Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Kasus Korupsi Lahan Cibeureum, Itoc Tochija Diduga Memaksakan Proyek

Yedi Supriadi
MANTAN Wali Kota Cimahi, Itoc Tochija (tengah) saat menjalani sidang perkara dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan APBD Perubahan Kota Cimahi 2006 dan APBD 2017  di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Senin, 11 Maret 2019 lalu.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
MANTAN Wali Kota Cimahi, Itoc Tochija (tengah) saat menjalani sidang perkara dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan APBD Perubahan Kota Cimahi 2006 dan APBD 2017 di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Senin, 11 Maret 2019 lalu.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG, (PR).- Mantan Walikota Cimahi Itoc Tochija diduga telah mengetahui bahwa tanah Cibeureum yang akan dijadikan pusat perbelanjaan tersebut telah bermasalah mengenai kepemilikannya. Namun saat itu Itoc tetap memaksakan agar proyek tersebut berjalan dengan cara menggelontorkan dana APBD Cimahi dalam bentuk penyertaan modal kepada PT Jati Mandiri.

Demikian hal tersebut terungkap dalam sidang lanjutan kasus korupsi lahan Cibeureum yang digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin, 5 Agustus 2019.
Dalam sidang tersebut menghadirkan Ketua DPRD Achmad Gunawan, mantan pimpinan dewan Jumena.

Dalam sidang tersebut Ketua DPRD dan Jumena dicecar pertanyaan seputar penganggaran dan pembahasan Perda penyertaan modal yang tertulis dalam Perda No. 11 tahun 2006.

Jaksa dan hakim menanyakan mengenai penyertaan modal yang tertulis dalam APBD sebesar Rp 87 miliar. Anggaran tersebut di cairkan dengan beberapa termin. pertama 27 miliar dan kedua 15 miliar.

"Pada anggaran pertama terlihat ada progres  namun pada pencairan termen kedua tiga ada progres makanya DPRD langsung menghentikan," ujar Achmad Gunawan.

Dalam sidang tersebut juga dipertanyakan mengenai klausul peminjaman modal dan penyertaan modal. pasalnya, menurut jaksa, awalnya peminjaman modal tapi akhirnya malah penyertaan modal.

Sementara saksi Jumena mengaku bahwa Itoc mengetahui tanah tersebut bermasalah. Namun meski begitu proses penyertaan modal tersebut terus berlanjut. "Proyek itu terbengkalai karena tanah bermasalah, Pak Itoc mengetahuinya," ujarnya.

Pernyataan itu langsung dibantah oleh Itoc bahwa dirinya tidak mengetahui tanah pasar cibeureum itu bermasalah. "Saya keberatan pernyataan Pak Jumena bahwa saya mengetahui dari awal tanah Cibeureum bermasalah, justru saya mengetahui bermasalah dari Pak Jumena," ujarnya.

Itoc pun menyebutkan bahwa dewan pun mengetahui dari awal pasalnya anak buah Itoc bolak balik ke dewan membahas pwnyertaan modal tersebut. Usai pemeriksaan saksi sidang diundur dan kembali digelar pekan depan untuk memeriksa saksi berikutnya.

Seperti diketahui mantan walikota cimahi, Itoc terseret bersama Idris Ismail yang mengaku selaku pemilik lahan sekaligus rekanan pada kerjasama pembangunan Cibeureum, serta Ajang Sujana, mantan Direktur Utama PDJM. Dalam perkara ini, sejak didirikan, PDJM sedikitnya telah menerima penyertaan modal lebih dari Rp 50 miliar.

Penyertaan modal ke PDJM salah satunya diinvestasikan untuk pembangunan Pasar Raya Cibeureum (PRC) dan pembangunan sub terminal bekerjasama dengan PT. Lingga Buana Wisesa (LBW).

Saat pembangunan PRC tahun 2006, direncanakan total penyertaan modal sekitar Rp 87 miliar yang disertakan bertahap, pada tahun ke 1-2 nilai penyertaan modal kurang lebih Rp 42 miliar.

Landasan hukum untuk pembentukan PDJM oleh Pemkot Cimahi sesuai Perda No. 10/2006 dan penyertaan modal daerah ke PDJM sesuai Perda No. 11/2006. Proyek PRC mengalami pergantian konsep bernama Bandung-Cimahi Junction, hingga menjadi Pusat Niaga Cimahi (PNC).

Lahan yang dikelola PDJM seluas 16.000 m2 diharapkan menjadi ikon pusat perekonomian modern kota Cimahi. Namun, pembangunan PNC tak kunjung berlangsung karena banyak tersandung kasus hukum.

Kerugian negara akibat kasus tersebut mencapai Rp 37. 487.650.273.000, sudah dikembalikan ke negara Rp 5.250.000.000 berasal dari saksi yang menyerahkan ke Kejari Cimahi.***

Bagikan: