Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Cerah, 28.3 ° C

Pergerakan Lempeng Indo-Australia Masih Menyimpan Energi yang Belum Terlepaskan

Muhammad Fikry Mauludy
MANTAN Kelapa Bandan geologi Kementrian ESDM Surono (mbah Rono) menyampaikan pemaparannya saat mejadi pembicara di acara Ngobrol Serius Kebencanaan di Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Dago, Kota Bandung, Sabtu, 3 Agustus 2019. Surono menyampaikan pentingnya edukasi mitigasi kebencanaan kepada masyarakatm terutama di daerah yang rawan bencana untuk mengurangi resiko korban terdampak bencana yang lebih besar.*/ADE MAMAD/\PR
MANTAN Kelapa Bandan geologi Kementrian ESDM Surono (mbah Rono) menyampaikan pemaparannya saat mejadi pembicara di acara Ngobrol Serius Kebencanaan di Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Dago, Kota Bandung, Sabtu, 3 Agustus 2019. Surono menyampaikan pentingnya edukasi mitigasi kebencanaan kepada masyarakatm terutama di daerah yang rawan bencana untuk mengurangi resiko korban terdampak bencana yang lebih besar.*/ADE MAMAD/\PR

BANDUNG, (PR).- Gempa bumi yang dipicu pergerakan lempeng Indo-Australia kemarin masih akan terjadi. Lempeng yang memanjang dari barat hingga selatan Indonesia itu masih menyimpan energi yang belum terlepaskan.

Peneliti Bandung Mitigasi HUB Heri Andreas menuturkan, melalui perangkat yang disajikan Global Geodetic Observing System telah diperoleh data hasil monitoring yang mampu mengukur seberapa kuat sebuah gempa, lokasi, dan energi yang tersimpan. Di Indonesia, masih banyak tersimpan energi besar yang belum terlepaskan.

“Yang belum rilis yang besar-besar itu, salah satunya selatan itu Palabuhan Ratu. Ada datanya. Pangandaran itu udah rilis. Parangtritis belum. Banyuwangi udah rilis. Bali, belum. Bali besar energinya,” ujar Heri, dalam acara Ngobrol Serius Kebencanaan, di Tahura Ir.H. Djuanda, Bandung, Sabtu, 3 Agustus 2019.

Ia menjelaskan, sisa energi dari gempa yang terjadi berdasarkan hasil hitungan para ahli. Semisal, Bali seharusnya menyimpan potensi gempa dengan magnitudo 8. Tetapi gempa terakhir muncul dengan magnitudo lebih kecil.

Jika terjadi lagi, Bali bisa merilis tiga kali gempa dengan magnitudo masing-masing 5, dengan waktu yang berbeda. Heri menambahkan, hitungan kekuatan gempa bukan menggunakan pola matematis, karena ada perhitungan energinya.

“Berarti masih ada sisa energinya. Masih ada di situ. Apakah akan terjadi, hukum alamnya itu harus terjadi. Kalau sekarang 6.9, (prediksi) 8.8 sudah lewat. Bisa (tersisa) 8 atau sisa magnitudo 7,” ujar Heri, yang juga Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB itu.

Mitigasi penting karena bencana pasti terjadi

Publik harus menerima jika perhitungan itu bakal terjadi. Gempa di Palu dan sejumlah lokasi lain sudah diketahui lama. Meskipun tidak diketahui kapan akan terjadi.

“Apa yang akan terjadi itu harus terjadi. Di Palabuhan Ratu kita berharap dicicil. (Kemarin magnitudo) 7.4. jadi 6.9, direvisi. Perhitungan ahli bisa 8.8. Berarti nanti ada lagi. Makanya kita berusaha melalui mitigasi,” tuturnya.

Terkait Sesar Lembang, kata Heri, sejumlah ahli belum mengetahui kekuatan gempanya karena data belum valid. Dibutuhkan monitoring rapat untuk dapat menangkap data terkait potensi energi yang bisa dirilis patahan yang bisa menyasar Kota Bandung itu.

“Jadi di Sesar Lembang itu harusnya ada 100 titik monitoring. Sekarang cuma dua, satunya bermasalah yang di Boscha itu. Jadi baru menyimpulkan, aktif. Satu alat bisa membutuhkan dana hingga Rp 500 juta, belum biaya perawatan,” ujarnya.

Mantan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Surono, menuturkan, 148 juta warga Indonesia bermukim di kawasan rawan bencana merupakan yang tertinggi di dunia. Pelepasan energi gempa belakangan ini adalah keniscayaan tatanan geologi Indonesia.

“Tidak ada hal yang aneh. Seperti Tangkuban Parahu meletusnya begitu-begitu saja, dari mulai abad 19 letusannya seperti itu. Terakhir 2013 letusannya freatik begitu saja,” katanya.

Yang perlu dikhawatirkan adalah kesiapan warga. Pada erupsi freatik Tangkuban Parahu kemarin, warga tetap panik, meskipun kejadian serupa pernah dialami pada 2013. Kepanikan warga itu yang bakal menjadi bencana karena ketidaksiapan evakuasi.

“Jadi memang yang harus diperkuat pendidikan mitigasi masyarakat. Harus jujur diungkap ke masyarakat, bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, memprovokasi, merugikan yang menyangkut ekonomi di sekitar gunung api tersebut. Ini meningkat agar supaya semua masyarakat itu waspada dan bersiap evakuasi dengan aman,” ujarnya.***

Bagikan: