Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Cerah, 28.3 ° C

Manfaat Penggunaan Besek untuk Daging Kurban Selain Mengurangi Sampah

Novianti Nurulliah
PEDAGANG menunjukkan wadah besek bambu yang dia jual di Pasar Jaya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis, 1 Agustus 2019.*/ANTARA
PEDAGANG menunjukkan wadah besek bambu yang dia jual di Pasar Jaya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis, 1 Agustus 2019.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Imbauan untuk tidak menggunakan kantong kresek pada pembagian hewan kurban jangan hanya dipandang sebagai upaya untuk mengurangi sampah plastik saja. Rupanya ada nilai positif lainnya, yaitu penggunaan besek maupun daun dapat menghambat pertumbuhan bakteri daging.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jabar, drh. Pranyata Tangguh Waskita mengatakan, besek bambu bisa menghambat pertumbuhan bakteri.

"Tuhan telah menciptakan kelebihan tanaman masing-masing ada yang buat antibiotik, herbal, dan bambu ini dianalisa ahli tanaman punya stuktur yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri. Bukan tanpa sebab, nenek moyang kita juga sudah pakai bambu meski tidak tahu soal itu tapi trial dan error dan ternyata ditetili ahli tumbuhan bisa menahan pertumbuhan bakteri," kata dia dalam kegiatan Jabar Punya Informasi (Japri) di Lobi Museum Gedung Sate, Jalan Cimandiri, Kota Bandung, Kamis, 1 Agustus 2019.

Menurut dia, penggunaan besek memiliki keunggulan dibanding kantong plastik. Besek memiliki ruang pori-pori yang cukup lebar ketimbang plastik. Daging yang dibungkus plastik kemungkinan cepat pertumbuhan bakterinya akan lebih cepat terutama bakteri anaerobnya.

"Apalagi kalau plastiknya ditali makin tumbuh makin cepet bahaya," kata dia.

Selain itu, dengan adanya pori-pori dalam besek maka suhunya akan berbeda dengan daging yang ada dalam kantong plastik. Jika suhu lebih panas maka pertumbuhan bakteri pun terpancing, sedangkan besek memiliki sirkulasi.

Menurut dia, sifat bambu ini sama dengan daun pisang maupun daun jati yang sama-sama memiliki struktur penghambat pertumbuhan bakteri. Namun dia mengingatkan, usia daging yang bagus itu kurang dari 4 jam. Jika sudah empat jam kualitas daging akan menurun. 

"Kalau mau disimpan lebih dari empat jam harus segera dimasukkan pada lemari pembeku karena dengan suhu rendah, pertumbuhan bakteri akan terhambat," ujar dia.

Lebih jauh, Pranyata pun mengatakan, daging itu merupakan sumber protein tinggi yang disukai oleh bakteri. Dengan demikian bakteri cepat tumbuh. Dengan demikian, pada momentum kurban nanti, penanganan daging harus benar dan lebih cepat agar masyarakat dapat menerima daging kurban dengan kualitas yang baik.

"Bakteri itu mendegradasi protein daging. Bakteri bagian dari pembusukan daging, jadi asam karena protein terdegradasi. Kan bau daging itu khas apalagi yang punya kepekaan tertentu kalau bau itu otomatis sudah tidak sehat, apalagi kalau daging menghitam itu ada sesuatu ada proses kelayuan, yang segar itu merah daging," ujar dia.

Pihaknya pun pada saat kurban nanti ikut memantau proses penyembelihan maupun proses pascapenyembelihan.

"Penyembelihan dengan cara halal, gunakan pisau terstandar,bisa motong tiga saluran terpotong yaitu saluraqn nafas, pencernaan dan pembuluh darah dengan begitu dalam waktu besamaan darah dan oksigen terputus dan hewan dalam keadaan mati sangat tenang," kata dia.

Kemudian penggantungan untuk mengeluarkan darah maksimal 30 menit kemudian pembukaan kulit, jeroan, thorax, esofagus dann anus dipisahkan. Kemudian pemisahan karkas yaitu bagian hewan minus kepala, tulang, dan jeroan. Jadi daging saja.

"Kita bagi-bagi sesuai kebutuhan dan dibagi di tempat yang bersih tidak ada kontaminasi kemudian dibagikan pada warga pake besek atau plastik bening, 4 jam dari penyembelihan maksimal bisa sampai ke warga," ucap dia.***

Bagikan: