Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 28.5 ° C

Saat Produk Bambu Jawa Barat Naik Kelas

Novianti Nurulliah
LAUNDHING produk Baju Baja di Aula Barat, Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu, 7 Agustus 2019.*/NOVIANTI NURULLIAH/PR
LAUNDHING produk Baju Baja di Aula Barat, Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu, 7 Agustus 2019.*/NOVIANTI NURULLIAH/PR

BANDUNG,(PR).- Setelah pembinaan selama enam bulan, para pengrajin dibawah binaan program Bambu Juara Bambu Jawa Barat (Baju Baja) mampu mengekspor jam tangan bambu dan bambu laminasi. Sebanyak 800 pieces jam tangan bambu telah dipesan oleh pedagang asal Manchester dan bambu laminasi oleh Korea Selatan.

Ketua Program Baju Baja Oki Hikmawan mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil sementara pembinaan yang mereka lakukan selama ini. Pihaknya terus mengembangkan potensi pengrajin bambu di Jabar. Setelah 25 desa diberdayakan dengan beragam pelatihan, sisanya akan dikebut sehingga ada 100 desa kreatif bambu di Jabar hingga akhir 2019 ini.

"Alhamdulillah atas dorongan Biro Perekonomian Setda Jabar, kami sudah mendapatkan ruang orderan. Pertama jam tangan bambu sudah dapat orderan 800 pieces dari Manchester, negara bagian kecil tapi potensi besar. Yang kedua, bambu laminasi ke Korea Selatan, ini potensial dari pengrajin yang baru kami latih dua kali," kata dia dalam lauching produk Baju Baja di Aula Barat, Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu, 7 Agustus 2019. 

Selain itu, pihaknya pun telah melakukan pemetaan atau zonasi pengrajin bambu beserta produknya. Oki menuturkan, Desa Amis Kabupaten Bandung misalnya, mereka siapkan untuk furnitur.

Desa Kujangsari, Kota Banjar, disiapkan untuk kitchen tools, serta Desa Muara Dua Kabupaten Sukabumi dan Karangmulya Kota Bekasi, untuk jam tangan. 

"Kami akan berikan zonasi kepada desa karena pendampingan harus dilakukan secara berkesinambungan. Karena bantuan modal usaha ini bukan bantuan cuma-cuma mereka harus kembalikan meski soft loan kapan mereka siap untuk mengembalikan," kata dia.

Bukan dari APBD

Lebih jauh, Oki menuturkan, program Baju Baja dari awal sampai akhir tidak ada irisan dengan APBD maupun APBN. Program tersebut murni inisiasi dari bawah LSM Hijau Lestari.

Yayasan Hijau Lestari Indonesia disuguhkan untuk Jabar juara lahir batin. Baju Baja adalah sebuah program peningkatan kearifan lokal karena pihaknya ingin bambu di Jabar ini naik kelas.

"Kami ingin mengembalikan iklim bambu yang 54 jenis itu ada dan hadir di Jabar. Saat ini banyak koridinasi dengan pak Wagub sebagai dewan pembina kami, begitu juga dengan biro perekonomian sebagai payung kami berinteraksi dan berproses dalam kegiatan bambu juara bambu Jabar. 17 Januari kami launching di aula barat, dan hari ini kami sudah melatih 25 desa dan 1 pesantren," kata dia.


Pihaknya telah membuktikan bisa berproses dan kegiatan tersebut murni dari bawah yang mereka angkat ke permukaan. "Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk Jabar juara lahir batin," ucapnya.
 
Dengan upaya yang mereka telah lakukan selama ini, Oki bersyukur dukungan dan bantuan  sudah terlihat. Di antaranya Dinas perindustrian dan Perdagangan sudah mulai mengangkat Baju Baja dalam banyak hal. Dinas Kehutanan juga sudah memberikan perajin ruang tanam di hutan daerah Kiarapayung seluas 25 hektare dan Cinyeureu di Cianjur seluas 10 hektare.

"Kami sudah siapkan MoU, siapkan lahan, pembibitan, dan MoU dengan DLH untuk penyemaian 18 jenis bambu langka di Taman Kahati Jatinangor. Jadi dari hulu ke hilir Baju Baja sudah berpikir konservasi, pemanfaatan, pengelolaan, produksi, promosi dan pemasaran," katanya.

Kabiro Perekonomian Jabar Taufik Garsadi menuturkan, produk pengrajin yang dibina oleh Baju Baja sudah dilirik juga oleh hotel maupun perusahaan.

Pihaknya mendukung pengembangan bambu karena melestarikan kebudayaan dan tradisi Jabar yang dikenal dengan sejumlah peralatan dapurnya dari bambu. Selain itu dari sisi konservasi bambu merupakan pohon yang bisa menahan tanah.***

Bagikan: