Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Peserta NSD Temui Korban Penggusuran di Tamansari

Catur Ratna Wulandari
PESERTA Nusantara School of Differences (NSD) dari lima negara mengunjungi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur.*/DOK. NSD 2019
PESERTA Nusantara School of Differences (NSD) dari lima negara mengunjungi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur.*/DOK. NSD 2019

BANDUNG, (PR).- Peserta Nusantara School of Differences (NSD) dari lima negara mengunjungi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur untuk melihat lebih dekat hubungan kelompok minoritas dan mayoritas. Lewat perjumpaan secara langsung diharapkan mampu mengikis kecurigaan dan membangun persaudaraan antarbangsa.

NSD merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh  Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) dari Communities Engage with Difference and Religion) (CEDAR). Kegiatan kali ini merupakan penyelenggaraaan kedua dengan tema "Mempelajari Hubungan Minoritas-Mayoritas di Kepulauan Indonesia".

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari Aceh, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan NTT. Peserta dari luar negeri datang dari Moldova, Kyrgysztan, Vietnam, dan Amerika Serikat. 

Direktur IRGSC Elcid Li mengatakan, konflik berlatar agama kerap dianggap menjadi ancaman untuk keutuhan Republik Indonesia. Konteks konflik ini tak hanya menjadi persoalan dalam negara, tetapi telah menjadi persoalan transnasional.

“Di tengah arus  informasi yang begitu padat, orang mudah salah paham, dengan silaturahmi ini semangat persaudaraan Nusantara dibangkitkan, hanya dengan berkenalan dan berbagi pengalaman upaya menjadi Indonesia tidak hanya sekadar teks, tetapi menjadi bagian dari hidup sehari-hari, dan kunjungan ini tidak mungkin terlaksana tanpa budi baik para saudara yang ada di Jawa Barat yang membantu dengan tulus,” kata Elcid melalui siaran pers yang diterima Kamis 1 Agustus 2019 malam.

NSD mulai digelar pada Sabtu (27/7/2019) sampai Sabtu (10/8/2019). Kegiatan ini dilakukan di beberapa tempat. Diawali di Jakarta, kemudian, Bandung dan Kuningan, Jawa Barat, lalu Kupang, NTT.

Sunda Wiwitan

Di Bandung, peserta NSD diajak bertemu dan belajar langsung dari warga yang melawan stigma HIV-AIDS, bertemu warga korban penggusuran di Tamansari, serta menginterpretasikan ulang Konferensi Asia Afrika dalam konteks kontemporer. 

Dari Bandung, peserta bertolak ke Kuningan untuk berdialog dengan masyarakat Sunda Wiwitan di Cigugur dan jemaah Ahmadiyah di Manis Lor. Selain itu, peserta juga berkunjung ke Komunitas Gereja Katolik, Paroki Kristus Raja, Kuningan. Gereja ini menyelenggarakan Misa dan musik liturgi dalam bahasa Sunda sebagai cara untuk memberikan ruang kepada Budaya untuk bertumbuh.

“Saya sangat bersemangat mengikuti pertemuan ini di Jawa Barat, meskipun karena waktunya amat pendek, keinginan untuk berdialog dengan warga biasa masih sangat terbatas. Saya berharap bisa tinggal lebih lama untuk belajar," kata peserta NSD, dosen UIN Arr Raniri Banda Aceh Rosnida Sari.

Peserta dari Kyrgztan, antropolog dari American University of Central Asia di Bishkek, Emil Natridinov mengaku terpukau dengan keragaman budaya lokal dan kelompok sosial yang ada di Indonesia. “Saya belajar banyak tentang masyarakat Indonesia dan persoalan yang kompleks yang melingkupi hubungan antara kelompok-kelompok minoritas dan mayoritas," katanya.  

Saat didirikan pada 2016, NSD mendapatkan dukungan dari berbagai pihak diantaranya dari Keuskupan Agung Kupang, MUI (Majelis Ulama Indonesia) NTT, dan Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). NSD bertujuan mempelajari budaya lokal yang seharusnya menjadi jati diri agar tak pupus di tengah gelombang arus informasi yang berkelindan dengan kekuatan modal. Pemahaman ini diharapkan mampu menghindari konflik antarwarga dengan identitas yang berbeda yang menjadi persoalan bangsa saat ini.

Pangeran Gumira dari Sunda Wiwitan mengingatkan pentingnya kembali ke filosofi budaya lokal. Budaya lokal Sunda Wiwitan mengajarkan, kebijakan untuk warga haruslah mengedepankan kebijaksanaan, ketimbang kekerasan.

“Melalui Nusantara School of Different, saya mendapatkan suatu kesadaran  bahwa perjumpaan dengan orang lain yang berbeda dapat menepis suatu kecurigaan, menghilangkan batas tanpa kehilangan identitas diri,” kata Merry Kosapilawan, seorang pendeta pendeta GMIT.

Para peserta menuju ke Kupang, NTT pada Jumat (2/8/2019). Di sana mereka akan belajar bersama komunitas Muslim Kupang di Lasiana, mengunjungi situs Kota Tua Kupang, bertemu dengan Komunitas Film Kupang, serta beberapa komunitas lainnya.***

Bagikan: