Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 27.9 ° C

Ratusan Warga Cikole Doa Bersama untuk Gunung Tangkubanparahu

Hendro Susilo Husodo
HENDRO SUSILO HUSODO/PR
HENDRO SUSILO HUSODO/PR

NGAMPRAH, (PR).- Ratusan warga dan pedagang melakukan doa bersama di depan gerbang masuk Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 5 Agustus 2019. Selain untuk keselamatan, mereka berdoa agar kondisi Gunung Tangkubanparahu dapat normal kembali.

Menurut Ketua RW 6 Desa Cikole, Ishak Geri, aktivitas Gunung Tangkubanparahu yang erupsi selama beberapa hari terakhir ini membuat sebagian warga Cikole resah. Apalagi, dari sekitar 1.200 pedagang yang beraktivitas di sekitar Gunung Tangkubanparahu, sebagian besar merupakan warga Cikole.

"Ya kalau pedagang sih ingin gunung bisa secepatnya normal kembali, jadi kami bisa aktivitas lagi. Kami ingin gunung aman, pedagang nyaman berdagang. Soalnya, hampir seluruh pedagang di sini dari Cikole. Seminggu saja enggak jualan, ya lumayan (kehilangan pendapatan)," kata Ishak, seusai doa bersama.

Meski begitu, dia mengatakan, warga tak ingin memaksakan berdagang di sekitar kawah jika kondisinya masih membahayakan. "Untuk masalah kebencanaan, kami mengikuti saja arahan dari petugas yang berwenang. Mudah-mudahan Gunung Tangkubanparahu biasa lagi," katanya.

Menyebar

Seorang pedagang asal Cikole, Diki (35) mengatakan bahwa para pedagang yang biasa berjualan di sekitar kawah kini berpencar di tempat-tempat wisata di Lembang. Soalnya, kata dia, banyak pedagang yang hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan di Tangkubanparahu. 

"Kalau tidak berdagang, ya enggak ada pemasukan. Teman-teman juga banyak yang pindah, hampir di tiap lokasi wisata ada pedagang kawah. Kalau saya sih di sini saja, enggak ikut nyebar ke tempat lain. Capek bawa barang-barangnya," kata Diki, yang berjualan di depan gerbang masuk TWA Gunung Tangkubanparahu.

Dia mengaku, pengelola TWA Gunung Tangkubanparahu sebetulnya tidak membolehkan berjualan di tempat yang saat ini dia pakai. Akan tetapi, dengan kondisi yang seperti ini, dia berharap seluruh pihak dapat saling memaklumi.

"Karena enggak ada pemasukan, saya sudah lima hari berjualan di sini. Seharusnya sehari-hari di sini enggak boleh dipakai berjualan. Ini karena terpaksa saja. Pengelola juga mungkin mengerti," kata pedagang sekaligus pengrajin mainan boneka itu.***

Bagikan: