pendamping PKH dan Peksos Supervisor yang selama ini telah memberikan perhatian kepada keluarga mereka.***

Bagikan: