Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Bahaya Kekeringan Ancam Sebagian Besar Wilayah Jabar

Dewiyatini
KEKERINGAN melanda ribuan hektare sawah di Kabupaten Indramayu sehingga mengakibatkan puso. Akan tetapi, baru sedikit petani yang mengasuransikan lahannya.*/GELAR GANDARASA/PR
KEKERINGAN melanda ribuan hektare sawah di Kabupaten Indramayu sehingga mengakibatkan puso. Akan tetapi, baru sedikit petani yang mengasuransikan lahannya.*/GELAR GANDARASA/PR

BANDUNG,(PR).- Sebagian besar wilayah di Jawa Barat berstatus waspada hingga awas disebabkan rendahnya curah hujan. BMKG Jawa Barat menyatakan kondisi tersebut berpotensi bahaya kekeringan.

Kepala BMKG Jabar Tony Agus Wijaya menyebutkan bahaya kekeringan terjadi karena semakin berkurangnya ketersediaan di sumber-sumber air seperti sungai, danau, dan waduk.

"Ini akan mengakibatkan terjadinya krisis air bersih, meningkatnya potensi gagal panen, dan kenaikan harga komoditas pertanian," ujarnya pada Rabu 7 Agustus 2019.

Berdasarkan peta Monitoring Hari Tanpa Hujan Provinsi Jawa Barat yang diperbarui pada  31 Juli 2019, dan Peta Analisis Curah Hujan Dasarian III Juli 2019, serta peta prakiraan peluang curah hujan dasarian I Agustus 2019 Provinsi Jawa Barat, daerah yang berkategori awas adalah yang tidak hujan berturut-turut lebih dari 60 hari.

Tony menyebutkan sebagian besar wilayah di Jawa Barat tidak mendapatkan hujan. Tiga wilayah yang paling lama tidak mendapat hujan yaitu selama 105 hari berada di Kab. Indramayu. Ketiga wilayah tersebut antara lain Kec. Gantan, Kec. Cipancuh, dan Kec. Temiyang.

Kendati demikian, di beberapa daerah sudah mendapat curah hujan. Tony menyebutkan kurang dari 10% yang mendapatkan hujan. Itu pun dengan curah yang rendah 0-20 mm.

Di awal Agustus 2019, sedikitnya ada lima wilayah yang mendapat hujan dengan curah 10-20 mm. Lima daerah itu di antaranya Bogor barat bagian barat, sebagian kecil Ciamis, Pangandaran, Garut, dan Sumedang bagian selatan.

Sementara untuk kecepatan angin dan tinggi gelombang angin laut, dikatakan prakirawan BMKG Ryan Putra Pambudi, terjadi pola sirkulasi Eddy di Samudera Pasifik Papua. Sedangkan pola angin bertiup dari timur ke selatan dengan kecepatan antara 5-25 knot.

Kecepatan angin paling tinggi, kata Ryan, terjadi di perairan selatan Banten, Laut Sulawesi bagian timur, perairan Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, Pulau Halmahera, Laut Maluku bagian utara dan Laut Halmahera.

Ia meyebutkan kapal-kapal yang akan berlayar dapat mengikuti imbauan dari BMKG demi keselamatannya. Untuk kapal nelayan, berhati-hati terhadap kecepatan angin di atas 15 knot dan gelombang tinggi di atas 1,25 meter. Sedangkan kapal tongkang terhadap kecepatan angin di atas 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter.

Untuk kapal Ferry mesti berhati-hati pada kecepatan angin di atas 21 knot dan gelombang tinggi di atas 2,5 meter. Terakhir untuk kapal besar seperti kargo dan pesiar, mewaspadai kecepatan angin di atas 12 knot dan gelombang tinggi di atas 4 meter.***

Bagikan: